Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TANTO KURNIAWAN: Sayonara Paramount dan Cerita Happy Ending

Saya masih ingat pernyataan yang cukup berkesan ketika pertama kali bertemu Tanto Kurniawan pada 1994. Dia ingin mengakhiri setiap amanah yang diberikan kepadanya dengan kondisi terbaik. Ketika itu Ciputra, sebagai Presiden Komisaris PT Jaya Real Properti
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Desember 2012  |  07:02 WIB

Saya masih ingat pernyataan yang cukup berkesan ketika pertama kali bertemu Tanto Kurniawan pada 1994. Dia ingin mengakhiri setiap amanah yang diberikan kepadanya dengan kondisi terbaik. Ketika itu Ciputra, sebagai Presiden Komisaris PT Jaya Real Properti (waktu itu belum Tbk, karena belum go public) akan mengundurkan diri.Figur Ciputra sangat sentral, sehingga pengunduran dirinya dikhawatirkan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan bisnis properti yang digeluti JRP. Anak-anak muda yang memimpin perusahaan properti dengan luas lahan 2.000 hektare, sangat besar ketika itu, harus rela melepaskan bayang-bayang nama besar Ciputra, begawan properti Indonesia. Begitu para wartawan menjuluki Pak Ci, panggilan akrab arsitek jebolan Institut Teknologi (ITB) Bandung tersebut.Maklum, sebagai Presdir PT JRP, usia Tanto ketika itu baru berkepala tiga. Bahkan Budi Karya Sumadi, sekarang Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, masih berkepala dua. Sekali lagi, pengunduran Ciputra dikhawatirkan akan mengguncang pengembangan kota baru Bintaro Jaya.Namun Tanto berhasil menjelaskan kepada karyawan agar tidak resah. Kepada publik, teristimewa stakeholders utama, ia meyakinkan perusahaan akan tetap berkembang. "Happy ending. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan pengunduran Pak Ci," begitu kata yang terucap 18 tahun lalu itu. ****Dalam 6 tahun terakhir ini, Tanto supersibuk membenahi dan mengembangkan Pramount Group. Ketika ia masuk, Paramount Investment baru saja membeli usaha properti itu dari Keris Group, yaitu Ambassador Gading Serpong. Kondisinya berantakan. Istilah Tanto itu, seperti lahan bekas perang. Kondisinya hancur. Jangankan konsumen. Kontraktor dan perbankan tidak ada satu pun yang percaya.     Masalahnya njlimet mulai dari pembangunan, desain, marketing hingga kondisi keuangan yang minus. Belum lagi persoalan hukum karena lahan yang dibeli berada di lokasi yang berbeda-bedan. "Seperti papan catur," katanya.TIGA LANGKAHLalu apa yang dilakukan pria kelahiran Cilegon itu?Pertama, mengganti nama dari Ambassador menjadi Paramount Serpong. Tujuannya untuk mendapatkan kepercayaan.Kedua, membangun branding. Ia memasang pengumuman detail, mulai dari tanggal pembangunan hingga serah terima kepada konsumen.Ketiga, membangun kepercayaan kepada seluruh pemangku kepentingan. Ia memulai dari memberi semangat kepada seluruh karyan dengan nilai-nilai budaya perusahan yang diciptakannya sendiri.Nilai-nilai corporate culture itu adalah jujur, bekerja keras, disiplin, peduli dan rendah hati. "Bisnis adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tidak akan ada bisnis," begitu acap kali Tanto berbicara dalam berbagai kesempatan.Dari tiga langkah itulah secara perlahan dan berangsur cepat Paramount Serpong berkembang.Pada tahun 2007 kondisi keuangan perusahaan minus, setahun kemudian ia meraih pendapatan Rp17 miliar. Tahun lalu melonjak menjadi menjadi Rp 1,3 triliun, dan tahun ini bisa lebih dari Rp 2 triliun.***SAYONARAKabar yang mengejutkan itu disampaikannya kepada saya melalui BlackBerry Messenger alias BBM. "Saya akan meninggalkan Paramount."Lho, mengapa? Apa obsesi yang belum tercapai?Manusia selalu punya obsesi yang nggak pernah habis. Bukan berarti obsesinya belum tercapai, tapi ada obsesi-obsesi baru. "Saya punya obsesi saat di Pembangunan Jaya ingin ada satu terobosan bagaimana Bintaro Jaya tetap jadi biding. Begitu juga di sini, saat saya pensiun, Paramount bisa lebih maju dari pada saat saya di sini," katanya lagi.Ia memang pernah berbicara mengenai pensiun. Dan jika betul-betul pensiun, ia ingin jadi penulis.Besok, ia tak lagi, meminjam istilah sepak bola, menjadi 'kapten kesebelasan' yang merangkap sebagai striker untuk menciptakan goal sebanyak. "Enam tahun sudah cukup. Sebagai pemimpin yang baik saya banyak melahirkan kader."Kini, ia akan meninggalkan posisi puncak Paramount yang dikatakan sebagai bekas lahan perang dan diubahnya menjadi kota baru. Rasanya juga kata happy ending tepat dikatakan seperti 18 tahun lalu. (faa/msb/sut) ([email protected])  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top