Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yayasan Toyota & Astra Andeng TIS dan PII Gelar Sarasehan Profesi Insinyur

Yayasan Toyota & Astra (YTA) bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) duduk bersama bicarakan profesi insinyur guna melihat kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menghadapi integrasi regional.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 20 November 2014  |  03:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Yayasan Toyota & Astra (YTA) bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) duduk bersama bicarakan profesi insinyur  guna melihat kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menghadapi integrasi regional.

“Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015 membuka pasar Indonesia kepada negara-negara tetangga. Tidak hanya produk Indonesia yang harus kompetitif, kemampuan SDM lokal pun harus tinggi agar tidak kalah bersaing dengn SDM negara lain baik di Indonesia maupun di luar Indonesia," Direktur Korporat dan Hubungan Eksternal PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Made Dana Tangkas, Rabu (19/11/2014).

SDM yang andal kemudian akan mendukung Indonesia untuk tampil sebagai negara produsen yang diperhitungkan di dunia, dan tidak lagi hanya dikenal sebagai pasar terbesar.

Sarasehan  nasional bertema “Meningkatkan Kemampuan Rekayasa Anak Bangsa” bertempat di kampus ITS – Surabaya. yang diisi oleh pembicara ahli seperti Direktur Jenderal Kerjasama Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahjana, mantan Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II H. Mohammad Nuh, Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) A. Hermanto Dardak, dan Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Ninok Leksono.

Made mengakui, pada dunia industri saat ini tidak terkecuali di sektor otomotif terjadi  gap yang besar antara jumlah dan kualitas para lulusan universitas dengan kebutuhan akan tenaga-tenaga yang trampil dan kompeten, terutama di bidang engineering.

Situasi ini sangat tidak menguntungkan bagi Indonesia, karena dengan diberlakukannya MEA pada 2015, potensi masuknya SDM dari negara lain akan membesar. 

Menurut data PII, sampai 2013 lalu jumlah insinyur di Indonesia baru mencapai sekitar 700.000 orang masih jauh di bawah angka kebutuhan sebesar 1,5 juta orang. Dari jumlah itu, yang benar-benar profesional dan bergiat dalam dunia engineering hanya sekitar 9.500 orang. 

“Jadi kita benar-benar harus all out untuk meningkatkan jumlah maupun kualitas di bidang engineering ini,” kata Made.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

astra
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top