Cassandra Lin, Aksi Bocah 10 Tahun Mengubah Minyak Goreng Bekas Jadi Biodiesel

Cassandra Lin baru menginjak usia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar ketika memiliki ide membangun sebuah proyek untuk mengubah minyak goreng buangan menjadi bahan bakar.
Renat Sofie Andriani | 12 Oktober 2018 15:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Cassandra Lin baru menginjak usia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar ketika memiliki ide membangun sebuah proyek untuk mengubah minyak goreng buangan menjadi bahan bakar.

Di usia yang masih sangat muda, Cassandra memang telah memiliki keinginan untuk melakukan hal nyata yang dapat membantu lingkungan sekitarnya. Baginya, usia bukanlah faktor penentu apakah seseorang benar-benar memiliki keinginan untuk membuat perbedaan atau tidak.

Melalui ide cemerlangnya, TGIF (Turn Grease Into Fuel) berdiri. Organisasi ini mengumpulkan minyak goreng bekas dari restoran-restoran untuk dapat didaur ulang dan diubah menjadi bahan bakar hayati (biodiesel) bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Cassandra dan timnya di Proyek TGIF telah ditampilkan dalam banyak artikel dan publikasi. Ia sendiri didaulat masuk dalam banyak daftar usahawan muda maupun yang berkaitan dengan lingkungan.

Yang paling bergengsi mungkin adalah daftar 25 Orang Muda Paling Berpengaruh di Dunia oleh Youth Service America. Pengakuan ini benar-benar menunjukkan bagaimana Cassandra begitu menginspirasi banyak orang.

Peduli Lingkungan

Lahir pada tahun 1998 di Westerly, Rhode Island, Cassandra tumbuh dalam sebuah keluarga yang memiliki dedikasi besar untuk membantu masyarakat.

Sifat dan kebiasaan sosial dalam keluarganya menular dalam diri Cassandra. Sedari kecil ia telah memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berkeinginan membantu sesama dengan cara-cara yang tak banyak dipikirkan oleh gadis seusianya.

“Saya mendengar isu perubahan iklim yang semakin dahsyat. Saya menemukan bahwa penyebab utama masalah global ini adalah konsumsi manusia dari bahan bakar fosil. Kita membakar begitu banyak batu bara dan minyak sehingga dunia kita secara harfiah memanas,” jelasnya di kemudian hari.

“Tentu saja, sebagai seorang gadis muda di dunia yang besar ini, saya benar-benar merasa ngeri,” tambahnya, dilansir dari My Name My Story.

Ia menyadari tinggal di sebuah kota pantai kecil yang hanya memiliki waktu tempuh lima menit dari lautan. Jika pemanasan global dibiarkan berlanjut dengan laju saat itu, bagian-bagian dari kotanya dan banyak wilayah lain pada akhirnya bisa terendam air.

“Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan melakukan segala upaya semampu saya untuk mencoba dan menghentikan permasalahan yang memburuk ini,” tekadnya.

Hal 'Kecil' di Usia 10 Tahun

Cassandra kemudian menghimpun teman-temannya dan membentuk tim layanan masyarakat yang berdedikasi untuk membantu masyarakat dan lingkungan pada saat yang bersamaan.

Kelompok mereka dinamakan tim WIN (Westerly Innovations Network), yang namanya diinspirasikan dari sebuah kelompok layanan masyarakat bentukan kakak laki-lakinya.

“Kemudian kami duduk di meja bundar, mencari tahu apa yang ingin kami capai. Apa yang bisa kami, anak-anak berusia delapan hingga sepuluh tahun, lakukan untuk membantu memecahkan masalah ini?” ujar Cassandra.

Layaknya kelompok ilmiah mereka berdiskusi dan bertukar pikiran. Mereka memahami bahwa pemanasan global dapat diperlambat dengan mengganti bahan bakar fosil dengan energi alternatif, seperti biodiesel.

Pada 2008, mereka berkesempatan menghadiri sebuah konferensi energi dan mempelajari bahwa minyak goreng buangan dapat dimurnikan menjadi bahan bakar hayati.

Namun, yang benar-benar menggerakkan kelompok mereka adalah sebuah artikel dalam surat kabar setempat. Artikel itu mengabarkan kegiatan amal para warga untuk memenuhi bantuan pemanas darurat bagi keluarga yang membutuhkan di tengah dinginnya New England.

Di sinilah, ide untuk TGIF bermula.

“Kami meningkatkan kesadaran akan pemanasan global dengan membagikan 6.300 selebaran, 4.500 kalender dapur, menayangkan PSA dengan COX Media dan membuat presentasi,” terang Cassandra.

Gaet Restoran dan Lobi Kencang

Dilansir Biodiesel Magazine, fokus awal Cassandra dan timnya ditujukan pada kampung halaman mereka di Westerly. Mereka mengunjungi restoran-restoran lokal dan mendorong perusahaan-perusahaan untuk berpartisipasi dalam program minyak goreng buangan (waste cooking oil).

Tak mudah memang bagi sebuah organisasi kecil berisikan sosok-sosok muda untuk menghadapi kerasnya dunia luar. Kelompok ini mendapati pertentangan karena banyak bisnis yang benar-benar menghasilkan pendapatan dengan menjual minyak bekas.

Cassandra turun tangan. Bocah ini melancarkan negosiasi cerdas. Perusahaan-perusahaan dapat berkontribusi sekitar 10% hingga 100% dari WCO mereka dan mempertahankan sisanya untuk dijual demi keuntungan.

Setelah melakukan banyak kunjungan serta bergulat dengan bermacam diskusi yang persuasif, Cassandra akhirnya mampu menggaet 132 restoran untuk berpartisipasi dalam program daur ulang WCO-nya.

Ia dan timnya menghubungi banyak perusahaan, di antaranya Grease Co., Newport Biodiesel, dan Guardian Fuel untuk membantu memurnikan dan mengolah minyak. Setiap bulannya, tim ini bisa mengumpulkan lebih dari 4.000 galon minyak bekas.

TGIF juga bekerja sama dengan organisasi-organisasi nirlaba lokal untuk mendistribusikan bahan bakar, khususnya kepada keluarga-keluarga yang kesulitan secara finansial dalam memenuhi kebutuhan untuk pemanas.

Prestasi Mengesankan

Bertahun-tahun kemudian, Cassandra telah mengembangkan metodenya serta memperluas jangkauan bantuannya ke komunitas-komunitas lain, di antaranya di Connecticut, Rhode Island, dan Massachusetts.

Dia juga telah mengembangkan sebuah toolkit, yang menyediakan dokumentasi untuk kelompok-kelompok lain untuk memulai proyek di komunitas mereka sendiri.

Semangat dan tekad Lin telah memberi manfaat bagi banyak keluarga dan lingkungan. Badan perlindungan lingkungan di Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA) memperkirakan adanya keseimbangan terhadap lebih dari 2 juta pon karbon dioksida karena penggunaan biodiesel WCO.

Prestasinya di usia muda yang sangat mengesankan bertambah. Ia menginisiasi dan membantu meloloskan Used Cooking Oil Recycling Act of 2011, sebuah aturan untuk daur ulang minyak goreng bekas, di Rhode Island.

Ia mampu meyakinkan Westerly School District untuk menjalankan bahan bakar hayati berdaur ulang serta berhasil menjalankan program TGIF-nya. Oleh banyak orang, Proyek TGIF serangkali disebut 'win-win solution'.

Namun di atas segala pencapaiannya, Cassandra ingin agar semua orang menyadari bahwa proyeknya adalah sesuatu yang dapat dilakukan dan diraih oleh siapa pun di mana saja.

“Biodiesel dapat digunakan dalam banyak cara, sangat serbaguna. Ini menjawab banyak kebutuhan dan [program TGIF] benar-benar mudah untuk dimulai,” ucap Cassandra dalam suatu kesempatan.

Pemimpin Masa Depan

Cassandra kini berusia 20 tahun dan adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus bergengsi, Stanford University. Namun, bukan berarti tekadnya untuk membuat perbedaan menjadi terhenti. Justru prestasinya semakin bergema.

Ia pernah didaulat sebagai salah satu peraih L'Oreal Paris Women of Worth. Penulis dan jurnalis kenamaan CNN, Anderson Cooper, bahkan menyebut Cassandra sebagai 'Young Hero'.

“Setelah melakukan program ini, saya merasa lebih sadar akan mereka yang kurang beruntung. Saya telah belajar banyak dari mereka dan dari pengalaman ini. Saya bisa melihat langsung dampak yang kami buat. Itu jelas mengubah saya,” ujar Cassandra dalam suatu wawancara, seperti dikutip The Extraordinary.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa untuk melakukan sesuatu yang baik bagi masyarakat, diperlukan banyak sumber daya, pelatihan, dan tenaga.

Terkadang kita berpikir harus memulai hal yang besar, dan karena itu pada akhirnya menjalani hidup tanpa mendapatkan kesempatan untuk membantu seseorang. Tapi ini jelas bukan pola pikir Cassandra.

Baginya, melakukan sesuatu yang baik untuk lingkungan di sekeliling Anda bisa dimulai dari tindakan baik kecil yang mungkin tampaknya tidak penting untuk ditawarkan. Ia juga percaya setiap anak adalah pemimpin masa depan.

“Sejak berusia muda, saya menyadari bahwa terkadang Anda tidak bisa menunggu perubahan untuk terjadi. Anda harus mewujudkannya, dan jadilah pahlawan Anda sendiri. Jika sekelompok anak usia 10 tahun dapat membuat perbedaan di dunia, Anda juga bisa!”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top