Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Banyak Kendala Kembangkan Produk Sendiri, Start Up TI Pilih Andalkan Pesanan

Perusahaan rintisan (start up) berbasis teknologi masih menggantungkan pendapatan perusahaan dari proyek pesanan daripada membuat produk sendiri.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 05 Januari 2014  |  17:34 WIB
Banyak Kendala Kembangkan Produk Sendiri, Start Up TI Pilih Andalkan Pesanan
Perusahaan start up TI lebih andalkan pesanan daripada produk sendiri - Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan rintisan berbasis teknologi masih menggantungkan pendapatan perusahaan dari proyek pesanan daripada membuat produk sendiri. 

Hal tersebut diakui oleh Presiden Direktur Enervolution, start up pengembang aplikasi khusus iOS, Eduardus Christmas yang mengatakan 80% dari pendapatan perusahaannya masih berasal dari proyek pesanan. Sampai saat ini, Enervolution sudah mengembangkan belasan aplikasi pesanan dan enam produk yang dirancang sendiri. 

“Sebenarnya kami fokus pada aplikasi iOS. Tapi untuk pesanan kami juga mengerjakan platform lainnya,” ujarnya baru-baru ini. 

Menurut Eduardus, hal ini menjadi persoalan bagi mayoritas start up di Indonesia. Pada awalnya, start up memang fokus pada pengembangan produk unggulan. Namun, pada prakteknya banyak start up yang harus menghentikan riset produk dan beralih mengerjakan proyek yang dipesan klien. Dia menyatakan, produk unggulan yang dihasilkan dinilai belum mampu menghidupi perusahaan. 

Eduardus mencontohkan, satu proyek memiliki nilai Rp40 juta-Rp200 juta dengan waktu pengerjaan 1-4 bulan tergantung tingkat kerumitan. Sementara itu, untuk mengerjakan produk sendiri bisa memakan waktu berbulan-bulan dengan tingkat risiko yang tinggi. Dia menyatakan pasar aplikasi di Indonesia sebenarnya belum terbangun karena minat masyarakat untuk membeli aplikasi masih rendah. 

Keterbatasan sumber daya terampil sebenarnya menjadi persoalan. Sebab, dengan tenaga yang terbatas start up harus memilih antara melakukan 
riset produk atau mengerjakan proyek pesanan. Saat ini, Enervolution dibantu oleh sembilan karyawan dengan dua di antaranya insinyur 
teknologi informasi. Salah satu produk unggulannya adalah InvestGuide, aplikasi bursa saham dengan platform IOS. Dibanderol seharga Rp49.000, 
angka download-nya hampir 3.000 sejak diluncurkan pertengahan tahun lalu.  “Dari aplikasi ini memang sudah balik modal. Namun belum bisa menghidupi perusahaan,” tambahnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

software start up
Editor : Setyardi Widodo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top