Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Buku Etnik Berselimut Tenun Badui Buatan Mahasiswa

Produk buku catatan tak selalu didominasi oleh desain atau tempelan gambar yang unik. Dengan sedikit kreativitas, keindahan tekstil tradisional mampu menjelma menjadi sampul buku nan indah. Wajah buku tulis yang polos sekejap berubah menjadi produk seni nan elegan.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 21 April 2014  |  11:07 WIB
Lungsin bertekad memproduksi varian lain untuk menarik konsumen.  - bisnis.com
Lungsin bertekad memproduksi varian lain untuk menarik konsumen. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Produk buku catatan tak selalu didominasi oleh desain atau tempelan gambar yang unik. Dengan sedikit kreativitas, keindahan tekstil tradisional mampu menjelma menjadi sampul buku nan indah. Wajah buku tulis yang polos sekejap berubah menjadi produk seni nan elegan.

Hal inilah yang dilakukan oleh Lungsing. Merk lokal yang diusung oleh sekelompok mahasiswa dari kampus Prasetiya Mulya ini memanfaatkan kain tenun untuk menyelimuti sampul buku catatan. Uniknya, mereka menggunakan kain tenun dari daerah Badui.

Debby Rahmanda Munadi, salah satu pendiri Lungsin mengatakan alasan dia menggunakan kain tenun Badui karena tekstil tersebut memiliki keunikan tersendiri dibanding tenun lain.

“Tenun Badui rata-rata bermotif garis-garis minimalis. Selain itu, kain ini hadir dengan warna-warni nan ceria. Ini yang membuat kain Badui terlihat unik,” ujar mahasiswa yang sedang mempersiapkan tugas akhir ini. Untuk pasokan kain, tim Lungsin bekerja sama dengan Cita Kain Indonesia.  

Debby menuturkan produksi buku catatan berlapis tenun ini terbilang mudah. Tahap awal, lembaran kain tenun Badui tersebut dipotong sesuai ukuran buku, yaitu A5 dan A6. Setelah itu, kain ditempel dengan lem di sampul buku catatan.

Untuk buku dan kertas, Debby dan teman-temannya masih mengalihkan proses produksi dengan vendor percetakan. Hal ini dilakukan untuk menghemat modal karena Lungsin masih berbentuk bisnis start up.  

Kendati produknya sederhana, Lungsin ingin menyampaikan sebuah pesan dari produk buku catatan yang mereka buat. “Filosofi dari pembuatan tenun itu penuh kesabaran dan ketelitian. Oleh karena itu,kami berharap agar pemilik buku ini lebih teliti dan sabar dan menjalani kariernya,” kata Debby.

Debby dan teman-temannya memasarkan produk Lungsin melalui berbagai saluran. Selain menjajakan buku di media sosial, mereka juga sering mengikuti bazaar produk kreatif di Jakarta.

Produk buku catatan Lungsin dijual dengan harga Rp85.000 untuk ukuran A5 dan Rp85.000 A6. Margin keuntungan yang dihasilkan dari bisnis ini mencapai 80%—100%.

Seiring berjalannya waktu, kapasitas produksi buku catatan merk Lungsin terus bertambah. Kini, Debby dan kawan-kawan bisa menghasilkan 100 buku per minggu atau 400 buku setiap bulan.  

Soal peluang, Debby mengaku bisnis buku catatan masih moncer. Dia yakin produk Lungsin bisa bersaing dengan buku catatan premium yang dijual di toko-toko buku. Meski produk lokal, dia yakin kualitas produknya tak kalah bagus dengan buku catatan bermerk.

Ke depan, Lungsin bertekad memproduksi varian lain untuk menarik konsumen. “Dalam waktu dekat, kami ingin mengeluarkan buku gambar atau sketch book. Banyak konsumen yang memesan varian ini kepada kami.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top