Beda Kultur, Satu Kongsi

Tidak ada perbedaan yang tidak dapat disatukan dalam berbisnis. Sebab itu, strategi mengenali kultur mitra perlu dicermati.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 25 Januari 2019  |  18:21 WIB
Beda Kultur, Satu Kongsi
Suasana bongkar muat kapal kontainer di Terminal Multiguna Pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, Kamis (27/12). PT Pelabuhan Indonesia I melepas kargo ekspor perdana di terminal tersebut dengan kapal Wan Hai 505, membawa 180 TEUs kargo ekspor tujuan China. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Menarik untuk menelisik cara-cara pebisnis mengembangkan jaringan perkongsian mereka di tingkat dunia, terutama bila pebisnis dari dua negara berbeda kultur ingin menggalang kerja sama strategis.

Melihat kemitraan bisnis yang berbuah keuntungan memang menyenangkan. Seolah tidak ada halangan yang tidak dapat disingkirkan.

Dari luar kesan demikian begitu kuat muncul. Padahal bila dicermati lebih mendalam, setiap pebisnis mempunyai gaya dan karakter masing-masing. Diangkat ke cakupan yang lebih luas, pengusaha Indonesia misalnya, memiliki kekhasan tersendiri dalam menjalin kemitraan.

Hal yang sama berlaku pula bagi pebisnis di negara-negara lain. Ambil saja contoh pengusaha Rusia dan China. Apa yang membedakan keduanya dalam melebarkan sayap usaha dan kemitraannya?

Bat Batjargal dalam tulisannya berjudul The Difference between Chinese and Russian Entrepreneurs (2008) memilah pokok-pokok perbedaan yang rasanya perlu diketahui juga oleh para pelaku usaha di Tanah Air.

Keunikan

Stelan jas boleh saja sama tetapi cara berinteraksi pengusaha di setiap negara memiliki keunikan.

Bila Anda ingin berkongsi dengan pebisnis Rusia misalnya, tidak ada pilihan lain kecuali mempelajari lebih dulu karakter mereka secara mendalam sampai akhirnya mengetahui betul filosofi bisnis yang diusung.

Dalam penelitian Batjargal, tampak sekali perbedaan gaya pebisnis Rusia dan China dalam hal jejaring (networking). Mengetahui masalah dasar persoalan ini bisa menjadi modal berharga untuk membuahkan deal bisnis dengan mereka.     

Hal pertama yang disoroti peneliti dari Universitas Harvard, Amerika Serikat itu adalah dinamika institusionalisasi di Rusia dan China. Pada aspek ini saja perbedaannya bagaikan siang dan malam.

China cenderung membangun pranata dan sistem secara berkelanjutan dan dalam atmosfer yang jauh dari gejolak. Sebaliknya, Rusia terkesan tidak sabar. Negeri yang sempat dijuluki Beruang Merah ini tampaknya tidak terlalu mementingkan keteraturan dalam membangun pranata.

Artinya, perubahan demi perubahan untuk mencapai pranata yang dianggap baik bisa saja dilakukan secara cepat dan ‘revolusioner’ sesuai kebutuhan era saat itu.

Alhasil, ‘suasana kebatinan’ pebisnis Rusia dan China juga jauh berbeda. Menurut Batjargal, pengusaha dari Negeri Panda cenderung berpikir pragmatis dan menyukai hal-hal yang konkrit.

Tidak demikian halnya dengan sejawat mereka di Rusia. Orang Rusia suka memikirkan hal-hal yang abstrak. Meski demikian, rakyatnya Vladimir Putin ini tidak alergi dengan pergulatan pemikiran, perbedaan pendapat, dan kontradiksi.   

Bagaimana dengan jejaring bisnis? Keduanya memiliki keunikan masing-masing. Keluarga dan kerabat dekat adalah lingkaran pertama bagi pengusaha China untuk menebarkan jejaring usahanya. Bermodal institusi dan pranata yang berjalan stabil, pebisnis dari negara berpenduduk terbanyak di dunia ini bisa menjalin kemitraan dan kongsi dalam waktu yang lama pula.

Namun Si Tembok Besar ini memiliki dualisme pula yang sulit disandingkan. Sistem registrasi di negara ini dikenal sangat kaku dan sistem ketenagakerjaan yang diatur oleh negara memicu terjadinya migrasi besar-besaran di daerah.

Selain itu, negara melarang jejaring di kalangan profesional, sementara tradisi guanxi (pertemanan atau koneksi informal) justru menutup peluang seseorang untuk memperluas jejaringnya.

Pemandangan lain dijumpai di Rusia. Sebagai bentuk kompensasi dari kelemahan dan bobroknya institusi dan pranata, pebisnis negara itu harus membangun sekaligus memperkuat jejaring baru. Dengan demikian mobilitas mereka jauh lebih dinamis dibandingkan dengan sejawat mereka di selatan.

Namun, mengutip survei Bank Dunia, Batjargal juga menggarisbawahi bahwa tingkat kepercayaan di China jauh lebih baik ketimbang Rusia. Persisnya, lebih dari 50% pebisnis dari Negeri Panda—dibandingkan hanya 16% pengusaha Rusia—mengamini pernyataan bahwa “sebagaian orang bisa dipercaya”. Nah, rakyatnya Putin cenderung tidak percaya kepada pihak ketiga.

Pemahaman

Apa yang bisa dilakukan pelaku bisnis di Indonesia?

Pengusaha China yang memiliki minat besar meningkatkan hubungan ekonomi dengan Indonesia belum diimbangi dengan pengetahuan cukup mengenai potensi negeri ini. Alhasil, hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi, antar kedua negara masih belum optimal.

Seorang diplomat  Indonesia di Beijing pernah mengatakan bahwa dibandingkan dengan pengusaha dari negara atau wilayah lain, seperti dari Jepang, Hong Kong dan Korsel, pemahaman mengenai potensi ekonomi Indonesia oleh pengusaha China masih tertinggal.

Rusia juga ingin memanfaatkan potensi pasar Indonesia sebesar-besarnya. Masih segar dalam ingatan ketika Presiden Putin memboyong puluhan pengusaha dari negaranya ke Indonesia untuk menjajaki peluang bisnis.

Tidak kurang dari 10 kesepakatan telah ditandatangani untuk mewujudkan kerja sama itu, mulai dari perlindungan investasi, kerja sama di bidang perikanan, penanganan situasi darurat hingga kerja sama di bidang pertahanan.

Rusia juga piawai memikat hati calon mitra bisnisnya dengan menggelar festival budaya di Jakarta, berkolaborasi dengan seniman Indonesia.

Jelas, Rusia dan China merupakan raksasa yang membutuhkan teman sejati. Pelaku bisnis di Tanah Air harus memanfaatkan peluang tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top