PELUANG USAHA: Kangen Rumah Nenek, Foto Saja Di Sini

Empat tahun sudah Lukman berkecimpung di bisnis studio foto di Yogyakarta.
Rayful Mudassir | 07 Januari 2018 14:19 WIB
Bergaya di foto studio Sinten. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Empat tahun sudah Lukman berkecimpung di bisnis studio foto di Yogyakarta.

Berawal dari kebanggaan dan tekadnya memperkenalkan wajah Indonesia, dia membentuk studio foto yang lain dari biasanya, yakni dengan mengedepankan konsep nuansa tradisional tempo dulu.

Tak sekadar menjadi sarana foto, studio yang diberi nama Studio Sinten itu sukses disulap sebagai tempat bagi konsumen untuk mengenang masa lalu.

Studio foto Sinten pertama kali dibuka di Jalan Diponegoro 1B Yogyakarta, lalu berkembang menjadi ruang studio menjadi lebih berkelas dengan polesan background nuansa Jogja 1950-an . Kelengkapan atribut dan pernik tempoe doeloe, menjadi kekuatan seni foto studionya.

Setiap kali menjepret kameranya, seluruh aksesori dan peralatan asli disertakan untuk memenuhi falsafah masyarakat Jawa. Misalnya, untuk pemotretan keluarga, Lukman akan melengkapi sesi foto dengan lima perangkat yang sesuai dengan falsafah Jawa, seperti

griyo (rumah), wanito (pasangan), kukilo (hobi), turonggo (kendaraan) dan curigo (senjata). 

"Setiap sesi foto, akan ada lima unsur ini. Jadi bukan sekadar foto saja melainkan kelengkapan dan unsur budaya setempat menyatu dan selaras," kata Lukman kepada Bisnis, baru-baru ini.

Hobinya sebagai kolektor barang-barang antik, seperti lukisan dan patung, membuat dirinya tak terlalu repot mencari alat pendukung di studio. Meski begitu, dia tetap berburu barang antik lain ke sejumlah tempat. Barang antik menjadi kekuatan Sinten untuk menemukan suasana lawas.

"Saat masuk studio, ada yang bilang ‘wah ini kan yang ada di rumah nenek’, ‘wah ini kan dulu kita punya’. Mereka seakan hanyut terbawa ke masa itu," kenang Lukman.

Perasaan yang paling ditunggu Lukman ialah saat objek foto mulai melihat hasilnya. Biasanya pelanggan akan terkejut melihat hasil jepretan Sinten. Banyak yang tidak percaya dengan hasilnya karena sama persis seperti foto lama. "Kami sesuaikan dengan tahunnya, sehingga mereka nyaris tidak percaya kalau itu mereka sendiri."

Totalitas Lukman berbuah pada pembangunan studio alam. Memanfaatkan lahan seluas 1.800 meter persegi, Lukman mendirikan studio alam dengan konsep Jawa yang cukup kental di Desa Dawangsari, Bokoharjo, Prambaran, Jogja.

Sinten mendirikan empat Jineman (bangunan kecil di depan rumah) khas Jawa dengan total seluas 500 meter persegi. Masing-masing Jineman memiliki model berbeda seperti, gaya arsitektur Semarang, Joglo Pesisiran, model atap Limasan serta Joglo Jawa Tengah 

"Studio alam ini memiliki pemandangan yang indah di mana bisa melihat Merapi dan Candi Prambanan secara utuh dan merupakan bagan dari pembelajaran dan pengenalan kehidupan desa di Jawa Tengah khususnya Jogja," sebutnya.

Berbekal ketekunan dan ide kreatif ini, Studio Sinten kini kebanjiran jadwal foto baik di studio dalam maupun di alam. Bahkan, dalam 2 tahun, Sinten terus berkembang.

Sejak awal pembukaan hingga kini, Sinten semakin menjadi magnet di Kota Jogja. Sampai-sampai kaum milenial menyebut slogan, 'tidak sah ke Jogja kalau belum ke Sinten'. 

Pada hari biasa, Sinten menerima booking foto satu atau dua grup saja. Namun, saat akhir pekan, jumlah kelompok yang ingin berfoto meningkat tajam. Apalagi saat libur pajang, Sinten bisa menerima order foto hingga 10—25 grup.

Kerja keras Sinten terbayar. Kini, studio Sinten bisa ditemui di Bali, Bandung, dan Jakarta. 

Di Bali, Sinten membuat nuansa peradaban keluarga kerajaan Ubud Bali era 1920—1936. Di Bandung, Lukman membangun suasana peradaban Sumedang pada 1940-an. Di Jakarta, Sinten mengangkat tema Sumpah Pemuda, tepatnya suasana pergerakan di Batavia 1908—1928.

“Antusiasme warga asing cukup tinggi, di Bali sampai 90%, Jogja 5%, Bandung 10%, didominasi oleh warna negara Belanda, Singapura, dan Malaysia.”  

Tag : peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top