Manajemen Konflik: Satu Lawan Cukup, Seribu Kawan Kurang

Hidup sungguh akan lebih nyaman dijalani bagi orang-orang yang sukses menerapkan falsafah “satu orang musuh lebih dari cukup, seribu kawan itu kurang.”
Pongki Pamungkas | 05 April 2019 18:53 WIB
Tidak mudah menangani konflik dalam organisasi. - Bisnis

“Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah seorang lawan menjadi kawan.” (Martin Luther King Jr)

Fenomena reuni di grup-grup sekolah, maupun grup-grup kota asal atau reuni angkatan rupa-rupa institusi terus menjadi tren. Bahkan mungkin akan menjadi tradisi. Itu suatu hal yang layak dipuji. Bertemu dan bersilaturahmi antara satu dengan lain, antar kawan, antar kerabat, antar saudara.

Mereka yang bersilaturahmi itu datang dari beraneka ragam suku, agama, pendidikan dan sebagainya. Suatu perkawanan atau persahabatan adalah suatu kebajikan, suatu hal yang positif. Apalagi bila melihat persahabatan itu tanpa ada embel-embel perbedaan suku, agama, ras dan golongan.

Di laman Facebook teman saya, ditayangkan video tentang orang-orang Selandia Baru yang bergandengan tangan di dalam masjid, menjaga Muslim yang sedang salat. Mereka sedang menunjukkan pesan kebersamaan: “Kami bersamamu, kami bukan musuhmu, kami tidak memusuhimu.”

Salah satu orang yang menyaksikan video itu berkomentar, “Kok, kafir di sana bisa begitu, ya? Kafir di Indonesia ini dengar suara azan saja sudah mendidih.”

Langsung kawan saya menjawab, “Tidak ada yang mendidih. Itu fantasi kamu saja. Kamu mengkhayal tentang kafir yang senantiasa memusuhimu. Kamu kurang mengetahui hal-hal yang sebenarnya mereka lakukan, ataupun tidak lakukan. Serta merta saja kamu memusuhi mereka.”

Ada begitu banyak orang yang tidak beragama Islam yang berteman dengan saya atau sekadar saling kenal saja. Tidak pernah saya temukan orang yang membenci dan memusuhi seseorang karena seseorang itu beragama Islam. Yang saya temukan adalah orang-orang membenci dan memusuhi karena masalah-masalah lain. Sekali lagi bukan karena Islamnya.

Kebencian dan rasa permusuhan itu tentu selalu ada, di mana-mana. Tapi boleh dikata, itu tak banyak. Kalau jumlah mereka sangat banyak, tentu kita tak akan bisa hidup tenang seperti sekarang.

Mungkin ada orang yang ‘merasakan’, menduga-duga, bersyak-wasangka begitu banyak permusuhan dari kalangan orang bukan Islam. Tapi cobalah bercermin. Sikap orang terhadap Anda dipengaruhi oleh sikap Anda terhadap mereka. Kalau Anda sering menemukan permusuhan, boleh jadi karena Anda bersikap menebar permusuhan. Kalau Anda bersikap baik, orang lain juga akan baik kepada Anda.

Kita bisa menemukan begitu banyak kisah indah persahabatan manusia lintas agama, baik dalam hidup kita sendiri, maupun dari pengalaman orang lain. Dengan demikian, rasanya mustahil untuk bisa sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang itu memusuhi kita.

Akan tetapi memang ada golongan orang-orang yang melihat fakta, mendengar fakta, mengalami fakta, tapi tetap meyakini hal yang berbeda. Ia melihat keramahan nonmuslim, mendengar kebaikan mereka, dan mengalami hubungan akrab dengan mereka, tapi tetap yakin bahwa nonmuslim itu memusuhi.

Orang-orang golongan ini sering sekali berharap agar mereka yang nonmuslim itu mendapat “petunjuk”. Tapi kalau saya lihat, mohon maaf, merekalah sesungguhnya yang memerlukan “petunjuk.”

Dalam hidup yang singkat ini, alangkah indah, nyaman, tenteram dan damai kalau kita memiliki hanya kawan. Tak memiliki satupun lawan atau musuh. Semua orang kawan. Tapi kondisi ini adalah suatu nonsense, suatu kemustahilan, suatu ilusi kesempurnaan.

“Seorang yang bijaksana berharap tak akan menjadi lawan siapapun; seorang yang bijaksana berharap tak akan menjadi korban dari siapapun,” kata Maya Angelou, pejuang HAM dan penyanyi. Satu lawan cukup, seribu kawan kurang. Namun tetap, secara kodrati, tak seorangpun ingin menjadi korban dari tindakan (jahat) orang lain.

Mempraktikkan dalil di atas, berkawan dengan banyak orang, apapun latar belakang mereka, dan sama sekali tak memiliki musuh, bukanlah suatu urusan mudah.

MEMAAFKAN MUSUH

Tak terhindar memang, kadang-kadang, kita harus mendapatkan musuh. “Anda memiliki banyak lawan? Baguslah. Itu artinya Anda memiliki prinsip teguh atas suatu hal, sesekali dalam kehidupan Anda,” kata Winston Churchill.

Dan secara alamiah ada kecenderungan, “Lebih mudah memaafkan musuh dari pada memaafkan kawan,” kata William Blake, penulis dan pelukis Inggris abad 17.

Bisa kita pahami, namanya saja musuh. Ia adalah orang yang berlawanan dengan kita. Ia tak segan-segan, secara kasat mata, akan menghantam kita. Kita sadar akan bahaya musuh itu.

Tapi, kalau kita tiba-tiba dihantam kawan, atas suatu alasan tertentu, pasti kita terkejut karenanya. Pasti kita tak menyangka terjadi kejadian ini. Pasti kita akan lebih merasakan sakit karena dihantam oleh orang yang kita percayai sebagai kawan.

Pendapat William Blake di atas, diteguhkan oleh Don Corleone dalam film Godfather, yang dimainkan oleh Marlon Brando, “Dekatlah dengan kawan-kawanmu. Tapi lebih dekatlah dengan musuh-musuhmu.” Nasihat ini berkorelasi dengan  situasi di atas. Kita percaya dengan kawan-kawan kita, sebagaimana pandangan positif Corleone. Kita tak akan menghantam kawan. Kita juga tidak berharap dihantam kawan. Tapi Corleone juga mengingatkan hal penting, kita juga harus lebih tahu atas hal-hal seputar musuh kita.

Demikianlah, bahwa hidup sungguh akan lebih nyaman dijalani bagi orang-orang yang sukses menerapkan falsafah “satu orang musuh lebih dari cukup, seribu kawan itu kurang.” Karena, “Ingatlah, barang antik paling bernilai adalah kawan-kawan lama tercinta,” kata H. Jackson Brown Junior, penulis terkemuka Amerika.

Karena, “Berjalan bersama kawan dalam kegelapan adalah lebih baik dari pada berjalan sendiri dalam suasana terang benderang,” kata Helen Keller, penulis dan aktivis politik tuna rungu dan tuna netra.

Karena juga, “Hal-hal apapun tak akan pernah menakutkan manakala Anda memiliki kawan sejati,” kata Bill Watterson, kartunis. Dan, “Kawan sejati, adalah orang-orang yang memperlihatkan kasih sayangnya dalam masa-masa susah, bukan dalam masa-masa gembira,” kata Euripides, seorang artis teater Yunani Kuno.

Dengan banyak kawan, kita akan mampu menikmati hidup yang lebih nyaman, tenteram dan damai. Kita akan lebih berbahagia. Namun, sesuai kodrat hidup, kita tak mungkin steril dari adanya lawan. Hanya perlu kiat yang tepat agar prinsip tiada musuh itu terjaga baik. Nasihat China kuno ini layak kita camkan, “Seni terhebat dalam peperangan adalah menaklukkan lawan tanpa pertarungan,” Sun Tzu, jenderal tentara, ahli strategi militer dan filsuf China kuno.

Itu advis mulia, agar dalam pergulatan hidup ini kita tetap mampu bertahan, tanpa harus melakukan kekerasan-kekerasan yang tak layak kita lakukan. Dalam agama apapun, kekerasan bukanlah hal yang dianjurkan.  “Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah seorang lawan menjadi kawan,” kata Martin Luther King Jr, pejuang HAM.

Cinta dalam artian kasih sayang tulus kepada sesama, siapapun itu orangnya, sekali lagi, tanpa membeda-bedakan asal-usul dan latar belakang, adalah bekal pokok dalam berhubungan dan bergaul sebagai mahluk sosial, dalam prinsip “satu lawan cukup, seribu kawan kurang.”

Dan sebagai pembelajaran dalam hidup kita agar kita tak terantuk batu yang sama kedua kali,  dalam mengarungi hidup ini, nasihat John F. Kennedy ini layak kita catat baik-baik, “Maafkan lawan-lawanmu, tapi jangan pernah lupakan nama-namanya.”

Pongki Pamungkas

Penulis buku The Answer Is Love, All You Need Is Love, dan To Love and To Be Loved

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kiat manajemen

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup