Bisnis Panganan Kacang Mede, Memburu Sumber Bahan Baku Berkualitas

Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah mungkin tidak populer di masyarakat luas. Tetapi, daerah ini ternyata merupakan salah satu penghasil kacang mede yang berkualitas di Indonesia.
Annisa Margrit | 10 Desember 2017 13:53 WIB
Nutty. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah mungkin tidak populer di masyarakat luas. Tetapi, daerah ini ternyata merupakan salah satu penghasil kacang mede yang berkualitas di Indonesia.

Dari wilayah inilah pasangan suami istri Ediearta Moerdowo dan Ardika Rizky Saputri mendapatkan sebagian besar bahan baku untuk bisnis olahan kacang mede mereka, Nutty. Jika tidak mencukupi, barulah mereka mengambil kacang mede dari daerah lain seperti Sumbawa atau Bali.

Maklum, pesanan yang masuk per bulannya bisa mencapai 100 kilogram dari online shop. Sementara itu, penjualan lewat toko dan ritel modern dapat menyentuh 500 pieces tiap bulan. Tiap kemasan memiliki berat rata-rata 80 gram.

Ardika menjelaskan bisnis ini dijalankan secara tak sengaja. Setelah sang suami berhenti bekerja, orang tua menawari mereka untuk menjual kacang mede. Bermula dari menjual 2 kilogram kacang mede melalui Facebook, permintaan terus meningkat hingga akhirnya mencapai 50 kilogram.

"Nutty dimulai dari keinginan kami untuk meningkatkan penjualan kacang mede. Dengan volume sedikit diharapkan harga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Jadi, tidak harus membeli dalam jumlah kiloan yang tentunya harganya cukup mahal," terang dia.

Meski Wonogiri menjadi sumber bahan baku utama, tapi Nutty berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah. Adapun modal awal ketika memulai bisnis ini hanya Rp2 juta, yang diberikan oleh orang tua.

Inovasi menjadi hal penting bagi Nutty. Setelah sukses memasarkan kacang mede original, permintaan untuk menjual varian rasa lainnya pun berdatangan. Permintaan pertama adalah kacang mede karamel yang datang dari seorang teman.

Akhirnya setelah mencoba berbagai resep hasil berburu di internet, Nutty pun berhasil membuat resep sendiri. Sekarang, Ardika dan suaminya sudah mempunyai 7 varian rasa yakni original goreng, original oven, pedas, barbeque, cokelat, keju, dan karamel.

Dengan modal yang relatif minim, sekarang Nutty dapat memperoleh omzet di kisaran Rp30 juta per bulan. Harga jualnya berkisar Rp19.000 per pieces.

Harga diklaim sebagai salah satu keunggulan produk Nutty. Selain itu, lanjut Ardika, terdapat rasa khas susu dari kacang mede.

Saat ini, pelanggan Nutty datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua.

"Konsumen merata di seluruh Indonesia karena penjualan online," sebut dia.

Penjualan online dilakukan lewat Facebook dan marketplace seperti Shopee, Tokopedia, serta Bukalapak. Sementara itu, pemasaran di ritel modern melalui Indomaret, Carrefour, Atria Swalayan, dan beberapa toko oleh-oleh terutama di Jawa Tengah.

Meski sudah akrab dengan skema penjualan online, tapi Ardika mengatakan prosesnya ternyata lebih rumit dari yang diperkirakan. Diperlukan juga iklan yang intensif untuk memperkenalkan produk baru ke masyarakat. Ditambah lagi, kacang mede terlanjur mendapatkan pandangan negatif dari masyarakat karena dianggap mengandung kolesterol yang tinggi.

Untuk itu, dia menyatakan ke depannya Nutty akan lebih memaksimalkan pemasaran dan iklan di media sosial. Penetrasi ke ritel modern di wilayah Jakarta pun diharapkan dapat terealisasi karena ibukota dipandang sebagai pasar yang paling potensial.

 

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top