Gelar Sarjana, Masihkah Penting untuk Mencari Kerja?

Dulu, saat gelar sarjana masih menjadi pilihan dan syarat untuk diterima kerja, dan para kandidat pencari kerja dibeda-bedakan berdasarkan tingkat pendidikan yang mereka enyam.nn
Wike Dita Herlinda | 27 Mei 2017 12:25 WIB
Ilustrasi-wisuda - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Dulu, saat gelar sarjana masih menjadi pilihan dan syarat untuk diterima kerja, dan para kandidat pencari kerja dibeda-bedakan berdasarkan tingkat pendidikan yang mereka enyam.

Namun, berdasarkan penelitian JobStreet Indonesia, sekarang semua itu tidak lagi terlalu dilihat oleh perusahaan. Meskipun demikian, bukan berarti gelar pendidikan tidak menjadi nilai tambah bagi para pelamar kerja.

Memang beberapa perusahaan masih mengharapkan pelamar memiliki gelar sarjana, tetapi gelar itu tidak akan memberi perbedaan signifikan dalam hal membuka kesempatan diterima kerja bagi mereka. Pasalnya, pendidikan tinggi kini lebih mudah dicari dan ditempuh.

Apalagi, mendapatkan gelar sarjana kini bisa didapatkan secara online dan banyak universitas luar negeri yang membuka kampus cabang di seluruh Asia. Gelar sarjana pun menjadi sesuatu yang ‘lumrah’dan bukan lagi sebuah keistimewaan.

Jadi, sekadar mengandalkan curriculum vitae pada gelar sarjana yang diperoleh, ada baiknya para pelamar kerja lebih fokus pada hal-hal lain yang lebih membuka peluang mereka untuk diterima kerja. Apa sajakah itu?

Menurut penelitian terbaru The Independent, 58% perusahaan menempatkan pengalaman kerja sebagai kualifikasi paling populer untuk menerima pegawai baru, dan 48% lainnya menempatkan pengalaman kerja sebagai faktor terpopuler kedua.

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat memperkirakan hanya 33% pekerjaan di AS yang membutuhkan gelar sarjana. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran fokus kualifikasi rekrutmen ke faktor pengalaman dan pelatihan di bidang yang dibutuhkan.

Dari penelitian terhadap 500 perusahaan yang dilakukan oleh University of Hertfordshire, hampir 50% dari responden yang disurvei merasa lebih menyukai faktor pengalaman kerja yang relevan sebagai persyaratan merekrut pegawai baru.

Hanya satu dari 4 perusahaan yang tertarik pada gelar sarjana. Bahkan, mereka cenderung tidak terlalu memperhitungkan reputasi universitas sebagai pertimbangan untuk merekrut pegawai baru.

Campus and Institutional Event Executive JobStreet Indonesia Satya Sultanudin mengatakan secara umum ada 10 hal utama yang dilihat oleh perusahaan saat mempertimbangkan rekrutmen pegawai baru.

“Sepuluh hal itu mencakup pengalaman kerja yang sesuai, etika di tempat kerja, sarjana di bidang apa, semangat, kedewasaan, klasifikasi pendidikan, ramah, reputasi universitas, ambisi dan tujuan karier, serta kepemimpinan,” paparnya.

Dia menjelaskan ketimbang menonjolkan gelar sarjana dan universitas almamater pada surat lamaran kerja, lebih baik para kandidat pelamar kerja lebih fokus untuk memenuhi kriteria lain yang dibutuhkan perusahaan.

“Fokuslah untuk memiliki keterampilan apa yang diharapkan oleh perusahaan; baik keterampilan teknis, praktis, maupun keterampilan-keterampilan lain yang dapat dipindahtangankan,” ujarnya.

Selain itu, fokuslah pada keterampilan-keterampilan yang tidak bisa didapatkan di universitas. Misalnya, keterampilan memberikan gagasan dan ide cemerlang untuk mengembangkan perusahaan.

“Waktu berubah, dan begitu pula persepsi tentang nilai yang dirasakan dari keterampilan dan atribut seseorang sebagai karyawan. Jangan khawatir jika kualifikasi Anda lebih rendah dibandingkan kualifikasi akademis rekan kerja Adna. Sebab, pengalaman kerja dan sikap Anda akan lebih dihargai oleh perusahaan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pekerjaan, sarjana

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top