Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kiat Manajemen: Terapkan Keadilan & Transparansi Dalam Suksesi

Bisnis.com, JAKARTA - Di Indonesia, nama Gerdau barangkali tidak terlalu dikenal. Gerdau adalah perusahaan produsen baja nomor 14 terbesar di dunia. Kantor pusat perusahaan ini berada di kota Porto Alegre, Brasil.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 Juli 2013  |  00:08 WIB
Kiat Manajemen: Terapkan Keadilan & Transparansi Dalam Suksesi

Bisnis.com, JAKARTA - Di Indonesia, nama Gerdau barangkali tidak terlalu dikenal. Gerdau adalah perusahaan produsen baja nomor 14 terbesar di dunia. Kantor pusat perusahaan ini berada di kota Porto Alegre, Brasil.

Saat ini, Gerdau memiliki kurang lebih 337 unit industri dan komersial, tersebar di 14 negara, dan mempekerjakan tidak kurang dari 38.000 karyawan. Produk-produknya tersebar di lima benua.

Gerdau didirikan pada 1901 oleh Johannes Heinrich Kaspar Gerdau, lebih dikenal dengan nama Joao Gerdau. Bergabungnya Curt Johannpeter, cucu menantu Joao, dengan Gerdau menandai dimulainya era baru perusahaan. Johannpeter menjadi arsitek modernisasi dan profesionalisme Gerdau.

Di samping itu, dia juga memperkenalkan ke dalam perusahaan nilai-nilai yang dia terapkan di keluarganya. Menghormati orang lain menjadi faktor terpenting bagi kesuksesan Gerdau.

Semua orang yang pernah bekerja dengan Johannpeter takkan lupa saat-saat Johannpeter berkunjung ke tempat kerja, menyapa mereka satu per satu, dan memberikan dukungan profesional maupun personal.

Johannpeter juga menjadi teladan dalam kemampuanya membangun hubungan yang didasarkan pada kemitraan, keterbukaan, dan ketulusan seraya tetap menjunjung tinggi profesionalisme.

Kesuksesan Gerdau berlanjut saat anak-anak Johannpeter, yang merupakan generasi keempat, mengambilalih kendali perusahaan, dengan Jorge Gerdau Johannpeter menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari 1983 hingga 2006.

Yang menarik, meski berhasil mengelola bisnis secara sukses selama lebih kurang 20 tahun, mereka mulai memikirkan suksesi sejak 1990-an, jauh sebelum mereka mundur.

Mereka meminta bantuan pihak luar untuk mengevaluasi 60 eksekutif, termasuk lima orang generasi penerus anggota keluarga, guna menduduki posisi komite eksekutif yang baru dibentuk.

Anak-anak Johannpeter memanfaatkan momentum ini untuk mendorong sebagian anggota keluarga agar mau berkarier di luar perusahaan.  Kebijakan ini ternyata sukses. Anggota keluarga yang keluar berpisah baik-baik dan kemudian sukses dengan kariernya masing-masing.

Beberapa tahun kemudian, anak-anak Johannpeter kembali meminta bantuan pihak luar guna mencari kandidat yang akan menjabat sebagai CEO. Di antara yang direkomendasikan adalah dua orang generasi kelima dengan pengalaman bisnis yang luas.

Perusahaan kemudian mengirim keduanya untuk mengikuti pelatihan eksekutif tingkat lanjutan di sekolah bisnis terkemuka di Amerika Serikat (AS). Setelah kembali, mereka ditugaskan memimpin unit-unit bisnis kunci selama beberapa tahun. Pada 2006, anggota keluarga yang berkinerja terbaik dipilih menjadi CEO. Dia adalah Andre Gerdau Johannpeter, sedangkan sepupu Andre menjadi Chief Operating Officer (COO).

 BERTAHAN SATU ABAD

Keberhasilan Gerdau sebagai perusahaan keluarga yang mampu bertahan selama lebih dari satu abad tergolong fenomenal. Selama ini, hanya sedikit perusahaan keluarga yang sukses melewati satu generasi.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Lansberg, perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi kedua jumlahnya tidak sampai 30%. Adapun yang yang mampu bertahan hingga generasi ketiga lebih sedikit lagi, hanya sekitar 10%.

Berkaca dari kisah Gerdau, salah satu rahasia panjang umur perusahaan keluarga adalah keadilan dan transparansi dalam suksesi, sebuah fase yang menentukan nasib perusahaan keluarga pada masa depan.

Salah satu kesalahan yang jamak dilakukan perusahaan keluarga adalah menerima tanpa syarat generasi muda untuk bergabung dalam perusahaan serta menjadikan mereka sebagai penerus.

Padahal belum tentu generasi muda ini memiliki minat dan kemampuan. Situasi semakin buruk apabila generasi senior enggan menyediakan program pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan.

Kondisi ini menyebabkan generasi penerus tidak termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya. Maka jangan salahkan generasi penerus bila mereka miskin visi, tidak mampu memimpin, dan tidak kompeten.

Untuk mengantisipasi masalah ini, sungguh bijaksana bila generasi muda anggota keluarga tidak otomatis bergabung dengan perusahaan keluarga, bahkan sampai menduduki jabatan tinggi.

Kabar baiknya, saat ini mulai banyak perusahaan keluarga yang menetapkan sejumlah syarat bagi generasi muda yang ingin bergabung, semisal harus berpendidikan sarjana, bahkan pasca sarjana; memiliki pengalaman profesional selama beberapa tahun di luar perusahaan keluarga; dan dalam proses rekrutmen dan seleksi bersedia bersaing secara adil dengan kandidat-kandidat dari luar keluarga.

Sebagai contoh, di sebuah perusahaan keluarga di Eropa, seorang anggota keluarga yang ingin bekerja di perusahaan harus berusia minimal 26 tahun, memiliki gelar pasca sarjana dalam bidang bisnis atau teknik, menguasai paling tidak tiga bahasa asing, dan telah dipromosikan paling tidak dua kali dalam lima tahun di perusahaan non keluarga. Dan anggota keluarga hanya diberi kesempatan satu kali untuk melamar. Jika menolak atau tidak memenuhi syarat, mereka dipersilahkan berkarier di tempat lain.

Jika memang generasi penerus tidak mau dan/atau tidak mampu bekerja dalam atau melanjutkan bisnis keluarga, sebaiknya mereka diberi kebebasan untuk memilih. Dalam hal ini perusahaan keluarga selayaknya bersikap terbuka dengan membuka kesempatan merekrut professional dari luar keluarga.

Dengan sikap yang adil dan transparan dalam suksesi, akan terpilih penerus yang kompeten, yang mampu melanjutkan cerita sukses perusahaan keluarga dari generasi ke generasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perusahaan kiat manajemen perusahaan keluarga gerdau

Sumber : Patricia Susanto, CEO of The Jakarta Consulting Group

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top