Bisnis Sambal Kemasan, Bangun Usaha dengan Modal Mulai dari Rp50.000

Bisnis sambal kemasan ternyata bisa dibangun hanya dengan modal Rp50.000. Bagaimana caranya? bisa cek di sini
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 27 November 2019  |  18:51 WIB
Bisnis Sambal Kemasan, Bangun Usaha dengan Modal Mulai dari Rp50.000
Illustrasi sambal

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis sambal kemasan bisa dibilang salah satu bisnis modal minim dengan potensi untung yang besar. Orang Indonesia yang gemar sekali makan-makanan pedas menjadi salah satu peluang utamanya. Bak sop tanpa kuah, makan tanpa sambal rasa-rasanya kurang bergairah.

Modal usaha bisnis sambal bisa dimulai dari Rp50.000 saja. Hal itu merujuk dari kisah pemilik Sambal Jebred yang sudah beroperasi kurang lebih dua tahun.

Putri Ambarani, 24 tahun, pendiri Sambal Jebred mengakui dirinya memulai bisnis sambal kemasan itu hanya iseng-iseng saja.

“Awalnya, saya beli sambal di warung, ternyata enak. Lalu, saya ingin beli lagi, tetapi  produknya kok enggak pernah ada sudah ditungguin dua pekan. Akhirnya, saya bikin sendiri saja deh,” ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (26/11/2019).

Putri melanjutkan dirinya membuat sambal dengan modal Rp50.000 untuk membeli cabai dan bawang. Hasilnya, dia bisa membuat sebanyak 16 bungkus dengan ukuran 60 gram.

Dia menawarkan produk sambal kemasan itu kepada teman-temannya. “Eh, responsnya pada suka gitu,” lanjutnya.

bisnis sambal kemasan

Akhirnya, Putri meneruskan bisnis sambal kemasan itu dan mempromosikan bisnisnya di Instagram dan marketplace dagang-el. Kini, putri sudah memiliki 2 karyawan untuk pengemasan sambal dan total omzet bisa mencapai Rp30 juta per bulan.

Produknya pun sudah berkembang dengan memiliki 9 rasa dalam bentuk basah maupun kering dan ukurang 60 gram hingga 1 kg.

Berbeda dengan Putri, Rico memulai bisnisnya dengan lebih serius. Dia bersama temannya Shakila Shahnaz menggarap produk sambal kemasannya yang bernama Kokoku sejak tahun lalu.

“Saya melihat prospek permintaan pada bisnis sambal ini bagus. Jadi, saya mulai fokusin saja dan agresif promosi lewat media sosial sampai bazar,” ujarnya.

Rico mengaku dirinya mengeluarkan modal awal Rp3 juta. Uang itu digunakan untuk membeli bahan baku dan kemasan.

“Untuk balik modal pun enggak perlu nunggu waktu alam juga. Cuma seminggu langsung balik modal, tetapi itu juga karena permintaan sepekan pertama banyak banget,” ceritanya.

Saat ini, Rico mengaku telah mampu jual 20-25 botol sambal dengan ukuran 170 gram. Produknya juga ditawarkan dalam 6 rasa, yakni, sambal bawang, sambal pedas manis, sambal cumi, sambal teri, sambal pete, dan sambal ebi.

Sambal Kokoku itu pun tidak hanya menyasar segmen ritel saja. Rico mengarahkan pengembangan bisnisnya lebih luas lagi dengan bermitra dengan restoran.

“Kami presentasi dengan mereka untuk bisa menjadi pemasok sambal,” ujarnya.

Dia mengaku saat ini sudah bermitra dengan 3 restoran. Dari sana, dia mendapatkan permintaan sebanyak 9 kg per minggu dengan harga Rp150.000 per kg. Dari segi omzet, Rico bisa mendapatkan pendapatan hingga Rp9,4 juta per bulannya.

Tips dan Tantangan Bisnis Sambel Kemasan

Permintaan sambal boleh jadi memang sangat besar, tetapi ada tantangan besar yang sangat krusial pada bisnis ini, yakni harga cabai yang cenderung fluktuatif.

Rico mengatakan bisnis yang berkaitan dengan cabai memang harus sabar. Soalnya, harga pangan cenderung naik turun sehingga ini tergantung dari diri masing-masing untuk bisa mencari bahan baku yang murah dan terjangkau.

“Biasanya harga cabai bakal naik turun saat lebaran dan pergantian musim,” ujarnya.

bisnis sambal kemasan

Tingkat fluktuatif harga cabai tidak tanggung-tanggung, dari rata-rata harga Rp30.000 per kg, harga cabai bisa melejit hingga Rp70.000 per kg.

Dikutip dari Hargapangan.id di Pasar Jatinegara, Jakarta Pusat, harga cabai rawit sepanjang tahun ini paling murah senilai Rp26.900 per kg pada Maret 2019, sedangkan paling mahal pada Agustus 2019 senilai Rp79.950 per kg.

Selain tantangan, Putri juga mengingatkan bisnis sambal kemasan yang sifatnya masih home made harus mampu konsisten dari segi rasa.

“Selain itu, inovasi sangat penting untuk membuat produk tetap menarik di mata konsumen,” ujarnya.

Di sisi lain, Rico menekankan testimoni dari pembeli sangat penting agar produk makin dikenal banyak orang.

“Jika ingin promosi di media sosial dan marketplace, harus membuat konten foto yang menarik perhatian khalayak biar efektif,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tips bisnis

Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top