FITRI TRI SUMARNISukses berkat imajinasi film

 
Zulkarnaini Muchtar | 22 April 2012 14:27 WIB

 

Boleh diakui atau tidak, pengagum Harry Potter banyak yang berprestasi. Tidak saja di Barat (Amerika Serikat dan Eropa) tetapi juga di Tanah Air.
 
Salah seorang pencinta film petuangan sihir yang kini sukses adalah Fitri Tri Sumarni. Pemudi berusia 24 tahun tersebut, baru-baru ini mengantongi AMD (Advanced Micro Devices ) Rising Stars 2012 untuk kategori desain fashion.
 
Junior Art Director PT Cabe Rawit Pariwara ini mengaku sudah mendengar tentang kehebohan petualangan Harry Potter beberapa bulan sebelum film serial pertamanya, Sorcerer's Stone, di putar di bioskop di Indonesia pada 2001.
 
“Saat itu [masih di bangku kelas 1 SMP], saya mengetahui tentang Harry Potter dari seorang teman yang membeli bukunya di luar negeri,“ ujar perempuan asal Magelang, Jawa Tengah tersebut.
 
Cerita dari temannya tadi, membuat Fitri sangat tertarik dengan Harry Potter. “Tapi jujur saat itu saya belum bisa membayangkan filmnya seperti apa. Yang saya dengar film Harry Potter tentang fantasi dan sihir,“ kenang alumnus Visual Communication Design, ITB ini.
 
Fitri mengaku lebih tertarik menonton filmnya, dari pada membaca buku cerita atau novel Harry Potter yang tebal. Waktu menonton seri pertama, dia suka dengan karakter Hermione yang pintar dan cantik.
 
Tapi saat ini, kesenangannya berubah. Dia menyukai tokoh Snape karena perannya bener-benar tidak ketebak, sehingga membuat penasaran.
 
Sebenarnya, kata Fitri, dia bukan Harry Potter maniak. Namun mengagumi pengarang novel Harry Potter J.K. Rowling yang imajinasinya luar biasa.
 
Menurut pemegang 1st Winner (team) of 2009 Indonesian Graphic Design Award in Junior Brand and Identity System Category Kandura Keramik ini, imajinasi bisa meningkatkan kreativitas.
 
“Imajinasi sendiri merupakan khayalan atau andai-andai atau bayangan-bayang akan sesuatu yang `aneh', diluar dari kebiasaan bahkan kenyataan yang ada,“ tuturnya.
 
Dengan imajinasi, sesorang menjadi bisa berpikir lebih luas dan dari berbagai arah atau bisa disebut out of the box. Tidak selalu mengacu pada hal yang sudah ada.
 
Profesi sebagai perancang mode, menurut Fitri, membutuhkan kreatifitas dan imajinasi. “Merancang mode itu harus bisa membayangkan setiap langkah yang akan diambil.
 
Misalnya bagaimana kalau kita menambahkan sebuah aksen pada suatu benda. Bagaimana keharmonisannya, sesuai atau tidak?“ Perancang yang baik, kata anak bungsu dari tiga bersaudara itu, bisa membuat sesuatu yang belum ada.
 
“Dan hal yang belum ada itu biasanya dibuat dari gagasan yang pernah kita imajinasikan atau kita andai-andai.“
Dengan melatih diri untuk berimajinasi seperti menonton film, mendongeng, membaca buku, termasuk merancang itu sendiri, tentu saja memengaruhi tingkat kreativitas.
 
Jauh tertinggal Lantas bagaimana dengan tingkat imajinasi dari film-film nasional?
Menurut Fitri, film nasional seperti Roro Jonggrang dan Sangkuriang sebenarnya tidak kalah keren dari Harry Potter.
 
“Hanya saja dari penguasaan teknologi. khususnya visual effect, film fiksi Indonesia jauh tertinggal, sehingga hasilnya terkesan tidak kreatif dan eksekusinya asal-asalan,“ paparnya.
 
Participant of NOMA Concours for Manual Picture Book Illustrations 2008 in Japan Gonbe and Hundred Ducks ini menegaskan Harry Potter bisa dikategorikan film keluarga.
 
Namun, dia mengingatkan beberapa serial terakhir dari film fiksi tersebut hanya cocok untuk remaja-dewasa alias tidak pas untuk anak-anak usia di bawah 10 tahun.
 
“Karena film yang memberikan tawaran imajinasi tinggi bisa memberikan dampak yang kurang baik, apabila pengetahuan anak tadi masih belum cukup,“ tegasnya.
 
Namun untuk anak-anak yang sudah remaja dan dewasa, serial Harry Potter berimajinasi tinggi selain memberikan hiburan, juga mendatangkan manfaat positif yakni membuka cakrawala pemikiran yang luas. (sut)
 
*) Artikel ini diambil dari Bisnis Indonesia Weeked edisi 15 April 2012
 

 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top