Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Menguak misteri manajer madya

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 Mei 2012  |  20:55 WIB

 

 

Pada sebuah kesempatan konferensi dengan sejumlah CEO seputar kewirausahaan sosial dan CSR dari perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh INSEAD Business School dari Eropa dan Binus Business School di Jakarta beberapa waktu yang lalu, terungkap bahwa ada kemungkinan manajer madya ternyata memiliki kesulitan untuk mengintegrasikan aspek inovasi sosial di dalam kerja kesehariannya.

 

Tampaknya, hal ini disebabkan oleh ketiadaan perangkat dan pengukuran yang memadai untuk menentukan kesuksesan dari sebuah inisiatif sosial perusahaan.

 

Hal ini terungkap dari sebuah survei yang dilakukan oleh Margiono, Alamsjah, dan Ramadhan (2012).  Survei ini mendata persepsi dari sekitar 90an CEO di Indonesia seputar visi, strategi, implementasi, dan performa dari inisiatif sosial perusahaan. Data yang diperoleh dari survei ini diolah dan dianalisis melalui empat kuadran yang mewakili empat kategori (lihat gambar)

 

Kuadran pertama, kategori yang disebut sebagai image-seeker adalah mereka yang memiliki strategi dan visi serta implementasi dan performa CSR yang rendah. 

 

Mereka yang berada di kuadran ini memperlakukan CSR sebagai instrumen pencitraan jangka pendek perusahaan dan cenderung bersifat tambal sulam.

 

Kuadran dua, yang disebut sebagai implementers adalah perusahaan yang memiliki implementasi dan performa CSR yang tinggi, namun rendah dalam strategi dan visi. 

 

Yang berada di kuadran ini adalah perusahaan yang memiliki manajer-manajer yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dan berinisiatif sendiri untuk melakukan kegiatan sosial.  

 

Kuadran ketiga, yang disebut sebagai dreamer adalah perusahaan yang memiliki strategi dan visi sosial yang bagus, namun rendah dalam implementasi dan performa CSR. 

 

Kuadran keempat, yang disebut sebagai change maker adalah perusahaan yang memiliki strategi dan visi sosial yang kuat, namun juga memiliki implementasi dan performa yang sangat baik. 

 

Kuadran keempat merupakan bentuk ideal dari perusahaan karena tidak hanya mereka mengedepankan tujuan bisnis, namun mereka juga mewujudkan dampak sosial yang sesuai.

 

Berdasarkan hasil survei, masih banyak perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia yang berada pada kategori dreamer.  Artinya, banyak perusahaan yang kuat pada strategi dan visi sosial, namun lemah pada implementasi dan performa. 

 

Lebih jauh lagi, ini menunjukkan bahwa meskipun para manajer senior nampaknya memiliki komitmen yang cukup tinggi terhadap dampak sosial dari perusahaan, namun manajer madya nampaknya kesulitan dalam menerapkan visi dan strategi sosialnya.  Manajer senior pun nampaknya juga tidak yakin dengan performa dari bawahannya.

 

Ada beberapa dugaan atas penyebab hal ini.  Pertama, ada kemungkinan manajer madya kesulitan dalam mengukur sukses dari program atau inisiatif sosial yang dibebankan di dalam strategi dan visi perusahaan. 

 

Mereka juga mungkin mengalami kesulitan ketika melakukan penjabaran aspek-aspek sosial perusahaan dalam keseharian mereka.   Ini, antara lain, disebabkan oleh fokus dan titik berat dari aktivitas manajer madya adalah hal-hal “utama” dari perusahaan, seperti misalnya, sales target, production target, atau hal-hal lain yang menjadi bottom-line dari perusahaan tersebut.  Tidak mengherankan jika manajer madya kemudian memfokuskan pada hal-hal “utama” yang dibebankan oleh manajer senior kepada mereka. 

 

Kedua, ada kemungkinan juga manajer madya tidak terlalu memfokuskan kepada hal-hal sosial karena perangkat pengukuran tidak ada yang sifatnya standar di berbagai industri. 

 

Berbeda dengan TQM atau Six Sigma yang bertujuan untuk memberikan pedoman dan pengukuran pada manajer madya untuk meningkatkan produktivitas, saat ini tidak ada perangkat pengukuran yang memadai dan komprehensif untuk mengukur sukses dari inisiatif sosial perusahaan. 

 

Yang terpenting adalah saat ini belum ada perangkat yang terbukti dan dapat digunakan secara meyakinkan untuk menentukan bagaimana inisiatif sosial dapat terkait secara langsung dengan produktivitas dan pertumbuhan perusahaan. 

 

Meskipun berbagai penelitian sudah menunjukkan kontribusi CSR pada pertumbuhan, misalnya Lou dan Du (2012) yang menjelaskan hubungan CSR dengan inovasi perusahaan, perangkat yang ready-to-use untuk dipergunakan oleh manajer madya dalam mengembangkan dan melaporkan keberhasilan kerjanya kepada manajer senior belum ada.

 

Ketiga, sedikit banyak, ada kecenderungan bahwa tanpa adanya perangkat dan adanya jabatan (dan departemen) terpisah untuk mengurusi aktivitas sosial perusahaan,  segala hal yang berhubungan dengan kegiatan sosial perusahaan menjadi tersentralisasi dan diselenggarakan oleh unit tersebut.

 

Hal ini menjadikan CSR terpisah dan bukan lagi terintegrasi dengan seluruh proses perusahaan.  Manajer CSR seringkali “terpaksa” melakukan program sosialnya sendiri dan tidak melibatkan manajer lainnya.  Akhirnya, kegiatan sosial perusahaan dipandang sebagai beban dan pekerjaan ekstra oleh para manajer madya lini lainnya.

 

Oleh karena itu, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi implikasi dari hasil survei ini dan harus menjadi perhatian para manajer senior dan manajer madya di dalam perusahaan.  Setidaknya ada beberapa alternatif yang bisa mulai dikaji oleh perusahaan di Indonesia.

 

Pertama, redefiniskan model bisnis perusahaan.  Nampaknya, mengintegrasikan CSR ke dalam strategi perusahaan saja tidak cukup.  Hasil survei menunjukkan bahwa pada umumnya perusahaan sudah mengintegrasikan aspek sosial di dalam strategi, namun hasil dan implementasi CSR masih relatif rendah. 

 

Kedua, jika mengubah model bisnis sulit untuk dilakukan, perusahaan bisa mengembangkan perangkat yang operasional untuk mengukur dampak sosial dan bisnis dari perusahaan sepanjang value chain. 

 

P&G, misalnya, telah mengembangkan sebuah perangkat sederhana – menggunakan Microsoft Excel – yang bisa dipergunakan oleh banyak perusahaan untuk mengukur dampak lingkungan dari operasional perusahaan (misalnya, mengukur berapa banyak energi yang dipakai untuk operasional perusahaan, dsb). (msb)

 

BACA JUGA:

Skandal seks DPR mulai terkuak

Kekhawatiran data China pukul saham pertambangan

Hasil F1 Monaco, Webber juaranya

Rossi masuk Honda gantikan Stoner?

Nilai tukar rupiah, gimana hari ini?

SITE MAP:

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : M. Ari Margiono

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top