Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Keberanian untuk menjadi besar

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  20:36 WIB

 

Ada tiga kata kunci yang konsisten disampaikan oleh Menko Perekonomian RI, M. Hatta Rajasa dalam berbagai pertemuan untuk mendorong lahirnya wirausaha baru yaitu: Pemberani, Inovasi dan Besarnya prospek usaha bisnis sebagai hasil implementasi MP3EI. 

 

Tiga kata kunci tersebut kembali diingatkan oleh Pak Hatta pada kuliah kewirausahaan di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung beberapa hari lalu.

 

Sesungguhnya tiga kata kunci Berani, Inovasi dan Besar tidak hanya berlaku untuk para wirausaha pemula yang umumnya berskala bisnis kecil; tetapi juga berlaku untuk pelaku usaha yang tidak kecil-kecil.

 

Dalam riset terpadu yang diadakan oleh Arrbey bertema Transforming into Large Enterprises disingkat TiiLEs, nyata betul bahwa tidak semua perusahaan berani menjadi besar.  Bahkan banyak perusahaan yang ‘muter-muter’ sebagai perusahaan berskala usaha menengah atau istilahnya stuck in the middle karena tidak berinovasi, atau lebih tepatnya tidak berani berinovasi untuk menjadi besar.

 

Dari penelitian TiiLEs, ada lima plus satu pilihan strategis untuk mentransformasi diri agar menjadi perusahaan besar yaitu:

 

1. Business Expansion

Tidak ada perusahaan menjadi besar tanpa mengembangkan bisnisnya. Mengembangkan bisnis bisa dilakukan ke arah vertikal atau horisontal. 

 

Pengembangan bisnis ke arah vertikal, yang biasa disebut sebagai Vertical Expansion, mengarah kepada pengendalian supply chain network secara terintegrasi.  Horizontal Expansion terkait dengan upaya meningkatkan market share agar lebih besar dari pesaing yang sudah ada di pasar. 

 

2. Business Diversification

 

Diversifikasi bisnis dimaksudkan untuk mengurangi risiko dengan menyebar investasi pada beragam jenis bisnis.  Diversifikasi bisnis berkaitan dengan aplikasi manajemen risiko pada pengelolaan investasi perusahaan dengan masuk ke bisnis-bisnis baru yang tidak punya banyak kaitan dengan bisnis asal atau melakukan penyebaran kepemilikan ke banyak pemegang saham sehingga terjadi shareholder mix yang lebih heterogen. 

 

Keberagaman bisnis maupun pemilik akan menyebarkan risiko ke banyak obyek dan subyek, yang diharapkan akan menghasilkan check and balance untuk menjaga keberlangsungan bisnis menuju skala usaha yang lebih besar lagi.

 

3. Corporate Governance

 

Ada ‘salah kaprah’  pada prinsip pengelolaan manajemen, khususnya di level puncak, yang mengkultuskan sekaligus mempertentangkan profesionalisme dan otokrasi pemilik. 

 

Banyak kaum penganut aliran manajemen moderen yang kelewat yakin bahwa pengelolaan perusahaan yang sehat seharusnya dilakukan oleh para profesional manajer, karena mereka bisa bersifat netral dan lebih objektif dalam melakukan perencanaan dan menjalankan rencana. 

 

Kubu ekstrim satunya menyatakan bahwa manajemen puncak semestinya tetap dipegang oleh unsur pemilik karena mereka mengemban tanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan dan membesarkannya di jangka panjang.  

 

Sesungguhnya tidak ada yang paling benar atas kedua mazhab corporate governance di atas.  Dalam rangka menghadirkan tata kelola perusahaan yang baik, pemisahan antara fungsi manajemen dan kepemilikan bisa dilakukan dengan opsi menempatkan CEO dari unsur profesional manajer maupun pemilik.  Kembalinya Larry Page pendiri Google sebagai CEO, dan fenomena baliknya almarhum Steve Jobs pendiri Apple sebagai CEO yang sangat sukses membesarkan kembali Apple yang sempat terpuruk semestinya mengingatkan para penganut aliran manajemen moderen bahwa kedua opsi corporate governance  tersebut masih valid.

 

4. Technology

 

Perusahaan yang menjadi besar adalah perusahaan yang mampu menghadirkan nilai tambah bagi konsumen, karyawan, pemilik dan segenap stakeholder

 

Peran teknologi untuk menghasilkan nilai tambah di jangka pendek dan jangka panjang tidak bisa lagi diabaikan.  Apapun jenis bisnisnya, dan dimanapun perusahaan tadi beroperasi, teknologi tetap menjadi pilihan utama untuk menghasilkan nilai tambah.

 

Problemnya, tidak semua perusahaan atau lebih tepatnya manajemen perusahaan yang punya keberanian untuk menghadirkan teknologi.  Ketidakberanian menghadirkan teknologi akan ‘mengebiri’ potensi perusahaan untuk menjadi lebih besar.

 

Penumbuhkembangan teknologi bisa dilakukan melalui technology development  dengan membangun budaya riset dan melakukan R&D secara mandiri, dan bisa juga dengan menggunakan jalan praktis membeli teknologi atau membayar royalti penggunaan teknologi.

 

5. Property Management

 

Boleh dikatakan bahwa properti merupakan ‘ibunya investasi’ bisnis.   Properti bisa berupa tangible asset seperti tanah dan bangunan, tetapi bisa juga yang bersifat intangible berupa intelectual property right seperti patent dan brand.

 

Perusahaan bisa memupuk tangible asset, tetapi ada juga yang lebih memilih nengembangkan intangible asset dalam rangka membesarkan perusahaannya.

 

Ada kecenderungan perusahaan multinasional menahan investasi berupa tangible asset, tentunya dengan lebih memprioritaskan pemupukan intangible asset. Sebaliknya banyak contoh perusahaan lokal yang mampu bertahan dan menjadi lebih besar dengan dukungan tangible asset, khususnya berupa tanah dan bangunan. (msb)

 

BERITA LAINNYA:

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Handito Joewono

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top