Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Mengelola Keuangan Saat Ramadan di Tengah Pandemi Corona?

Tingkatkan tabungan untuk menjaga kemampuan atau daya beli agar tetap bertahan di masa depan.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 14 Mei 2020  |  22:25 WIB
Tips Keuangan. - Bisnis.com
Tips Keuangan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Tak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia membelanjakan uangnya, terutama di bulan Ramadan.

Porsi belanja di bulan Ramadan yang biasanya mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya tak berlaku tahun ini. Pasalnya,  porsi belanja untuk memenuhi keinginan dikurangi lantaran penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah.

"Tidak ada buka puasa bersama, tidak ada silaturahmi atau halalbihalal, tidak ada mudik. Artinya, kebiasaan finansial selama Ramadan berubah 180 derajat karena pandemi ini yang memaksa kita fokus pada kebutuhan pokok saja," demikian disampaikan oleh perencana keuangan dari Anggriani & Partners, Metta Anggriani dalam sebuah diskusi daring pada Kamis (14/5/2020).

Metta menjelaskan pandemi Covid-19 memaksa masyarakat untuk fokus memenuhi kebutuhan pokoknya saja. Terlebih bagi mereka yang penghasilannya terpangkas lantaran usaha atau perusahaan tempatnya bekerja terdampak.

Namun, bagi mereka yang nasibnya sedikit lebih beruntung lantaran  Metta memberikan tiga tips keuangan yang bisa diikuti selama Ramadan hingga Idul Fitri pekan depan.

Pertama, meningkatkan kebutuhan pokok seperti menambah pengeluaran extra untuk membeli vitamin, masker dan kebutuhan kesehatan lainnya.

"Karena kesehatan ini yang paling penting diantara yang lainnya di tengah pandemi seperti ini," tegasnya.

Kedua, meningkatkan tabungan untuk menjaga kemampuan atau daya beli agar tetap bertahan di masa depan. Pasalnya, banyak ekonom memprediksi bahwa ekonomi Indonesia baru akan pulih di kuartal keempat 2020, dan secara perlahan akan membaik di 2021.

Artinya, masyarakat harus siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam 6-12 bulan ke depan, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kejadian tak terduga lainnya. Oleh karena itu, dia Metta menekankan pentingnya tabungan sebagai dana darurat.

"Dana darurat yang tersedia sebanyak enam kali pengeluaran bulanan.
Untuk Anda yang masih lajang, cukup menyediakan dana darurat minimum tiga kali pengeluaran bulanan. Apabila telah berkeluarga atau berpenghasilan tidak tetap, Anda perlu menyediakan dana darurat minimum enam kali pengeluaran bulanan," tuturnya

Kemudian Metta menyarankan di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, alangkah lebih baik jika mampu  tabungan untuk dana darurat yang disiapkan mencapai 12 kali pengeluaran bulanan.

"Dana darurat harus bersifat likuid namun dengan akses terbatas, maka sebaiknya disediakan dalam bentuk emas, deposito, atau reksadana pasar uang," ujarnya.

Terakhir yang paling penting Metta meningatkan masyarakat untuk menghindari utang konsumtif. Alih-alih berutang , Metta menyarankan masyarakat untuk menyesuaikan gaya hidup sembari berupaya mencari cara meningkatkan penghasilan di tengah pandemi Covid-19.

"Berutang pada dasarnya tidak masalah jika digunakan untuk sesuatu yang produktif. Namun, utang tersebut tak boleh lebih dari 30 persen penghasilan yang diterima. Untuk utang konsumtif sebaiknya dikurangi atau ditiadakan. Segera dibayarkan apabila mendapatkan THR kali ini," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tips keuangan
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top