Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Budaya bekerja tuntas

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Mei 2012  |  22:08 WIB

 

 

 

“ Anda tak akan dapat membangun budaya saling percaya

secara optimal tanpa adanya prestasi “, Craig Weatherup-

mantan CEO Pepsi Co.

 

Seorang senior, sekaligus salah satu mentor saya, sering mengingatkan, ada dua hal utama bila mau sukses dalam berbisnis : memelihara kredibilitas dan membangun network.

 

Kredibilitas, dalam hal ini termasuk perihal kompetensi maupun prestasi sebagai pebisnis yang terpercaya. Ini sesuai kata Robert Eckert, CEO Mattel, ”Dalam kehidupan kerja, tanggungjawab utama Anda adalah membangun kepercayaan “.

 

Dalam skala besar, kepercayaan yang terkikis yang dialami Sukhoi akibat kecelakaan di Indonesia belum lama berselang adalah suatu tantangan bagi produsen, bahkan pemerintah Rusia, untuk memulihkannya.

 

Sebagaimana berita headline Bisnis Indonesia 11 Mei 2012 menyatakan : “ Rencana pembelian 42 unit pesawat Sukhoi Superjet 100 senilai US $ 1.22 miliar oleh dua maskapai nasional, Sky Aviation dan Kartika Airlines, kini menggantung menyusul jatuhnya pesawat jenis ini saat melakukan demo terbang promosi di Gunung Salak Bogor “.

 

Sukhoi harus membuktikan dirinya, adalah suatu pesawat yang layak ditumpangi secara aman-selamat, meskipun harus mengalami musibah. Sukhoi harus menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Musibah adalah musibah. Namun respons yang efektif terhadap musibah adalah kewajiban profesional.

 

Dalam skala kecil, terdapat suatu kisah: Perihal lenyapnya kepercayaan Pak Badu kepada seorang stafnya, sebut saja Polan, mengenai  pekerjaan yang tak terselesaikan dengan tuntas.

 

Dalam suatu kejadian, Pak Badu mendapat jawaban, “Sudah“ dari Polan manakala Pak Badu menanyakan suatu surat yang hendak dikirimkannya kepada seorang kolega Pak Badu. Ada keraguan di benak Pak Badu, seingatnya surat itu belum ditandatanganinya.

 

Iseng-iseng dia menanyakan kepada sang kolega soal surat itu, sudah diterima atau belum. Jawabannya, “Belum“.

 

Segera Pak Badu menanyakan kepada Polan, “Kok di sana belum terima?“. Polan, santai saja menjawab, “Iya Pak. Sudah dibuat draftnya. Tinggal diketik“.

 

“Tinggal diketik“. Demikianlah, sikap bekerja tuntas (sense of clousure) dalam banyak peristiwa memang masih sekedar idaman dalam banyak kehidupan profesional. Syair lagu terkenal di Indonesia, “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri“, memang dalam banyak kasus masih sebatas nyanyian.

 

Jangan sekadar coba-coba

 

Seorang kawan pernah curhat mengenai perilaku salah seorang anaknya. “Dia pandai. Test IQ nya 136. Tapi ya begitu, pindah sekolah dan kuliah sudah jadi hobbynya. Waktu SMA berpindah sekolah tiga kali. Kuliah yang sekarang itu kampus ketiga, yang dua sebelumnya tidak pernah tuntas sampai S1-nya“.

 

Nada waswas, tidak yakin terhadap ketuntasan sang anak dalam kuliah sangat membebani sang kawan ini.

 

Tingkat kepercayaan satu orang terhadap yang lain, salah satunya sangat dipengaruhi perihal sikap tuntas ini. Seorang wiraniaga yang sudah banyak bertemu dan berkomunikasi dengan baik dengan para pelanggannya itu hal yang baik.

 

Akan tetapi, yang lebih baik, soal ketuntasannya sebagai wiraniaga profesional, adalah bila dia berhasil melakukan transaksi penjualan hingga pemenuhan pembayaran dengan lancar dan aman.

 

Seorang atasan yang baik adalah, antara lain, atasan yang mampu memberikan instruksi dengan benar. Namun atasan yang lebih baik adalah atasan yang selain memberikan instruksi, dia juga memastikan bahwa instruksinya dilaksanakan oleh para bawahannya dengan tuntas.

 

Aktif melakukan diet dan rajin berolah-raga adalah kebiasaan baik. Dan akan lebih baik dan tuntas bila memastikan segenap organ tubuh tetap terjaga sehat plus berat badan yang terkendali agar penampilan juga oke.

 

Mengajar dan berbagi ilmu di kelas pelatihan adalah hal baik. Namun akan lebih baik bila dari mengajar itu kedua belah pihak beroleh manfaat : teknik mengajar yang makin efektif dan penyerapan ilmu oleh para peserta juga optimal.

 

Melakukan penguasaan bola sebesar rata-rata 60% – 70% dalam bermain sepakbola adalah baik, sebagaimana dilakukan oleh Barcelona. Tapi mampu membuat gol dan bertahan dengan efektif sehingga memenangkan pertandingan adalah tujuan utama bersepak-bola.

 

Bekerja tuntas adalah soal ‘finishing’, soal penyelesaian. Master Yoda secara tegas mengatakan, “Kerjakan atau tidak sama sekali, jangan sekadar coba-coba“.

 

Tak peduli seberapa pun besar atau kecilnya masalah, selesaikan itu dengan tuntas. “Siapa yang acapkali mengabaikan hal-hal kecil, tak layak dipercaya untuk hal-hal besar,” kata Albert Einstein.

 

Sementara itu, bagi subyek atau pemberi kepercayaan, sikap yang dianjurkan adalah suatu sikap yang manusiawi dan realistis: jangan pernah kehilangan kepercayaan kepada orang-orang lain, namun jangan pula percaya buta.

 

Pepatah Latin menyatakan, “Kedua-duanya sama kelirunya: mempercayai semua orang atau tidak mempercayai siapapun“.

 

Atau mengikuti advis Ronald Reagan, “Percayai, tetapi selalu lakukan verifikasi [Trust, but verify ]“.(msb)

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Pongki Pamungkas

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top