Masayosi Son: Si Ambisius Pendiri SoftBank

Masayoshi Son adalah pendiri SoftBank, perusahaan telekomunikasi dan internet multinasional asal Jepang, dan saat ini menjabat sebagai CEO Sprint Corporation.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 Agustus 2018 08:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Masayoshi Son adalah pendiri SoftBank, perusahaan telekomunikasi dan internet multinasional asal Jepang, dan saat ini menjabat sebagai CEO Sprint Corporation.

Masayoshi menjadi salah satu orang terkaya di Jepang. Lahir dari keluarga Korea Zainichi generasi kedua di Jepang, Masayoshi menjadi seorang pekerja keras dan ambisius sejak kecil.

"Kamu adalah seorang jenius, nomor 1 di Jepang. Kamu akan menjadi orang besar." ungkap Son saat menirukan apa yang ayahnya katakan kepadanya, dalam wawancara oleh Bloomberg di tahun 1987.

Semangat usahanya meningkat saat pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya. Di sana, ia belajar ekonomi dan ilmu komputer di University of California, Berkeley. Pada saat inilah, Masayoshi tertarik dalam berwirausaha dan sekembalinya ke Jepang mendirikan sebuah perusahaan distribusi perangkat lunak bernama Nihon SoftBank.

Early Life

Masayoshi Son lahir pada 11 Agustus 1957, di Tosu, Saga, Jepang, dari keluarga Korea Zainichi generasi kedua. Sejak kecil Mayoshi juga  terpesona dengan Amerika dan memutuskan pergi ke AS untuk program studi luar negeri jangka pendek ketika ia berusia 16 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti sekolah di Jepang dan pindah ke AS untuk jangka waktu yang lebih lama.

Dia menyelesaikan sekolah menengahnya dan melanjutkan ke Holy Names University. Setelah dua tahun, ia pindah ke Universitas California, Berkeley. Di sana, ia belajar ilmu ekonomi dan komputer.

Di masa itu, ia menyadari bahwa teknologi komputer akan segera merevolusi dunia bisnis dan ia dapat melihat peluang dari bisnis microchip. Dengan semangat ini, ia memutuskan untuk memunculkan setidaknya satu gagasan usaha sehari. Pada akhir tahun, ia memiliki lebih dari 250 gagasan dan beberapa di antaranya akan menjadi bisnis besarnya di masa depan. Dia lulus dengan gelar BA di bidang ekonomi pada tahun 1980.

Setelah lulus ia mulai mendirikan perusahaan bernama Unison yang berbasis di Oakland, California. Perusahaan itu kemudian dijual ke perusahaan multinasional Jepang, Kyocera. Masayoshi kemudian kembali ke Jepang dan mendirikan sebuah perusahaan distribusi perangkat lunak bernama Nihon SoftBank pada tahun 1981/.

Meskipun tidak memiliki perangkat lunak untuk dijual, wirausahawan muda itu mampu meraih kesepakatan eksklusif dengan peritel elektronik Osaka, Joshin dan pengembang perangkat lunak Hudson.

Kesepakatan itu terbukti sangat menguntungkan dan dalam beberapa tahun, SoftBank naik ke puncak industri komputer di Jepang dengan meraih sekitar 50% pangsa pasar ritel nasional untuk perangkat lunak komputer pada 1984.

Keberhasilan perusahaan memotivasi Masayoshi untuk mengembangkan sayap ke arena lain dan ia terlibat dalam perangkat perutean telepon, penerbitan majalah, pameran dagang Comdex, dan layanan internet broadband. Namun, tidak semua usaha tersebut sukses. Dia kehilangan hampir satu miliar dolar pada Kingston Technologies pada akhir 1990-an.

Dia menghadapi kerugian besar pada tahun 2000. Selama era penurunan dot com, dia kehilangan sekitar US$70 miliar. Namun, bahkan kerugian sebesar ini tidak dapat mematahkan semangatnya dan ia dengan kembali berupaya membangun kekayaannya.

Di tahun yang sama, ia menginvestasikan US$20 juta di Alibaba, sebuah perusahaan e-commerce baru China. Hal ini terbukti menjadi investasi yang tepat karena selama bertahun-tahun Alibaba mencatat pertumbuhan fenomenal dan penawaran umum perdana Alibaba pada tahun 2014 membuat saham SoftBank di perusahaan milik Jack Ma tersebut bernilai lebih dari US$50 miliar.

Pada tahun 2001, ia bekerja sama dengan Yahoo! Jepang mendirikan Yahoo! BroadBand dan menjadi pemegang saham pengendali. Akhirnya Yahoo! BB mengakuisisi Japan Telecom, penyedia layanan broadband dan telepon terbesar ketiga dan saat ini dan saat ini menjadi penyedia broadband terkemuka di Jepang.

SoftBank berusaha memasuki pasar ponsel yang sedang booming bertahun-tahun sebelum mengakuisisi Vodafone Jepang senilai US$15 miliar pada 2006. Meskipun Vodafone Jepang berada di ambang kehancuran pada saat akuisisi, Son berhasil membangun perusahaan tersebut sendiri sebagai kekuatan yang tangguh di industri telekomuinikasi Jepang. SoftBank Mobile miliknya saat ini adalah perusahaan telekomunikasi paling menguntungkan di Jepang.

Pada 2013, ia mengakuisisi saham mayoritas di Sprint Nextel, perusahaan induk telekomunikasi Amerika, senilai US$22 miliar. Ini menjadi akuisisi asing terbesar oleh perusahaan Jepang hingga saat ini. Saat ini Sprint adalah operator jaringan nirkabel terbesar keempat di AS.

Tag : softbank, tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top