MANAJEMEN: Pemimpin Adalah 'Role Model' yang Mengarahkan Perubahan

Pemilihannya sebagai Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC), ternyata sangat tidak diduga oleh Chiefy Adi Kusmargono.
Oktaviano Donald Baptista & Fitri Sartina Dewi | 22 Oktober 2018 17:36 WIB
Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk Chiefy Adi Kusmargono (tengah) dan Direktur Pengembangan Bisnis Arif Isnawan, mendengarkan pembicaraan Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Sugeng Mulyadi, sebelum penawaran umum perdanan saham perseroan, di Jakarta, Senin (28/5/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Pemilihannya sebagai Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC), ternyata sangat tidak diduga oleh Chiefy Adi Kusmargono. Pasalnya, dia menilai penunjukan itu sebagai sebuah loncatan karier yang luar biasa.

“Saya kaget, kok tidak menjadi direktur bidang telebih dahulu, misalnya direktur komersial dan sebagainya, yang sesuai dengan kompetensi. Tiba-tiba langsung ini [dirut],” ujarnya saat berbincang santai dengan Bisnis di sky garden kantor pusat IPCC, Kamis (18/10) sore.

Kendati begitu, dia meyakini bahwa amanat ini merupakan kepercayaan yang datang dari kinerja yang ditunjukannya selama ini. Sebelum mengisi posisi sekarang, Chiefy menjabat sebagai General Manajer Pelabuhan Banten pada 30 Mei 2014—10 Maret 2017.

Memang, di pelabuhan curah kelas II ini, Chiefy mampu menunjukkan kemampuannya dalam meningkatkan dan mengembangkan layanan jasa pelabuhan. Dalam kurun 2 tahun, pelabuhan ini mampu naik peringkat menjadi pelabuhan utama.

Dengan kata lain, Pelabuhan Banten ini loncat dua tingkat langsung. Pelabuhan yang dikelolanya memang mampu meningkatkan kinerja keuangan secara signifikan.

Pada tahun awal kepemimpinannya, laba bersih Pelindo II di pelabuhan itu mencapai Rp98 miliar, meningkat dari Rp40 miliar pada tahun sebelumnya. Realisais itu meningkat menjadi Rp112 miliar pada tahun berikutnya dan menjadi Rp119 miliar pada tahun ketiganya.

“Dahulu hanya Tanjung Priok yang pelabuhan kelas utama, kelas 1 itu Lampung, Pontianak, Teluk Bayur dan lainnya,” ujarnya.

Chiefy mengakui ada perbedaan signifikan dengan kondisi dan lingkungan pekerjaan di daerah dibandingkan dengan Jakarta. Di daerah, jelasnya, para pekerja memiliki rasa kebersamaan yang kuat dan kemauan untuk berubah.

Dengan begitu, sebutnya, pemimpin hanya memiliki tugas untuk mengarahkan perubahan itu. “Caranya, kita menjadi role model,” ujarnya.

Perubahan di internal perusahaan dan layanan kepada customer itu pula yang menyebabkan Pelabuhan Banten mampu meraih sejumlah penghargaan, seperti zero accident dari Gubernur Banten, culture transformation terbaik, survei kepuasan pelanggan terbaik.

Penolakan terhadap gratifikasi, jelasnya, juga menjadi salah satu hal yang diterapkan kepada diri dan karyawannya.

“Saya tidak mau menerima uang, customer kasih vendor saya tidak terima. Saya bilang ke karyawan, jangan minta uang. Kalau butuh saya berikan, tetapi melalui tugas perusahaan,” ujarnya.

Satu poin lagi yang dilakukan Chiefy, dan dilanjutkannya di IPCC, adalah mengubah lingkungan kerja sehingga membuat karyawan nyaman. Hampir seluruh fasilitas kantor diperbaharui dan dibuat lebih ‘milenial’ dengan beragam fasilitas untuk mendukung kinerja dan hobi karyawan.

Dia bahkan turun tangan untuk mencari furniture dan desain interior sendiri. Semua langkah itu, kata Chiefy, dilakukannyan untuk membuktikan bahwa BUMN tidak kalah dengan korporasi lainnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : bumn, indonesia kendaraan terminal
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top