Bangun Perusahaan Pertama di Usia 8 Tahun, Ini Sosok Maya Penn

Memulai bisnis di usia muda memang bukan hal baru di kalangan usahawan. Tapi, membangun perusahaan pertama di usia 8 tahun seperti Maya Penn rasanya pantas dinilai luar biasa.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Januari 2019  |  12:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Memulai bisnis di usia muda memang bukan hal baru di kalangan usahawan. Tapi, membangun perusahaan pertama di usia 8 tahun seperti Maya Penn rasanya pantas dinilai luar biasa.

Tak seperti gadis kecil pada umumnya, Maya sudah mampu mengenali mimpi-mimpi sekaligus mewujudkannya menjadi nyata. Ia baru berusia 8 tahun ketika mendirikan “Maya's Ideas”, sebuah situs web untuk menjual pakaian dan aksesoris yang ramah lingkungan seperti syal, topi, dan jepit rambut.

Bisnis ini diawali dengan hobinya menjahit ikat kepala dan permintaan dari teman-teman sebayanya agar Maya membuatkan ikat kepala seperti yang sering dipakainya.

Awalnya Maya menjual karya-karyanya di sebuah situs web yang khusus menjual barang-barang buatan tangan, tetapi sekonyong-konyong ia memiliki ide untuk dapat membangun mereknya sendiri.

Idenya terbukti bukan sembarang ide. Maya's Ideas mampu menghasilkan lebih dari US$30.000 pada tahun 2012, empat tahun sejak didirikannya.

Sejak itu, “Maya's Idea's” telah menghasilkan lebih dari US$50.000 dolar laba setiap tahun, dan 10% hingga 20% dari apa yang dihasilkan Maya didonasikan untuk organisasi-organisasi amal.

Kiprahnya tak hanya sebagai pengusaha muda dan pekerja seni saja lho. Maya Penn juga dikenal sebagai seorang penulis, animator, programmer komputer dan segudang kemampuan menginspirasi untuk menjadikan dunia masa depan lebih baik.

Homeschooling

Lahir pada 10 Februari 2000, Maya Shea Penn adalah anak satu-satunya pasangan John dan Deidre Penn. Ia tinggal di Atlanta, Georgia bersama ibu dan ayahnya, serta beberapa kucing dan anjing. Orangtuanya memilih mendidik sang putri tercinta di rumah (homeschooling) secara kolektif.

Dalam sebuah wawancara, sang Ibu menjelaskan bahwa mereka ingin melatih Maya untuk mandiri. Meski memberikan pendidikan di rumah, Maya dibesarkan untuk membuat keputusan sendiri di usia yang sangat muda.

“Ibuku terutama selalu benar-benar mendorongku untuk melakukan apa yang aku sukai. Ayah juga membawaku menemukan hal-hal yang aku sukai,” ungkap Maya, seperti dikutip Tech Republic.

Sejak belajar cara menggambar, Maya tidak ragu untuk membuat ide-idenya menjadi nyata. Dia baru berusia tiga tahun ketika mulai membuat flip book, yakni buku dengan serangkaian gambar beragam dari satu halaman ke halaman lain.

Semua jenis seni membuatnya terpesona. Ketika dia melihat bagaimana kartun dibuat oleh seorang animator, dia langsung menyadari itu yang ingin dilakukannya untuk jangka panjang.

Selain seni, Maya juga memiliki kecintaan pada teknologi. Ketika ia baru berusia empat tahun, sang ayah mengajarinya untuk membongkar sebuah komputer dan memasangnya kembali. Maya pun terkagum-kagum karena belum pernah melihat wujud sebenarnya perangkat teknologi atau apa yang membentuknya.

Maya's Ideas

Dengan otak yang sangat encer, Maya otomatis tidak bisa duduk diam tak melakukan apa-apa. Pikirannya terlalu penuh akan ide. Suatu kali, dia melihat secarik kain tak terpakai di ruang tamu dan menyukai motifnya, seperti dilansir dari The Extraordinary.

Kain itu dilihatnya akan bagus sekali diubah menjadi ikat kepala yang modis. Untung saja ibunya sudah mengajarinya cara menjahit. Dengan menggunakan mesin jahit sang Ibu, Maya menjahitnya menjadi ikat kepala yang dihiasi pita.

Kreasinya kemudian dikenakan di luar rumah dan sontak menerima pujian dari orang-orang sekitar. Mereka kagum mengetahui jika ikat kepala itu adalah hasil karya Maya sendiri. Permintaan pun berdatangan untuk Maya agar membuat lebih banyak ikat kepala dan menjualnya.

Dari saran-saran itu muncullah pemikiran mendirikan “Maya's Ideas”. Dia juga membuat situs web sendiri dan menautkannya dengan sebuah web e-commerce. Terang saja jika kemudian ia mendapatkan pembeli tak hanya dari lingkungan rumahnya tetapi juga dari seluruh dunia.

Apa yang membuat produk-produknya unik terletak pada misi positif di dalamnya yang ramah lingkungan. Dengan menjadi wirausahawan yang sadar lingkungan, Maya benar-benar berharap dapat membuat perbedaan.

Maya mengetahui banyak merek terkenal bersalah karena menggunakan bahan-bahan pewarna berbahaya dalam produk-produk mereka. Lantaran keprihatinan ini, Maya bertekad untuk hanya membuat produk yang ramah lingkungan.

“Aku menggunakan pewarna buah-buahan dan sayuran alami dan teh herbal untuk mewarnai syal dan T-shirt, aku menggunakan bahan-bahan seperti goni organik, 100% katun organik, rami, tencel, sutra berseni (bukan benar-benar sutra, tetapi campuran rayon dan kapas), dan bulu, serta bahan daur ulang dan vintage dalam menciptakan pakaian dan aksesoris,” jelasnya, dikutip dari Inhabitots.

Karyanya dirancang sendiri, semuanya berdasarkan pesanan. Selain membuat produk ramah lingkungan, Maya juga memiliki komitmen mulia menyalurkan apa yang sudah ia terima untuk sesama.

Ia menyisihkan 10% hingga 20% dari pendapatannya untuk diberikan kepada organisasi-organisasi amal, bahkan mendirikan organisasi nirlaba sendiri, yang ia beri nama “Maya's Ideas 4 the Planet”.

Animasi dan Coding

Teknologi jelas merupakan bidang lain yang disukainya. Ia pernah berbicara dalam diskusi TED di event TEDWomen 2013 tentang menjadi pengusaha wanita muda. Ini adalah tampilan pertamanya di panggung besar.

Diskusi itu menarik sekitar satu juta viewers di situs web TED. Sejak itu Maya telah diminta sebagai pembicara dalam banyak acara sejenisnya.

Ia memanfaatkan kesempatan dalam TED untuk melakukan debut pendek animasi pertamanya, "Malicious Dishes”, sebuah serial animasi tentang virus komputer.

Idenya muncul beberapa tahun sebelumnya ketika mendapati virus di dalam komputernya. Saat sedang menunggu program antivirus untuk menyelesaikan pemindaian, dia memiliki ide untuk memberi 'kepribadian' pada virus di komputernya.

Maya kemudian membuat animasi tentang kisah-kisah virus ini, yang melakukan perjalanan antah-berantah melalui drive USB di dunia komputer yang tidak disadari manusia.

Seolah itu belum cukup, Maya juga menggambarkan dirinya seorang programmer komputer yang gemar melakukan coding. Dia membuat coding situs web pertama perusahaannya sendiri dengan mempelajari HTML dasar saat berusia 10 tahun.

“Ketertarikanku pada coding dipacu dari perusahaan ini. Saat itu aku sedang mencoba untuk mendapatkan situs web yang lebih profesional. Lalu aku bertanya-tanya bagaimana cara membangun situs web dari awal,” paparnya.

Pengakuan Pengusaha Muda

Kini berusia 18 tahun, tak perlu diragukan bahwa gadis ini akan kian melangkah lebih jauh. Sebelum menjadi remaja saja, sosok Maya sudah diincar oleh media-media besar seperti TED, CNN, Forbes, Ebony, Huffington Post, dan CNN.

Namanya telah menggema bahkan sebelum dia berusia tiga belas tahun, di antaranya mendapat apresiasi sebagai seorang pengusaha dalam “33rd Annual Drum Major for Justice Awards” untuk kategori anak muda oleh SCLC Women pada 2009.

Pada 2013, ia memenangkan “Black Enterprise Teenpreneur of the Year Award” dan juga masuk dalam “Little Pink Book Spring into Ownership Panel.”

Pengakuan publik pertama untuk Maya datang dari majalah bisnis terkemuka Forbes, yang menamainya salah satu dari “Notable Grade School Entrepreneurs” ketika ia baru berusia 10 tahun.

Maya juga pernah menerima pujian dari Presiden AS Barack Obama untuk pencapaiannya yang luar biasa dalam hal pengelolaan lingkungan. Pada awal 2016, selama pemerintahan Obama, Maya membuat sejarah ketika dia memproduksi dan menciptakan animasi dan film untuk laporan digital pertama yang disajikan kepada Kongres.

Salah satu pengakuan terkini bagi Maya adalah terpilih sebagai wirausahawan, pembuat perubahan, dan pemimpin pemikiran berusia paling muda dalam daftar “Supersoul 100” besutan tokoh media ternama asal Amerika Serikat, Oprah Winfrey.

Jika mungkin di antara kalian ada yang berpendapat bahwa Maya sebenarnya telah kehilangan masa kecil indah yang menyenangkan, dengarkan dulu apa yang disampaikannya berikut ini.

“Manfaat dari memulai sesuatu di usia muda adalah kamu belajar dan mengalami hal-hal di usia dini yang akan membantu kamu di masa depan, termasuk bagaimana mengelola uang kamu,” terang Maya, dikutip Doers.

“Pengusaha muda juga memiliki lebih sedikit 'penghambat kreativitas'. Jadi kamu dapat berpikiran terbuka untuk mengambil lebih banyak risiko yang bisa membuat bisnis kamu berkembang.”

Sangat menginspirasi bukan?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh dunia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top