Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi, Menanam Uang pada Barang Seni

Bisnis.com, JAKARTA - “The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls.” Begitu sebuah kutipan dari seorang pelukis ternama beraliran kubisme Pablo Picasso.
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 14 Juli 2013  |  23:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - “The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls.” Begitu sebuah kutipan dari seorang pelukis ternama beraliran kubisme Pablo Picasso.

Seni, menurutnya, adalah sebuah upaya pembersihan jiwa manusia. Mungkin itu juga yang dirasakan Benny Priyono, seorang investor barang seni.

Dia mengatakan awal mula ketertarikan terhadap lukisan saat dirinya mendapat tugas sewaktu kuliah di Cleveland, Amerika Serikat. Ketika itu, dia mendapat tugas untuk mengulas beberapa lukisan di Cleveland Museum of Art.

“Sejak itu, saya selalu kagum, dan mulai belajar untuk mengapresiasi lukisan yang dibuat oleh seniman-seniman luar atau pun dalam negeri,” ujarnya.

Jenis lukisan yang dia suka pada awalnya adalah beraliran realis. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Benny lebih menyukai lukisan abstrak dan kontemporer.

Meski demikian dia menyukai lukisan apapun, dan tidak terpaku hanya dalam satu genre. Pria yang juga berinvestasi di bidang tanah dan logam itu juga mengatakan terakhir membeli lukisan pada 2012.

Beberapa lukisan yang sudah dikoleksi antara lain karya Agapetus, Bob Sick , Dipo Andy, Erica Hestu Wahyuni, J.B Iwan Sulistyo dan Kristiandana.

Menurutnya, awal membeli lukisan sebetulnya untuk mengisi hiasan rumah barunya di Jakarta. Namun, kebiasaan tersebut akhirnya menjadi koleksi pribadi yang cukup menjanjikan.

“Dan tidak menutup kemungkinan jika ada penawaran bagus, beberapa lukisan juga telah saya jual, atau pun kalau ada yang sudah bosan saya coba jual di balai lelang lukisan,” tuturnya.

Tisna Sanjaya, pelukis dan seniman instalasi asal Bandung, Jawa Barat, menuturkan tidak sedikit para pengusaha yang berinvestasi di bidang seni. Dia mengatakan sering berkomunikasi dengan beberapa pengusaha yang memiliki ketertarikan di bidang lukisan.

“Saya melihat positif ketika para pengusaha mau berinvestasi di bidang seni. Ketika seni dipandang hanya dimiliki oleh segelitir orang, ternyata kaum kelas menengah serius untuk terlibat,” ujarnya.

Tren kalangan menengah yang berinvestasi di barang-barang seni rupanya bukan hanya di ranah koleksi saja. Tetapi jauh dari itu, para pengusaha tak sedikit yang aktif mendanai pertunjukan seni seperti pagelaran seni dan instalasi.

Bagi Tisna, hal tersebut jauh lebih berharga bagi perkembangan seni di Indonesia.

GAYA HIDUP

Mohammad Andoko, President Director One Shildt Financial Planning menuturkan investasi di bidang seni saat ini sudah menjadi gaya hidup. Hampir di berbagai ruang perkantoran, sambungnya, terdapat berbagai lukisan atau barang seni lainnya yang dipajang.

Dia mengatakan kalangan menengah atau para pengusaha sudah banyak tertarik berinvestasi barang seni khususnya di lukisan. Andoko mencontohkan, seorang taipan properti asal Inggris Nasser David Khalili yang memiliki kekayaan bersih sekitar US$1 miliar, memiliki aset seni senilai US$930 juta.

Biasanya, sambung Andoko, yang menjadi incaran para taipan atau investor barang seni adalah lukisan, guci, mobil antik, sampai jam kuno. Namun, barang seni bergengsi saat ini yang masih diburu adalah lukisan.

Andoko menjelaskan, dari jenis investasi riil seperti properti dan emas, para investor banyak tertarik di lukisan. Menurutnya, jenis investasi ini cukup menggiurkan seiring ketertarikan orang terhadap seni sudah mulai terbangun.

“Jika meminjam sebuah istilah, lukisan ini bisa diibaratkan semakin tua semakin beirisi. Lukisan itu semakin usianya tua, harganya semakin mahal, terutama jika cara perawatannya baik dan tentunya karya asli dari senimannya,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi uang seni lukisan

Sumber : Bisnis Indonesia, 14 Juli 2013

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top