Melawan korupsi dengan wirausaha

”Tak kudengar lagi suara Bung Karno Muda. Tak kudengar lagi suara Bung Hatta muda. Tak kudengar lagi suara Sutan Sjahrir muda. Di mana mereka? Ada padamu pemuda.”
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 April 2012  |  14:02 WIB

”Tak kudengar lagi suara Bung Karno Muda. Tak kudengar lagi suara Bung Hatta muda. Tak kudengar lagi suara Sutan Sjahrir muda. Di mana mereka? Ada padamu pemuda.”

 
Sepenggal lagu lama karya band fenomenal asal Surabaya, Jangan Asem, mengisyaratkan kerinduan akan sosok kaum muda Indonesia di era milenium kedua.
 
Lagu itu mencerminkan kontekstualitas aktivisme dan radikalitas kaum muda Indonesia masa kini, yang tidak sebatas aksi demonstrasi massa, melainkan mendasarkan tindakan personal yang konkret berkontribusi pada persoalan kemiskinan dan pengangguran. 
 
Lembaga dunia PBB pun telah menyadari akan pentingnya hal ini. PBB mengajak kaum muda sedunia untuk tidak sekadar menjadi objek melainkan subjek pelaku sejarah yang akan menuntaskan Millennium Development Goals dengan mereduksi secara signifikan kemiskinan di muka bumi ini. 
 
Pemerintah Indonesia pun memiliki embrio yang bagus, dengan pencanangan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) yang tahun ini telah berjalan setahun. Pada 2011 sejumlah kementerian mencanangkan GKN di antaranya Kementerian Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Pertanian. 
 
Menteri KUMKM Syariefuddin Hasan, dalam peringatan setahun pencanangan GKN menyatakan sejak pencanangan gerakan ini, rasio kewirausahaan mengalami peningkatan dari 0,24 persen poin menjadi 1,56%. 
 
Data Biro Pusat Statistik menunjukkan terdapat 3.744.000 wirausahawan Indonesia. Produk-produk wirausahawan Indonesia juga telah merambah dunia, termasuk Amerika Serikat. Pemerintah menargetkan pertumbuhan rasio wirausaha ini menjadi 2 persen pada tahun 2014.
 
GKN memberikan fokus dan perhatian khusus pada kaum muda. Handito Joewono, Ketua Tim Koordinasi Pengembangan Wirausaha Indonesia Kementerian Koordinator Perekonomian, menyatakan bukan hanya mendorong kalangan muda untuk menciptakan lapangan pekerjaan (start up) tetapi juga meningkatkan kelas dari pelaku usaha mikro ke usaha kecil, dari pelaku usaha kecil ke usaha menengah, dan dari usaha menengah ke usaha besar.
 
Radikalitas baru
Radikalitas yang dulu dimiliki founding fathers, kini semakin identik atau terkait dengan segenap daya insani kaum muda untuk memberikan nilai lebih dan kemanfaatan optimal bagi masyarakat luas lewat suatu karya, produk maupun jasa. Radikalitas inovatif tersebut identik dengan entrepreneurship.
 
Dalam setiap karyanya yang membudaya, entrepreneur membangun kualitas kehidupan yang lebih baik. Dalam bahasan filsafat, sikap dan profesi entrepreneur menerapkan kaidah eksistensi manusia dalam hubungannya dengan sesamanya sebagai homo homini socius: manusia adalah kawan bagi sesamanya, kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi. 
 
Sosialitas manusia entrepreneur ini sebagai koreksi dan kritik terhadap sosialitas yang saling memakan, yang saling membenci, sebuah sosialitas homo homini lupus: manusia adalah serigala bagi sesamanya. 
 
Seorang entrepreneur dikenal sebagai insan yang kreatif dengan mengedepankan independensi gagasan dan ide original yang cenderung radikal daripada bergantung pada pendapat atau tren umum (metooism). 
Sebagai ruh dari inovasi radikal tersebut, tak melepaskan kegelisahan kolektif sebagai bangsa, terkait dengan persoalan faktual yang mengganas, seperti korupsi, kekerasan, narkoba, krisis moralitas, serta krisis identitas dan kebanggaan sebagai bangsa. 
 
Oleh karena itu, sosok radikal yang konstruktif lewat suatu karya, produk atau jasa yang radikal dan ’diterima’ oleh masyarakat luas, merupakan jawaban atas kebutuhan peradaban aktual, yang juga menjadi gagasan ideal manusia Indonesia masa kini dan masa depan.
 
Menjadi jawaban karena di satu sisi menghadirkan sesuatu yang baru yang memberikan kemanfaatan optimal bagi umat manusia, atau secara bisnis diterima dengan baik di pasaran, dan di sisi lain menunjukkan alternatif profesi yang bermartabat yang memberikan teladan pencapaian kesejahteraan lewat hidup yang berkeutamaan.
 
Kerja keras, berjejaring, mengangkat potensi lokal, dan di masa mendatang berpotensi mengangkat kebanggaan diri sebagai bangsa – menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadi tamu agung di luar negeri – adalah contoh radikalitas masa kini.
 
Untuk mencapai hal mulia itu, faedah GKN akan semakin bermakna jika sejumlah syarat penumbuhkembangan wirausahawan yang inovatif dapat dielaborasi oleh pemerintah. 
 
Pertama, mendirikan bisnis haruslah relatif mudah tanpa melalui jalur birokrasi yang mahal dan memakan waktu lama. Sebaliknya, meninggalkan sebuah bisnis yang gagal haruslah pula tidak terlalu sulit. 
 
Kedua, penghargaan atas aktivitas kewirausahaan dari institusi lain. Misalnya, pentingnya penegakan hukum terutama yang terkait dengan perlindungan terhadap hak milik properti dan pemenuhan kontrak.
 
Ketiga, instansi pemerintah harus menghalangi aktivitas yang lebih bertujuan membagi-bagi kue ekonomi daripada memperbesar ukurannya.
 
Keempat, pada perekonomian kewirausahaan yang sukses, pemerintah harus dapat memastikan bahwa para wirausahawan yang berhasil dan perusahaan besar yang sudah mapan tetap memperoleh insentif untuk berinovasi dan berkembang.
 
GKN tidak sebatas momentum peringatan dan apresiasi akan pentingnya peran dan eksistensi entrepreneur dan entrepreneurship di Tanah Air. Namun momen khusus untuk membangun gerakan kolektif yang dilandasi atas rasa cinta terhadap masa depan bangsa. 
 
Kemiskinan hanya dapat dilawan dengan jalan menjadi entrepreneur yang berkeutamaan dan menyalakan semangat entrepreneurship di seluruh Nusantara. 
 
Semoga hanya radikalitas untuk berkreasi, mencipta sesuatu, dan berkarya untuk memberikan sumbangsih yang khas dan unggul di kehidupan yang menggema di benak kaum muda Indonesia saat ini.
  
*) I Dewa Gde Satrya Widiaduta adalah Dosen Universitas Ciputra
 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : I Dewa Gde Satrya Widiaduta

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top