Masdar Melawan Kekayaan Minyak

Masdar, tak pelak lagi, merupakan sang bintang di tengah padang pasir Rub al Khali. Proyek pembangunannya menelan dana sedikitnya US$22 miliar!
Inria Zulfikar | 21 September 2018 15:33 WIB
Ferrari World di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Berbicara soal gagasan atau ambisi mencetak SDM andal, lagi-lagi kita bisa belajar dari keberhasilan negeri lain.

Simak apa yang dilakukan Masdar Institute of Science and Technology (Masdar Institute). Dari namanya terdengar mirip-mirip kampus jempolan AS, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Itu rencana jangka panjang yang mendapat ‘pengawalan khusus’ negara kaya minyak yang tidak mengandalkan masa depannya pada minyak. Aneh juga kedengarannya. Namun itulah yang terjadi di Abu Dhabi, emirat cilik di Timur Tengah.

Andalan masa depan penguasa negeri itu bagi kemajuan rakyatnya di masa mendatang adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Masdar mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki MIT. Ia merupakan universitas pertama dunia yang menyelenggarakan riset postgraduate di bidang ilmu pengetahuan dan rekayasa yang berfokus pada energi alternatif dan kelangsungan hidup kota ramah lingkungan (green city).

Masdar, tak pelak lagi, merupakan sang bintang di tengah padang pasir Rub al Khali. Proyek pembangunannya menelan dana sedikitnya US$22 miliar!

Maklum, ia bukan sekadar sekolah tinggi beserta fasilitas pendukungnya yang modern. Lebih dari itu, Masdar bisa dibilang merupakan kota mandiri yang dirancang secara mutakhir tetapi tetap ramah dengan lingkungan sekitarnya.

Tidak berlebihan bila Newsweek pernah menyebutnya dengan julukan kampus hijau (A green university). Reputasi tersebut dipertaruhkan dengan dukungan teknologi dan rancang bangun palin mutakhir.

Bila tidak ada aral melintang, dalam satu dekade mendatang, Masdar diproyeksikan menampung sekitar 40.000 penghuni dalam suasana kota masa depan.

Betapa tidak? Keperluan energi warganya dipasok oleh tenaga surya. Untuk menjaga lingkungan tetap bersih, kendaraan bermotor tidak boleh beroperasi. Sampah pun niscaya juga tidak boleh ada. Pokoknya, lingkungan di Masdar dirancang bebas karbon.

Apakah ini mimpi Abu Dhabi untuk menyulap Masdar bagai Silicon Valley yang kondang itu? Bisa jadi demikian.

Untuk mewujudkan proyek kampus hijau, Abu Dhabi menggandeng MIT sebagai mitra utama dan didukung sejumlah perusahaan papan atas yang bergerak di bidang teknologi informasi.

Saat perkuliahan awal dibuka, para dosen di Masdar sebagian besar adalah orang-orang MIT. Kolaborasi dua lembaga pendidikan tinggi tersebut memang sangat erat dan strategis, misalnya dalam berbagai riset dan program pendidikan lanjutan.

Pemain Andal

Tentu saja, penguasa emirat kecil itu berambisi mendatangkan para pemain andal di bidang TI. Pada tahun pertama, Masdar memproyeksikan 25 tenaga pengajar berkualifikasi tinggi dari seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa sekitar 100 orang yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, dan AS. Biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung negara.

Adalah Norman Foster (Inggris) yang diserahi tanggungjawab mengubah wajah gurun Rub al Khali menjadi kota modern berkonsep masa depan yang ramah lingkungan.

Karena kendaraan bermotor tidak boleh beroperasi, pengembang menyediakan transportasi massal ringan berupa kereta yang mengantarkan manusia, barang, dan penglaju dari ‘kota surya’ (Masdar) dengan kota-kota lainnya.

Kemudahan lain yang akan dinikmati warga adalah disediakannya sekitar 3.000 wahana berjalan otomatis di atas rel berkapasitas maksimal 6 orang yang digerakkan oleh komputer.

Impian keluarga Al Nahyan, penguasa Abu Dhabi, tersebut memang bukan isapon jempol. Tak diragukan lagi, keluarga tersebut memiliki segalanya. Uang hasil minyak bumi seolah tak berkesudahan meski cenderung berkurang belakangan ini.

Dari segi pendanaan, rasanya tak ada yang meragukan kemampuan negara beraset US$1 triliun tersebut. Masdar bisa dibilang sebuah transformasi kultural yang berlangsung sangat cepat, dan ini bukannya tanpa risiko. Apalagi environmentalism merupakan barang baru di Abu Dhabi dan penerapannya relatif masih sebatas konsep.

Menanggapi keraguan tersebut, pemerintah menjawab  dengan lantang mengatakan bahwa sebagai negara utama penghasil minyak bumi, mereka berkewajiban memikul tanggungjawab sepadan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Kepedulian tersebut telah diperlihatkan kepada dunia dalam bentuk penyediaan prasarana dan sarana masa depan guna mengantisipasi menipisnya cadangan minyak bumi.

Pada 2005, pendekatan Sheik Zayed, penguasa saat itu, mendapat sambutan dari PBB dan menyebutnya sebagai Champion of the Earth. Hasilnya, proyek ramah lingkungan bertebaran di seluruh negeri yang menghabiskan dana US$15 miliar.

Abu Dhabi memang memiliki cara ‘unik’ untuk membuat wajah bumi lebih berseri.

Tag : sdm
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top