Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tas Handmade, Dulang Untung Berlipat dengan Kreatifitas

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah gempuran tas-tas branded yang diproduksi secara massal, jenis tas kreatif yang mengangkat tema budaya Indonesia dan dikreasikan secara modern, tetap mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2013  |  05:59 WIB
Tas Handmade, Dulang Untung Berlipat dengan Kreatifitas

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah gempuran tas-tas branded yang diproduksi secara massal, jenis tas kreatif yang mengangkat tema budaya Indonesia dan dikreasikan secara modern, tetap mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.

Tidak hanya menyasar pasar dalam negeri, eksklusivitas budaya Indonesia yang diaplikasikan pada produk tas kreatif sehingga memberi kesan etnik nan elegan tersebut juga menarik minat pasar internasional.

Dengan masih sedikitnya pemain yang berkecimpung pada ceruk pasar yang masih luas tersebut tentu saja bisa menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha yang ingin terjun ke bisnis tersebut.

Salah satunya, Yuliana Lim, pemilik Chameo Couture.

Sejak awal memulai usaha pada 2007, Yuliana memang sudah memiliki pemikiran untuk menjadikan tas produknya sebagai salah satu trend setter fesyen dunia dengan mengangkat ciri khas budaya Indonesia yang dikombinasikan dengan teknik pembuatan tas modern dari Italia.

Dari berbagai keragaman budaya yang ada di Indonesia, wanita yang memang memiliki hobi mendesain dan membuat tas ini,  sengaja memilih untuk mengembangkan desain tas dengan teknik anyaman.

“Teknik anyam yang dimiliki Indonesia boleh dikatakan sebagai yang terbaik dan terlengkap di dunia, terlebih dengan keragaman material anyam yang ada. Itulah yang membuat saya jatuh cinta terhadap tas anyaman,” tuturnya.

Sayang, jenis tas anyaman yang selama ini dipasarkan di Indonesia masih sederhana dengan bahan material rotan yang kaku. Di tangan Yuliana, tas dengan teknik anyaman tersebut dibuat lebih modern dengan desain sederhana namun terlihat elegan.

Mengemas tas anyaman menjadi produk yang modern, membutuhkan proses trial and error. Namun dari kegagalan tersebut, istri dari Masulin Lim ini justru menemukan teknik pembuatan desain tas yang sempurna.

Dari teknik anyam tersebut, dia berhasil mengembangkan ratusan jenis anyaman untuk mendapat efek estetika yang maksimal.

Dari sisi material, Yuliana mengklaim sebagai satu-satunya produsen di dunia yang menggunakan advance material untuk anyaman seperti rotan sintetis yang tahan cuaca, kulit ular, dan kertas teknologi tinggi yang tahan robek.

Produk Chameo Couture tersebut dicirikan olehnya dengan tiga pondasi yakni simplicity, functionality dan heritage of Indonesia. Simplicity yang dimaksud tidak hanya sekedar menghilangkan kompleksitas, tetapi lebih memfasilitasi pemakai tas akan hal yang tepat dengan desain yang tepat untuk kebutuhan yang tepat.

 “Kami adalah salah satu pembuat tas di dunia yang memelopori pemakaian mekanisme magnet untuk memudahkan pemakaian tas.”

Tidak sia-sia, kemahirannya memoles tas dengan teknik anyaman menjadi produk tas yang unik dan modern tersebut diterima oleh pasar dalam dan luar negeri.

Dalam sebulan, ibu dari dua anak ini berhasil memproduksi sekitar 200 tas dengan harga yang dibanderol sekitar Rp840.000—Rp3,24 juta. Di luar negeri, dia bisa menjual dua hingga tiga kali lipat dari harga lokal.

Untuk tetap menarik minat pelanggan, Yuliana terus berinovasi meluncurkan 50 model tas setiap musim atau empat kali dalam setahun. Saat ini dia juga sedang mempelajari efek pemakaian seni logam murni, anyaman kulit eksotis dan ornamen mutiara asli. Produk tersebut nantinya akan diproduksi menjadi tas super premium Indonesia.

Etnik

Sementara itu, Michelle Su, pemilik Indiego House, menilai bahwa saat ini semakin banyak masyarakat yang menghargai kekayaan budaya dan produk-produk etnik yang ekslusif.

Bahkan ketika pertama kali mengeluarkan model tasnya dengan kulit sintetis, banyak pelanggan yang memintanya menggunakan kulit asli meski dengan harga yang lebih mahal. Harga yang dibanderol untuk setiap model tasnya tersebut berkisar antara Rp700.000—Rp2 juta.

“Orang Indonesia itu sebetulnya branded minded, tetapi ketika ada produk yang mengangkat tema budaya apalagi dengan bentuk yang eksklusif mereka tidak ragu untuk membeli,” ucapnya.

Hampir sama dengan tas yang dikreasikan oleh Yuliana, Michelle Su dengan brand Indiego House-nya tersebut juga mengangkat konsep etnik dengan sentuhan modern. Wanita yang sempat mengenyam kursus mode selama 1,5 tahun di Milan, Italia, tersebut juga selalu mengeluarkan model baru setiap 6 bulan sekali.

“Saya memiliki tiga produk limited edition dengan harga Rp2 juta ke atas, produk jenis ini pun juga banyak diminati oleh konsumen dan selalu habis,” tuturnya.

Dalam 1 bulan, dia bisa memproduksi sekitar 60 hingga 70 tas yang dibantu oleh dua orang perajin. Mengingat tingginya permintaan, wanita berusia 23 tahun ini berencana untuk menambah satu orang perajin sehingga produksinya bisa lebih tinggi.

Saat ini, dia masih memasarkan produknya di Indonesia mengingat bisnis tersebut baru dimulai awal tahun ini. “Kami berharap produk tas kami juga bisa terjual hingga ke pasar internasional,” harapnya.

Sementara itu, pemilik Gendhis Bag Endro Pranomo menuturkan produk tas kreatif ini memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan ke pasar luar negeri. Saat ini, dia sudah menjual sekitar 50% produknya tersebut ke pasar luar baik melalui pameran maupun agency, antara lain di Jepang, Malaysia, Amerika, dan Spanyol.

Menurutnya, pasar luar negeri lebih menyukai jenis tas dengan desain yang lebih simpel, berbeda dengan konsumen lokal yang lebih menyukai berbagai jenis tas fashionable elegan dengan menggunakan bahan natural dari rotan dan kulit kayu yang dikombinasi dengan bahan modern.

“Keunikan tas kami karena pembuatannya yang handmade dan menggunakan bahan natural namun dibentuk secara modern, bukan produk massal,” ucapnya.

Menurut pria kelahiran Solo, 1 Agustus 1972 ini, tas yang dibentuk secara handmade dengan mengangkat material dan budaya Indonesia lebih eksklusif dan menjadi ciri khas yang tidak bisa diduplikasi baik secara material maupun tekniknya.

Setidaknya setiap tahun, terdapat 50 desain baru tas yang dihasilkan Ghendis Bag dengan harga sekitar Rp100.000—Rp400.000, tergantung tingkat kesulitan serta material yang digunakan.

Untuk menarik pasar kelas menengah, selain membuat inovasi yang unik dan eksklusif, Endor menilai packaging juga menjadi suatu hal yang penting. Dengan packaging yang menarik produk tersebut pun menjadi terlihat lebih mahal dan berkelas.

“Semakin bagus kemasanyya, image atau kelas dari produk yang ditawarkan juga semakin tinggi,” tuturnya.

Namun, yang menjadi kendala dari pembuatan tas handmade kreatif ini ialah dari sisi sumber daya manusia. Pasalnya, saat ini tidak banyak masyarakat yang tertarik melakukan pengerjaan di bidang kerajinan. Di sisi lain, permintaan untuk jenis produk handmade masih tinggi.

Untuk mengatasinya, dia sering melakukan pelatihan dan pembinaan ibu-ibu PKK serta kelompok yang tidak memiliki keahlian untuk dilatih cara pembuatan tas kreatifitu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kerajinan tas etnik hand made

Sumber : Bisnis Indonesia, 24/7/2013

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top