Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INSIGHT: Memaafkan Tetapi Tidak Melupakan

Hakikatnya, maaf-memaafkan sudah menjadi tradisi pelbagai bangsa. Bagi para pemeluk agama Islam, misalnya, budaya memaafkan antara lain diingatkan pada saat hari raya Idul Fitri.
Pongki Pamungkas
Pongki Pamungkas - Bisnis.com 23 Januari 2015  |  11:20 WIB
Warga rela bersusah payah mudik untuk bisa saling memaafkan ketika Lebaran.  -
Warga rela bersusah payah mudik untuk bisa saling memaafkan ketika Lebaran. -

Suatu kisah tragis : Ini kisah dua lelaki kakak beradik yang tak beruntung, berusia 10 dan 8 tahun. Mereka sempat dibesarkan oleh ibu mereka, yang menderita penyakit jiwa, yang ditinggal lari oleh sang suami. Penyakit sang ibu berupa suatu delusi keagungan. Si ibu dalam hidupnya merasa dia adalah seorang ratu, yang selalu harus diladeni oleh orang lain. Dan lebih parah lagi, si ibu juga mengalami ketergantungan terhadap alkohol.

Bisa dibayangkan betapa muram dan menyedihkan kehidupan  dua anak kecil itu. Hingga suatu hari, si ibu yang sedang mandi di bak mandi, dialiri listrik dari setrika oleh sang adik yang sudah sangat stres, tanpa sepengetahuan sang kakak. Si ibu meninggal. Karena tak punya sanak saudara, mereka ditempatkan di suatu panti asuhan hingga usia belasan. Menjelang  dewasa, mereka kemudian  berpisah. 

Sang kakak, karena kepandaian dan ketampanannya berhasil menjadi orang yang kaya dan terhormat. Ia  menikahi seorang anak milyader, tanpa pernah menceritakan kepada sang isteri soal riwayat keluarganya, termasuk bahwa ia memiliki seorang adik.  Suatu hari, si adik, secara tak terduga menelpon sang kakak. Ia ingin bertemu dengan sang kakak, sembari sempat menuturkan bahwa kehidupannya susah. Sang kakak yang sudah terlena akan kehidupan nyamannya, menemui sang adik dengan terpaksa. Pertemuan itu amat dramatis. Sang adik yang senang dapat bersua sang kakak, belum sempat bercerita banyak, karena sang kakak segera saja menembak mati sang adik. Sang kakak takut riwayat keluarganya terbongkar.

Penyesalan sang kakak datang kemudian. Si kakak baru tahu bahwa niat sang adik untuk bertemu adalah hendak mengakui pembunuhan yang dilakukannya terhadap sang ibu dan meminta maaf kepada sang kakak atas perbuatan itu ( di hotel diketemukan buku catatan sang adik soal penyesalan membunuh sang ibu dan rencana meminta maaf itu ). Dan lebih menyedihkan lagi, umur sang adik diperkirakan hanya tinggal 5 bulan, karena ia menderita kanker. Kisah tragis itu adalah salah satu episode terbaik dari film serial televisi yang sangat terkenal, Law and Order - Criminal Intent.

Penyesalan sang kakak sungguh tiada berguna. Karena, “ Memaafkan adalah membebaskan tahanan dan sekaligus menemukan bahwa tahanan itu sesungguhnya Anda sendiri “, kata Lewis B. Smedes, seorang profesor teolog dari California, Amerika. Sementara, harapan besar sang adik tak terlaksana, yakni mendapatkan pemaafan dari sang kakak, sekaligus melepaskan diri dari belenggu rasa bersalah. “ Dimaafkan artinya Anda mendapat kesempatan untuk membuat permulaan baru “, kata Desmond Tutu, pendeta dan aktivis hak azasi manusia dari Afrika Selatan. Permulaan baru yang diharapkan sang adik tak terwujud.

Memaafkan itu bagi sebagian orang adalah perbuatan yang teramat sulit dilakukan. Beberapa contoh nyata terjadi di Negara kita hingga kini, bahwa perseteruan antara si A dan si B dalam dunia politik tak kunjung berakhir. Ada ganjalan yang besar yang amat merugikan segenap bangsa.  “ Saya mengamati bahwa beberapa orang lebih memilih mati dari pada memaafkan. Itu suatu kenyataan yang aneh. Namun memaafkan memang menyakitkan dan suatu proses yang sulit. Itu tak terjadi dalam semalam. Itu adalah suatu evolusi hati “, kata Sue Monk Kidd, penulis novel laris The Secret Life of Bees.

Memaafkan memang suatu evolusi hati. Suatu hal yang membutuhkan waktu. Sebagai contoh, banyak kisah seputar perkawinan “ lari “, suatu pernikahan yang tak direstui oleh orang tua. Karena pelbagai alasan, pernikahan tak disetujui oleh orang tua sang anak. Lalu sang anak pun nekad melarikan diri dari rumah dan melangsungkan pernikahan dengan pasangannya. Dalam perjalanan pernikahan, sang orang tua memaafkan sang anak dan menerima pernikahan yang telah terjadi. Benar nampaknya kata Martin Luther Jr, “ Kegelapan tak akan mampu mengusir kegelapan. Hanya sinar lampu yang mampu melakukannya. Kebencian tak dapat mengusir kebencian. Hanya kasih yang dapat melakukannya “.

Seorang kawan saya, seorang CEO yang dikenal sebagai seorang yang smart dan berani, bernyali besar untuk melakukan banyak hal  yang bagi orang lain merupakan suatu hal yang nekad. Tak segan ia menerobos aturan yang dianggapnya menghambat niatnya. Begitu menghadapi masalah yang butuh kenekadan itu, biasanya dia akan berargumen, “ Habis bagaimana ? Bisnis kan musti cepat ada keputusan. Kalau  suka ragu-ragu, kan semua bisa repot ? Gua kan penanggung jawabnya. Ya udah, gua putusin aja dulu. “. Dan biasanya dia akan melanjutkan ucapannya, “ Kan lebih baik minta maaf dari pada minta izin ? “, sembari tertawa.

Soal maaf-memaafkan jenis kawan saya di atas memang bisa menjadi suatu pilihan sikap. Ada plus minusnya. Plusnya adalah pekerjaan berjalan dalam kecepatan sesuai harapan. Minusnya adalah tumbuh dampak negatif, kredibilitas yang bersangkutan bisa rusak. Sangat berbahaya dan merugikan, karena kredibilitas adalah hal utama dalam meraih sukses dalam kehidupan.

Memaafkan dan melupakan juga suatu perdebatan sendiri. “ Maafkan musuh-musuh Anda, tapi jangan pernah lupakan namanya “, kata John F. Kennedy. Pendapat tersebut berbeda dengan pandangan Henry Ward Beecher, seorang aktivis penentang perbudakan di abad 19, “ Saya dapat memaafkan, tapi tak dapat melupakan, adalah suatu cara lain untuk menyatakan tak dapat memaafkan “. Namun pandangan Kennedy diamini oleh Thomas Szasz, seorang profesor psikiatri asal Hungaria , “ Orang yang bodoh tak akan melakukan kedua-duanya, memaafkan dan melupakan. Orang yang naïf memaafkan dan melupakan. Orang yang bijaksana memaafkan namun tak akan melupakan “.

Mau memaafkan, namun tak mau melupakan ( forgive but not forget ), nampaknya merupakan suatu pandangan, bahwa betapapun yang terjadi, aspek pembelajaran haruslah tetap menjadi pegangan.  Manusia bisa khilaf dan salah. Manusia juga bisa dan harus mau memaafkan, namun tetap tak boleh melupakan. Karena dengan melupakan, manusia kehilangan esensi pembelajaran.

Hakikatnya, maaf-memaafkan sudah menjadi tradisi pelbagai bangsa. Bagi para pemeluk agama Islam, misalnya, budaya memaafkan antara lain diingatkan pada saat hari raya Idul Fitri. Di hari suci itu, wajib hukumnya untuk saling memaafkan satu sama lain. Memberi maaf adalah suatu hal yang mulia, sebagaimana kita memberi hal-hal kebaikan yang lain kepada sesama. “ Memaafkan adalah suatu kebajikan dari orang-orang pemberani, “ kata Indira Gandhi. Sementara, advis yang menyehatkan berikut ini dari Bernard Baruch, seorang pemain saham, negarawan dan filantropis Amerika, layak kita renungkan, “ Suatu rahasia hidup yang panjang dan manis adalah memaafkan setiap orang, setiap hal dan setiap malam sebelum Anda beranjak tidur “.

Penulis:

Pongki Pamungkas

Penulis buku The Answer is Love

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kiat manajemen INSIGHT

Sumber : Bisnis Indonesia Week End edisi 25/1/2015

Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top