Kisah Alim Markus Bangun Merek Maspion Group

Alim Markus membagikan cerita tentang bagaimana mengawal bisnis Maspion Group agar tetap berkelanjutan dan tips menyikapi perubahan era digital yang begitu cepat.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  11:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Alim Markus membagikan kisah tentang perjalanan usaha Maspion Group dan bagaimana menyikapi perubahan era digital yang begitu cepat.

Nama Alim Markus, 68, lekat di benak publik sebagai sosok yang bersanding di samping seniman tiga zaman, Titiek Puspa, lewat iklan televisi Maspion dengan slogan legendarisnya, “Cintailah produk-produk Indonesia.”

Presiden Direktur Maspion Grup ini dibantu adik dan anaknya sukses menahkodai usaha yang dirintis sang ayah Alim Husin. Bermula dari pabrik panci di bawah bendera UD Logam Djawa; kini Maspion Group menjelma menjadi perusahaan berskala besar dengan sokongan sedikitnya 32.000 karyawan.

Sayap bisnisnya terus melebar lewat lini usaha produk konsumen, produk industri, konstruksi dan material bangunan, hotel, properti komersial, properti industri, perbankan, perdagangan dan distribusi, sampai infrastruktur dan energi.

Produk buatan Maspion tak hanya menyasar pasar dalam negeri. Melainkan juga diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Australia, Eropa, sampai Timur Tengah.

Berikut petikan wawancara dengan Alim Markus :

Branding Maspion begitu kuat. Bisa dijelaskan alasan menggunakan nama Maspion?

Maspion asal mulanya Maspioneer. Ayah saya minta pakai Maspioneer. Mas itu dari emas, sesuatu yang paling mahal waktu itu. Pioneer itu maksudnya pencipta pertama atau pelaku pertama.

Tetapi waktu itu diprotes sama pemilik Pioneer, “Pak Alim, kami ini kan sudah Pioneer. You ngapain pakai Maspioneer?”. Saya jawab, “Oh iya, ya, ya.”. Habis itu saya langsung kasih tahu ayah.

Saya usulkan lebih baik buntutnya dipotong saja jadi Maspion. Jadi sekarang enggak punya buntut. Jadi manusia kayak kita-kita ini. Kan jadi lebih bagus?

Maspion memiliki kepanjangan Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional. Slogannya “Cintailah produk-produk Indonesia”. Sejak dulu, apa yang melandasi keyakinan Bapak percaya produk buatan dalam negeri tidak kalah dengan asing?

Dari dulu kami menjamin kualitas. Enggak kalah lah sama Jepang, Korea, sama China. Jepang pabrik kecil-kecil juga banyak. Ada juga yang pakai produk China dengan kualitas seperti itu. Ya, kalau ada yang lebih bagus syukurlah.

Tapi kan banyak yang tidak. Dari situ kami merasa bangga, produk kami bisa hadir di tengah keluarga Indonesia. Strateginya produk kita secara kualitas harus lebih bagus.

Cost juga harus lebih bagus. Kita ini termasuk negara yang besar. Ada 260 juta penduduk. Negara yang besar, market yang besar, pasar yang besar. Harus bisa bersaing.

Usaha Maspion Group terbilang ekspansif. Belum lama ini Bapak meneken nota kesepahaman dengan Dubai Port (DP) World Asia untuk pengembangan pelabuhan kontainer di Gresik dan kompleks industri Maspion. Dalam waktu dekat grup usaha Bapak juga akan meresmikan hotel kerja sama dengan manajemen JW Marriott Hotels di Bali. Sebagai pengusaha yang dikenal cermat, apa pertimbangan Bapak saat ekspansi bisnis?

Saya optimistis ekonomi Indonesia berkembang. Ketika akan maju, tentu saja kita harus berpikir soal cash flow. Kalau perusahaan untung, kita bisa ekspansi. Tapi perlu diingat. Ketika suatu hari perusahaan you enggak bisa memenuhi kewajiban, itu bahaya. Bisa disita sama bank.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bagaimana Bapak melihat kondisi perekonomian kita saat ini? Bagaimana dampak perang dagang Amerika Serikat dan China yang belakangan kian memanas? Bisa dibagikan strategi menghadapi kondisi tersebut?

Saya sih melihat kondisi ekonomi kita cukup bagus. Jadi dalam kondisi ekonomi sejelek apa pun, masih ada pengusaha bisa untung. Sebaliknya dalam kondisi ekonomi sebaik apa pun, masih ada pengusaha yang jatuh. Nah, itu tergantung masing-masing. Kalau ditanya ada dampak perang dagang atau enggak, saya boleh bilang kami juga terdampak.

Ada efeknya pasti, tapi efeknya semestinya bisa good for Indonesia. Karena dari situ kita bisa ekspor. Walaupun dalam kondisi seperti ini pengusaha-pengusaha di Amerika juga pada lihat. Melihat kondisi kayak gini, dia sendiri main caplok. Jadi dia berupaya monopoli.

Misalnya kami ini punya dua langganan. Nah, satu distributor ini dicaplok sama dia. Saya enggak mau dimonopoli. Saya create distributor baru lagi.

Dinamika bisnis belakangan kian dinamis di era digital. Maspion Group juga baru saja bekerja sama dengan komunitas teknologi informasi Indonesia untuk menghadirkan Maspion IT (MIT) Surabaya guna mengimbangi perkembangan teknologi kian canggih. Bagaimana Bapak memandang perubahan tersebut?

Kita harus mengikuti perkembangan digital itu. Sama saja dulu you pas ada sepeda lantas ada mobil. Kalau sudah ada mobil, ya pakai mobil. Nah, di sanalah ada digital dan IT. Kami pakai. Enggak cuma buat sok-sokan.

Naik mobil cuma jalan 50 meter atau 200 meter itu namanya sok-sokan. Digital dan IT juga begitu. Saya lihat sampai sekarang koran masih bagus, Instagram juga bagus, Facebook juga bagus, TV juga bagus. Ya, tergantung penggunaannya.

Mengelola puluhan ribu karyawan bukan perkara mudah. Bagaimana Bapak memandang karyawan di perusahaan Bapak?

Menjadi pengusaha itu tidak gampang. Sama saja ngemong anaknya orang lain.  Anak belum tentu nurut sama mama papanya. Jadi kalau ada yang enggak nurut, saya cuma bisa mengelus-elus hati.

Ya, mungkin di akhirat saya bisa diterima sama Yang Maha Kuasa, pahalanya itu. Tapi selama 18 tahun terakhir di tempat kami enggak ada demo. Hubungan dengan karyawan baik. Serikat pekerja, saya juga ikut seleksinya. Ibaratnya, saya ini jadi KPU-nya.

Apa alasan Bapak sebagai pebisnis punya mimpi besar untuk menciptakan satu juta wirausaha baru lewat dukungan akses permodalan?

Wirausaha itu membikin rakyat Indonesia makmur. Kalau rakyatnya makmur, kita juga tambah makmur. Ada yang tanya “Ngapain Pak Alim banyak duitnya? Kan duit enggak bisa dibawa ke akhirat?” Saya jawab punya duit itu banyak gunanya. Kalau ada bencana kita bisa bantu. Enggak ada duit kita juga enggak bisa jalan.

Apa motivasi yang membuat Bapak gigih sejak muda? Bapak rela meninggalkan bangku pendidikan untuk membantu usaha Ayahanda. Usia 15 tahun sudah bekerja selama 14 jam sehari, jadi verkoper, dan keluar masuk pasar yang becek. Lalu masih semangat melanjutkan belajar bahasa Inggris, Jepang, Korea, Jerman, Prancis, Mandarin, kursus manajemen bisnis di National University Singapore, sampai di Tsing Hua University Tiongkok.

Orang tua saya kan awalnya enggak kaya. Saya tinggal di kampung, Jl. Kapasan Gang II Nomor 2. Di situ satu ruangan ukurannya enggak ada 16 meter persegi. Kami tujuh orang tinggal di situ. Sekarang keluar masuk kampus untuk jadi dosen tamu.

Apakah putra-putri Bapak juga mendapatkan didikan sekeras itu?

Dididik keras. Saya selalu bilang you kalau jatuh ya harus berdiri sendiri, lalu lari sendiri. Tapi kalau you jatuh masuk ke jurang, tanpa pikiran papa bakal ikut lompat buat pegangi you.

Sebagai pengusaha, Bapak pasti akrab dengan pasang surut kehidupan dan usaha. Bagaimana cara Bapak bangkit ketika menghadapi krisis?

Semua orang bisa mengalami up and down. Pasang surut itu biasa. Tapi kita tetap harus positive thinking. Kalau positive thinking, kita bisa tenang dan itu bikin kita sehat.

Bapak masih bugar di usia 68 tahun. Aktivitas harian yang dijalani seperti apa?

Jam lima pagi biasanya bangun. Lalu senam ringan. Terus jalan cepat. Terus main ping pong. Lalu bicara-bicara santai di Golf Club. Di sana ada lebih dari 200 orang. Setelah itu kembali ke rumah, mandi, terus makan. Lalu membaca koran. Setelah itu berangkat ke kantor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maspion, alim markus

Sumber : Solopos.com

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top