Kekuatan Sosial dari Social Muda Indonesia

Endy Subiantoro
Endy Subiantoro - Bisnis.com 03 September 2013  |  11:42 WIB

 Bisnis.com, Salah satu berkah era digital adalah lahirnya  generasi internet (net gener) yang menciptakan kekuatan sosial, politik, dan budaya. Paduan sikap kolaborasi, kebebasan, inovasi, dan integritas menciptakan model-model gerakan sosial yang unik: sederhana, kuat [powerful], tapi menggurita.

 Abad Net Gener (generasi yang lahir Januari 1977-Desember 1997) muncul setelah 1997, era lahirnya Apple-era Steve Jobs, Google, Youtube, dan Facebook.   Mark Zuckerberg mengawali kultur kolaborasi-cikal bakal Facebook, pada Januari 2004, ketika mempersiapkan ujian kuliah sejarah seni, Roma di zaman Kaisar Augustus. Zuckerberg hampir putus asa, sebab tidak sekalipun dia mengikuti kuliah karena kesibukan mempersiapakan program Facebook.

Lantas, dia mengoptimalkan situs web, forum diskusi,  dan menempatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan kuliahnya di situs itu. Dalam 24 jam, teman-temannya membantu dengan mengisi kekosongan dengan catatan-catatan yang jelas. Mereka akhirnya lulus mata kuliah tersebut.

 

Social muda Indonesia

 Social media kemudian bertransformasi untuk berbagai kegiatan termasuk gerakan social –pendidikan. Lagi-lagi motor utamanya adalah anak-anak muda.

Tanpa disadari mereka sedang melakukan rekayasa sosial (social engineering) yaitu gerakan ilmiah [gagasan perubahan taraf hidup masyarakat] dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial. Semangat  yang diusung Lawrence M. Friedman, William Dahl, Khomeini, Fidel Castro, dan Che Guevara.

Kisah model bisnis microlending dari Aldi Haryopratomo adalah salah satu contohnya social entrepreneurs. Alumni Harvard Business School (2012), dan Universitas Purdue-AS ini  bersama rekan-rekannya  merintis website kiva.org (www.kiva.org).  Setelah sukses di Kiva, Aldi kemudian keluar dan bersama SeanDewitt, Direktur Yayasan Grameen, membangun Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA).

Ainun Chomsun, memilih gerakan social di bidang pendidikan lewat Akademi Berbagi. Akademi (www.akademiberbagai.org) ini adalah  sekolah gratis yang memiliki cabang di 10 kota mulai dari Jakarta sampai Ende dan  lebih dari 50.000 pengikut (follower) di akun twitter. Gerakan social nirlaba ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung.

“Kami memiliki kurikulum, dan jika dalam waktu tiga bulan kantor cabang tidak melakukan kegiatan, maka akan ditutup,” jelas Ainun. Latar belakang Ainun sebagai Social Media Strategist, yang rajin memberikan tips-tips optimalisasi social media, memudahkan pengembangan gerakan ini di ranah digital.

Shei Latiefah, arek Suroboyo yang masih berumur 23 tahun ini, menggagas gerakan  #savestreetchild (savestreetchild.org), gerakan pengadaan kelas-kelas gratis untuk anak-anak jalanan. Diinisiasi oleh Shei, pada 23 Mei 2011, gerakan ini bermetamorfosis menjadi sebuah organisasi independen yang memungkinkan  anak-anak marjinal untuk mendapat akses pendidikan. Semangat gerakan ini kini sudah menyebar hingga ke 16 kota: Surabaya, Bandung, Jogjakarta, Medan, Makassar, Manado, Palembang, Padang, Madura, Jember, Blitar, Depok, Pasuruan, Malang, Semarang dan Solo.Seringnya kicauan savestreetchild di jejaring social,memudahkan gerakan ini mendapat banyak dukungan dari publik.

Sekolah Kita-Rumping

Sementara itu, tak jauh dari Jakarta, di Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Bogor, anak-anak muda sukarelawan bersama Ibu Neneng (warga Rumpin) mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak kampung sekitar situ, Sekolah Kita. Rumpin merupakan wilayah yang masih dalam sengketa tanah antara warga dan TNI AURI.

“Fokus Sekolah Kita, adalah memperkuat mental anak-anak [khususnya menghadapi trauma akibat sengketa] dan menjadi alternative sekolah formal,” ujar Ana Agustina, salah seorang pengelola Sekolah Kita.Para relawan pengajar sekolah ini berasal dari berbagai latar belakang. Mereka tersambung lewat media social, blog, dan jejaring social lainnya.

Uniknya, pengajar di Sekolah Kita wajib membuat peserta kelas tertawa lepas dan gembira. Kini, setiap angkatan, Sekolah Kita menampung 90 anak.

Dalam konteks magnitude yang lebih besar, Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) memulai gerakan Indonesia Mengajar pada 2009.  Indonesia mengajar merupakan sebuah lembaga nirlaba yang merekrut, melatih, dan mengirim ratusan generasi muda terbaik bangsa ke berbagai daerah di Indonesia untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda (PM) di Sekolah Dasar (SD) dan masyarakat selama satu tahun. Kini Indonesia Mengajar sudah memberangkatkan angkatan ke VII PM.

Masih banyak lagi sebetulnya gerakan social anak-anak muda seperti Komunitas 1001 buku (Komunitas ini merupakan relawan dan pengelola perpustakaan anak),Card to Post (gerakan yang mengajak masyarakat terutama kaum muda untuk menjadi kreatif dengan membuat kartu pos untuk menyampaikan sebuah pesan), Diet Kantong Plastik (Gerakan mengkampanyekan bijak dalam menggunakan plastik), Indonesia Bercerita (upaya pendidikan melalui cerita), Serta EARTH HOUR Indonesia (salah satu kampanye WWF, organisasi konservasi terbesar di dunia, yang berupa inisiatif global untuk mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan di seluruh dunia untuk turut serta mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam, pada setiap hari Sabtu di minggu ke-3 bulan Maret setiap tahunnya.

Gerakan menebar semangat berbagi dan berkolaborasi di atas adalah bukti anak-anak muda selalu ingin berbuat. Melakukan rekayasa sosial untuk kepentingan kesejahteraan dan kemandirian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
internet, digital, social media, social muda

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top