Hancur Akibat Gempa, Berbuah Homestay Ndalem MJ

Banyak orang memulai bisnis dari modal nekat. Uang yang dimiliki cuma pas-pasan. Namun, karena terdorong kebutuhan atau harapan untuk memulai hidup baru, membuat mereka berani membuka ladang usaha.
Laila Rochmatin
Laila Rochmatin - Bisnis.com 24 Oktober 2013  |  09:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak orang memulai bisnis dari modal nekat. Uang yang dimiliki cuma pas-pasan. Namun, karena terdorong kebutuhan atau harapan untuk memulai hidup baru, membuat mereka berani membuka ladang usaha.

Tidak terkecuali Juananto Eko Geriyadi, yang terins pirasi membuka ladang bisnis homestay setelah rumah sang kakek hancur diguncang gempa bumi 2006.

Juananto dibesarkan di Jogja. Dia teramat dekat dengan sang kakek yang tinggal di Mantrijeron. Hatinya tersentuh waktu gempa bumi 2006 menghancurkan rumah sang kakek.

Sekian waktu rumah itu tak dibangun kembali. Terbengkalai seadanya. Sampai suatu waktu, tercetus ide untuk menjadikan lahan bekas rumah kakek sebagai ladang bisnis. Apalagi, tanah tersebut berlokasi di Mantrijeron yang notabene adalah kampung wisatawan.

Banyak tamu asing bertandang ke wilayah tersebut. Setelah musyawarah dengan keluarga besar, akhirnya Juananto memutuskan untuk menjadikan tanah bekas rumah kakeknya sebagai Bisnis keluarga. Bangunan pertama yang dibangun adalah pendopo.

“Waktu itu pada tahun 2011, kami memutuskan membangun pendopo,” kata Juananto yang ditemui di lokasi homestay di Jalan Surami MJ III/853A, Jogja, beberapa waktu lalu.

Naluri bisnis diakui berjalan terbata- bata. Setelah pendopo terbangun, tidak lantas dimanfaatkannya untuk mendapatkan pendapatan. Sebagai perkenalan, Juananto dan keluarga membebaskan warga yang ingin memanfaatkan pendopo untuk menggelar pertemuan.

Lambat laun, ide untuk membangun homestay tak bisa dibendung lagi. Akhirnya, tiga kamar dibangun sebagai hasil buah pikir Juananto dan keluarga besar. “Membangun homestay ini modal nekat. Ter masuk nekat menjual rumah di Nitikan untuk modal.”

Tiga kamar berdiri, dengan mengorbankan Juananto yang harus rela kehilangan rumah. Namun dia memaknai kondisi ini sebagai penyemangat.

Tekadnya, dari tiga kamar harus bisa menjadi enam atau bahkan 12 kamar homestay. Dan waktu membuktikannya. Sekarang ada tujuh kamar di homestay yang diberi nama Ndalem MJ (Mantrijeron) ini.

“Ya perjuangan saya menjual rumah tidak sia-sia. Semoga segera ber tambah dari tujuh menjadi 12 kamar,” ujar Juananto tersenyum puas. Apa rahasia Juananto mampu menambah jumlah kamar dari tiga menjadi tujuh dalam kurun waktu setahun? “Promosi dan pelayanan,” kata pria berumur 30 tahun ini.

Juananto yakin pisau terampuh dalam bisnis homestay adalah promosi dan pelayanan yang memuaskan. Dia juga tidak menyangka Bisnis homestay yang digarap akan mulus seperti sekarang ini. Hampir tak ada kamar kosong di homestay yang memiliki konsep bangunan tra -
disional itu.

“Saya memanfaatkan jaringan pertemanan. Lewat Twitter, Facebook dan Blackberry Messenger (BBM) sa ya promosikan kalau kami memiliki homestay,” tambah pria yang juga pernah hidup di Bali ini.

Ternyata, promosi melalui jejaring sosial dinilai Juananto sangat ampuh. Promosi antar mulut juga tak kalah mujarab untuk mengenalkan kamar miliknya.

Saat ini tamu asing adalah pelanggan utama di homestay milik Juananto dan keluarga. Bahkan, seorang warga Prancis sudah memesan untuk dibangunkan satu kamar di lahan yang masih kosong. Dalam setahun kamar itu harus sudah jadi.

DUKUNGAN WIFI

Selain promosi, jaringan wifi yang cepat dinilainya menjadi daya Tarik penting homestay dicari para tamu. “Kalau wifi-nya lancar, pasti banyak tamu.”

Tak hanya sampai di situ, suasana homestay yang sepi meski di tengah kota juga dikatakan Juananto, menjadi daya tarik para tamu. Juananto sengaja menjadikan suasana homestay sunyi, jauh dari kebisingan.

Dia juga membiarkan katak dan jangkrik hidup di sekitar rumah. Meski di Mantrijeron, tamu masih bias mendengarkan ‘nyanyian’ hewan-hewan malam itu.

“Agar tenang, kami sengaja membangun kamar-kamar di belakang pendopo. Maka, orang pun tidak akan tahu kalau di belakang pendopo ternyata ada kamar-kamar,” katanya.

Bangunan kamar di Ndalem MJ berkonsep limasan. Dinding terbuat dari kayu jati yang didatangkan dari Blora, Sragen dan Solo. Nuansa tradisional semakin kentara, karena lantai tidak terbuat dari keramik, melainkan semen yang diplester.

“Bahkan di beberapa kamar, tempat tidur bukan dari dipan kayu, tapi dari semen. Jadi seperti tempat tidur zaman dahulu. Namun kami juga menyediakan tempat tidur dari kayu jati bagi yang menginginkan,” tambah Juananto.

Saat masuk ke salah satu kamar, penulis juga sempat dibuat tercengang karena kamar mandi dibuat terbuka alias tidak memakai atap. Jadi, tamu akan merasakan sensasi mandi sambil memandang langit. Bahkan homestay ini juga memiliki kamar mandi yang ada pohon mangga di dalam.

“Biar tamu merasa seperti tengah mandi di kebun,” ujar pria yang masih betah melajang ini.

Juananto berpromosi, para tamu yang menginap di rumahnya dijamin akan merasa seperti tidur di rumah sendiri. Selain nuansa kamar yang tradisional, tamu juga dibebaskan untuk menggunakan segala fasilitas seperti di rumah sendiri seperti memasak.

Ternyata konsep seperti ini membuat kamar di Ndalem MJ diminati banyak tamu. Banyak wisatawan yang menginap di homestay ini.

Untuk tarif, Ndalem MJ menawarkan banyak alternatif. Ada kamar seharga Rp550.000, Rp450.000 dan Rp350.000. Harga tersebut dibedakan luas kamar. “Selama ini tamu tidak memandang harga. Tapi lebih ke suasana.

Hampir tidak ada tamu yang menawar. Bahkan tinggal selama tujuh hari bahkan berbulan-bulan,” kata Juananto. (Laila Rochmatin)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
homestay

Sumber : JIBI/Harjo

Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top