Kemendes Percepat Reformasi Birokrasi Entaskan Kemiskinan di Desa

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mempercepat reformasi birokrasi di kalangan pegawai dalam tugasnya mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Fatkhul Maskur | 17 April 2018 10:00 WIB
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo. - Kemendes

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mempercepat reformasi birokrasi di kalangan pegawai dalam tugasnya mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengungkapkan pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan akan jadi bensin yang efektif yang memungkinkan terjadinya gejolak sosial.

"Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan reformasi birokrasi terus digenjot. Hasil kerja keras tersebut memberikan pencapaian-pencapaian yang lebih baik dari tahun sebelumnya," ujar Mendes seperti dikutip dalam siaran pers diterima Bisnis, Selasa (17/4/2018).

Dia mengatakan bahwa kerja keras telah membuahkan nilai akuntabilitas kinerja dan reformasi birokrasi (hasil penilaian Kemenpan Rerormasi Birokrasi pada 2015 dari CC menjadi B pada 2016. Tata kelola arsip (ANRI) 2016 dari 3 kementerian terburuk (dari total 34 kementerian) dan pada tahun 2017 menjadi juara harapan III.

Standar pelayanan public (hasil penilaian ombudsman) pada 2016 masuk zona merah (standar pelayanan public rendah), namun 2017 sudah masuk zona kuning. Laporan keuangan (BPK) dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) pada 2016 menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tunjangan kinerja dari 47% menjadi 60%.

Untuk lebih meningkatkan lagi kualitas pegawai di lingkungan Kemendes PDTT, dirinya akan terus meningkatan anggaran peningkatan SDM hingga tunjangan kinerja 90%. Untuk itu dirinya berharap ada peningkatan kinerja.

“Kinerja bisa dilihat dari berapa banyak desa desa tertinggal yang bisa kita tingkatkan levelnya, berapa banyak daerah transmigrasi sejahtera dan berapa banyak mengurangi kemiskinan,” katanya saat membuka Workshop Pemantapan Reformasi Birokrasi bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kemendesa PDTT di Kantor Kemendes PDTT, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Dirinya menegaskan, mulai tahun depan anggaran akan ditentukan berdasarkan kemampuan direktorat masing-masing. Mungkin ada direktorat yang hanya akan diberikan anggaran untuk gaji saja. Ia menjelaskan kenapa pagu anggaran dikurangi dari 5,6 Triliun jadi 4,5 Triliun karena penyerapan anggarannya masih rendah.

"Mengubah satu paradigma tidak gampang. Pertama, bentuk struktur organisasi dengan objektif, kedua menempatkan orang diposisi yang pas. Ketiga laporan dari BIN, PPATK, Pansel, keempat diserahkan ke user masing-masing. Kita mau creat super team,” imbuhnya.

Sekretaris Deputi Bidang Reformasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan Kementerian PANRB Didit Nurdiatmoko menyampaikan hasil evaluasi Kemenpan RB terkait Kemendes PDTT mengenai evaluasi akuntabilitas kinerja dan progres reformasi birokrasi.

Pada 2016 akuntabilitas dari CC ke B. Tahun 2017 masih tetap di B. Reformasi Birokrasi tahun 2016 indeksnya di B, tahun 2017 masih di B, walaupun ada peningkatan. Hasil survei terkait dengan reformasi birokrasi mengalami penurunan, walaupun upaya-upaya yang dilakukan semakin membaik.

“Ketika definisi kinerja sudah jelas maka akan bergerak bagaimana organisasinya. Ketika bicara organisasi tidak langsung terhadap kinerja. Ketika bicara SDM menunjang kinerja organisasi,” ujarnya.

Dirinya berpesan, kebijakan-kebijakan reforma pastikan sampai ke pihak bawah dan pihak lain yang bersinggungan dengan Kemendes PDTT.

Workshop ini dihadiri Pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama juga Pokja, serta narasumber Eko Prasojo sebagai Guru Besar Departemen Ilmu Adinistrasi FISIP UI dan  Rhenald Kasali sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UI.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top