Skateboard, Longboard Hingga Boks Perhiasan dari Olahan Bambu

Berbagai kreasi unik dapat diciptakan dari bahan bambu. Salah satu perajin yang berkreasi mengolah bambu antara lain Adang Sofyan. Pria 59 tahun yang memiliki workshop di Ujungberung, Jawa Barat, ini juga sudah menggeluti bisnis bambu sejak tahun enam tahun lalu.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 10 Januari 2016  |  21:59 WIB
Skateboard, Longboard Hingga Boks Perhiasan dari Olahan Bambu
Skateboard bambu - dokumentasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Berbagai kreasi unik dapat diciptakan dari bahan bambu. Salah satu perajin yang berkreasi mengolah bambu antara lain Adang Sofyan. Pria 59 tahun yang memiliki workshop di Ujungberung, Jawa Barat, ini juga sudah menggeluti bisnis bambu sejak tahun enam tahun lalu.

Perajin bambu ini dapat membuat beraneka macam produk dari bambu. Produk yang belakangan ini paling sering dibuatnya adalah lampion, boks, skateboard dan longboard.

Di luar itu, dia juga pernah membuat berbagai jenis perkakas lain seperti termos air, kitchen kabinet untuk didapur, kursi tamu, kursi makan, saung atau joglo, boks perhiasan, boks sepatu, album foto, busur panah, mainan anak-anak seperti mobil-mobilan dan pesawat, hiasan berbentuk perahu naga, sepatu sandal hingga alat musik seperti biola.

Adang juga meladeni pesanan untuk membuat flooring atau lantai dari bahan bambu.

“Pada dasarnya saya bisa membuat barang-barang, tetapi tidak ada yang saya produksi secara khusus karena saya menyesuaikan dengan pesanan yang masuk,” tuturnya.

Sejak awal ayah dua anak ini memberlakukan sistem made by order. Hal itu, antara lain, untuk menyiasati masalah kurangnya tenaga kerja.

Dia mengaku saat ini masih kerja sendiri. Kendati demikian, Adang selalu berusaha untuk meladeni permintaan yang masuk secara professional dan membuatnya sesuai waktu yang disepakati.

Tidak ada jumlah pesanan minimal untuk mengorder produk olahan bambu buatan Adang. Sistem pengerjaan secara handmade membuatnya dapat meladeni pesanan kendati hanya berjumlah satu unit.

Dia berusaha memberikan nilai tambah  dan keunikan pada tiap produk yang dibuatnya misalnya dengan seni ukir.

Menurutnya kreatifitas adalah salah satu senjata andalan agar dapat bersaing dengan maraknya gempuran produk sejenis yang diimpor dari China.

 “Sulit jika kita mau bersaing dari segi harga dengan produk China yang biasanya lebih murah, oleh karena itu kita harus dapat memiliki nilai lebih lain, misalnya dari segi kreatifitas,” tuturnya.

Dalam sehari, dia mampu memproduksi sekitar 2-3 boks untuk perhiasan dengan ukuran 10cm x 12 cm yang dilengkapi dengan ukiran khusus. Satu boks perhiasan dijualnya dengan harga Rp300.000.

Adapun sandal dari bambu dijualnya dengan harga Rp100.000. Untuk produk yang lebih besar seperti Skateboard dan longboard dijual dengan harga mulai dari Rp1,2 juta – Rp1,5 juta. Biola bambu dibanderol Rp3 juta. 

Dalam berkreasi, Adang dapat memanfaatkan semua jenis bambu. Jika pesanan yang masuk berukuran kecil-kecil, biasanya dia membeli bahan baku dari penjual bambu pinggir jalan yang ada di sekitar bengkelnya.

Namun jika sedang menggarap pesanan berkuran besar  atau berjumlah banyak, dia akan membeli 1-2 truk bambu dari petani yang berlokasi di sekitar Jawa Barat seperti dari Cililin, Cirebon dan Garut.

“Jenis bambu yang digunakan akan saya sesuaikan dengan kebutuhan. Beda jenis bambu, beda jenis kelenturan yang dihasilkan. Misalnya untuk membuat longboard atau skateboard, tingkat kelenturannya akan saya sesuaikan dengan bobot tubuh calon pemakainya,” jelasnya.

Menurut Adang, prospek usaha olahan dari bambu sangat menjanjikan. Bahan baku yang melimpah dan mudah ditemukan di hampir seluruh daerah di Indonesia membuat usaha ini dapat dilakoni di mana saja.

Begitu juga dengan pasarnya yang terbuka luas, tidak hanya dalam negeri tetapi juga manca negara. Sudah bukan rahasia, produk-produk dari bahan bambu buatan perajin Indonesia banyak diminati konsumen asing.

Akan tetapi para perajin bambu banyak yang sulit berkembang lantaran kurangnya dukungan pemerintah. Banyak perajin yang tidak mampu bersaing karena kalah dari segi kapasitas produksi meskipun tidak kalah dari segi kualitas dan keunikan ide dan desain.

“Misalnya, seperti saya, terus terang sampai saat ini masih sulit membesarkan usaha ini dan meningkatkan kapasitas karena kurangnya permodalan dan juga skill SDM. Tidak semua SDM mampu siap tempur,” jelasnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top