Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemimpin dan Pengelolaan Amarah

---“Amarah tidak pernah datang tanpa alasan, tapi jarang sekali itu berujud alasan yang baik.” --( Benjamin Franklin ).
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 17 April 2013  |  07:38 WIB

---“Amarah tidak pernah datang tanpa alasan, tapi jarang sekali itu berujud alasan yang baik.” --( Benjamin Franklin ).

Suatu ketika, seorang editor menugasi seorang reporter olahraga, seorang karyawan baru, untuk meliput suatu peresmian gedung sekolah. Itu suatu kejadian penting karena akan dihadiri banyak tokoh terkemuka.

Namun, yang terjadi kemudian adalah meledaknya amarah si editor. Mengapa? Si reporter balik dengan tangan hampa, tanpa berita. “ Tak ada berita? Kenapa?”, tanya editor. Reporter menjawab kalem, “Gedung sekolahnya runtuh.” “Lho, mana berita mengenai gedung runtuh itu?!”, si editor menukas. “Itu bukan tanggungjawab saya Pak,” jawab reporter. Dan Anda pun bisa memperkirakan apa yang terjadi kemudian.

Amarah. Dalam skala mikro kehidupan individu, amarah adalah bagian dari siklus kehidupan sehari-hari. Pelbagai kisah soal amarah ini terus berlangsung. Istri yang marah karena suaminya selingkuh, lalu membakar suami hingga tewas.

Seorang bapak yang kalap lalu membacok pemuda yang membawa lari anak gadisnya. Dan yang paling berbahaya adalah bila amarah itu terjadi dalam skala masif, yang melibatkan institusi atau banyak orang (amuk massa, atau amok ) seperti belum lama berselang: kekerasan yang terjadi tentara dengan polisi di Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatra Selatan.

Amarah adalah salah satu jenis emosi manusia. Ada puluhan jenis emosi, selain amarah, yang bersifat negatif maupun positif:  rasa ingin tahu, kecewa, tertarik, jatuh cinta, takut, frustasi, gembira, kesepian, puas, malu, menyesal, heran, menderita, semangat, panik dan sebagainya.

Menurut para psikolog, secara universal, ada tiga jenis amarah yang dikenal: pertama, adalah amarah dari sebab yang bersifat membela diri, yaitu amarah orang yang terperangkap dalam suatu kondisi. Kedua, adalah model amarah sebagai reaksi karena diperlakukan tidak adil. Terakhir, adalah amarah yang memang menetap pada orang yang bersangkutan, atau tepatnya, yang bersangkutan adalah seorang ‘pemarah’.

KECERDASAN EMOSI

Amarah, bila kita pandai mengendalikannya, adalah salah satu kecerdasan emosi (emotional quotient) manusia yang bisa bersifat positif. Namun sebaliknya, amarah dalam sifat negatif, amat berpotensi merusak, destruktif. Karena amarah adalah salah satu emosi manusia yang cenderung agresif.

Amarah, yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai anger, sangat dekat dengan kata (bahasa Inggris) danger (berbahaya). “Menyimpan kemarahan ibarat menggenggam bara panas dengan niat melemparkannya ke orang lain, dan itu ternyata akan membuat Anda sendiri terbakar,” ujar Buddha.

“Orang marah itu orang yang membuka mulutnya dan menutup matanya,” ujar Marcus Porcius Cato, negarawan Romawi. Dalam kalimat lain, amarah adalah situasi emosional yang tidak rasional. Fakta dan segenap realita akan terkalahkan oleh emosi amarah. Amarah berpotensi mengalahkan objektivitas dan empati.

Mungkin disamping karena amarah ini merupakan suatu isu yang layak jual, dunia film dan televisi pun mencoba mengeksplorasinya (dengan pesan bahwa amarah memang bisa dan harus dikelola, dengan bantuan psikolog-psikiater profesional). Film anger management (pengelolaan amarah) yang dipasarkan pada 2003, disutradarai oleh Peter Segal, dibintangi Tom Sandler (aktor-komedian terkenal), Jack Nicholson (aktor peraih Oscar) ternyata cukup sukses di pasar.

Meraih rating 3 (dari skala 5), film ini diikuti oleh film lain. Sebuah serial televisi, dibuat oleh FX Studio, berjudul sama, Anger Management, dibuat pada 2012, menyusul serial televisi sama yang dibuat pada 2003, dibintangi oleh Shawnee Smith dan Charlie Seen.

 

EFEKTIF MENGELOLA MARAH

Ucapan Aristoteles berikut menantang kita ke arah pengelolaan amarah (anger management) yang efektif, “Setiap orang bisa meluapkan marahnya. Itu mudah. Namun, meluapkan kemarahan terhadap orang yang benar, dengan derajat marah yang benar, pada saat yang tepat dan dengan tujuan yang benar dan dalam cara yang benar, itu bukan kapasitas yang dimiliki setiap orang. Dan itu jelas tidak mudah.”

Untuk lebih lengkap, beberapa tip berikut ini layak pula kita simak. “Bila kemarahan datang, hitung sampai sepuluh sebelum berbicara. Bila yang datang adalah puncak kemarahan, hitung sampai seratus,” nasihat Thomas Jefferson.

“Bila kemarahan datang, pikirkan segala konsekuensi,” ujar Confusius. James Fallows, seorang jurnalis radio Amerika Serikat terkemuka menuturkan, “Tuliskan kemarahan Anda dalam suatu surat untuk lawan-lawan Anda. Dan jangan pernah surat itu terkirim.”

“Sebaiknya, kemarahan sudah harus dilupakan sebelum berbaring untuk tidur,” ujar Mahatma Gandhi. “Apapun awal kemarahan, akan selalu berakhir dengan rasa malu,” ujar Benjamin Franklin, salah satu Presiden Amerika Serikat.

Untuk menjadi manusia efektif, membalikkan amarah menjadi suatu suatu hal positif adalah suatu tantangan besar. Nasihat Yoko Ono, istri mendiang John Lennon ini relevan kita cermati, “Bila saya merasa marah, saya coba bertanya ke diri sendiri, apa yang membuat saya marah. Bila saya dapat menemukan sumber amarah itu, saya coba mengalihkan energi negatif itu menjadi suatu hal yang positif.”

Ibarat membalikkan berkah menjadi musibah atau mengubah sampah menjadi energi, mengelola amarah adalah tantangan yang layak dijalani. Pengelolaan amarah adalah suatu keterampilan individu yang yang layak untuk terus diasah dari hari ke hari.

Berita bagusnya, pengelolaan amarah sepenuhnya ada dalam kendali diri sendiri. Dan bukankah demikian indahnya hukum alam ini, musuh terbesar adalah diri sendiri?

*Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kiat manajemen yoko ono pengelolaan emosi serial televisi

Sumber : Pongki Pamungkas

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top