Pimpin H&M Lalui Masa Sulit, Inilah Sosok Stefan Persson

Stefan Persson merupakan pimpinan dewan direksi dari perusahaan ritel pakaian Hennes & Mauritz AB (H&M), perusahaan yang didirikan oleh ayahnya di Swedia pada tahun 1947.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  09:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Stefan Persson merupakan pimpinan dewan direksi dari perusahaan ritel pakaian Hennes & Mauritz AB (H&M), perusahaan yang didirikan oleh ayahnya di Swedia pada tahun 1947.

Jaringan perusahaan internasional dari hampir 900 toko ini telah menguasai bisnis ritel dengan menyediakan fashion dengan harga terjangkau namun bergaya dan siap untuk menyudutkan segmen pasar Amerika Serikat.

Stefan juga menjadi warga negara Swedia terkaya saat ini, Persson secara luas mulai dikenal secara global saat ia mengambil alih H&M menggantikan ayahnya sebagai chief executive officer pada tahun 1982.

Penulis BusinessWeek, Kerry Capell dan Gerry Khermouch menggambarkan strategi sukses H&M dalam profil perusahaan tahun 2002 dengan memperlakukan mode seolah-olah seagai produk makanan, tetap segar, dan terus bergerak.

"Itu berarti melihat tren bahkan sebelum trendoid melakukannya, mengubah ide-ide menjadi pakaian yang terjangkau, dan menjuall pakaian dengan cepat," ungkap mereka.

Stefan lahir pada tahun 1947, tahun yang sama H&M didirikan oleh ayahnya, Erling Persson. Sebagai seorang wirausahawan, Persson senior melakukan perjalanan ke Kota New York tepat setelah Perang Dunia II dan terkesan oleh department store besar seperti Macy's dengan berbagai pakaian wanita yang mereka tawarkan.

Saat kembali ke Västerås, ia membuka toko pakaian wanita, Hennes ("miliknya" dalam bahasa Swedia), yang menawarkan pakaian murah namun bergaya. Itu terbukti menjadi trend bagi penduduk setempat, dan segera dapat membuka toko Stockholm.

Hennes kemudian berubah menjadi "H&M" pada tahun 1968 setelah mengakuisisi Mauritz Widforss, penjual peralatan berburu dan senjata di Swedia. Akuisisi ini membuka lini pakaian pria perusahaan. Pada saat itu, ia dengan hati-hati berkelana ke luar negeri, lalu membuka toko di Norwegia dan Denmark.

Stefan kemudian bergabung dengan perusahaan ayahnya pada tahun 1972, dan membantu pada peluncuran toko H&M pertama di London empat tahun kemudian dengan berdiri di luar dan membagi-bagikan album ABBA sebagai aksi promosi.

Dia menjadi ketua dewan direksi pada tahun 1979, dengan ayahnya sebagai CEO, dan mulai mempercepat proses ekspansi segera sesudahnya. Perusahaan pindah ke Jerman Barat pada 1980, dan pada 1985 H&M memiliki 200 gerai di seluruh Eropa dan di Inggris.

Pada tahun 1982, Persson Junior menggantikan ayahnya sebagai CEO. H&M melanjutkan ekspansi dengan periode pertumbuhan yang pesat. Dalam upaya untuk menghindari pembayaran pajak warisan di Swedia, H&M mencatatkan saham perdana di Stockholm Stock Exchange pada 1974.

Sejak saat itu, valuasi saham H&M terus meningkat nilainya menyusul tingkat pertumbuhan perusahaan sebesar 25 persen setiap tahun selama beberapa tahun terakhir.

Persson kemudian meluncurkan lini pakaian anak-anak dan pakaian bersalin di toko-tokonya, dan pada akhir 1990, perusahaan telah mengalahkan pesaingnya dan menjadi pengecer pakaian terbesar di Eropa.

Pada tahun 1998, Stefan menyerahkan jabatan CEO-nya kepada Fabian Mansson, mantan juara skateboard.  Pada awal 2000, saham H&M dianggap oleh beberapa analis keuangan sebagai saham paling bernilai di dunia di sektor ritel. Namun reputasi tersebut anjlok beberapa bulan kemudian, ketika Fabian Mansson tiba-tiba pergi.

Persson, yang menjabat sebagai ketua dewan direksi, dan para direkturnya kemudian memilih Rolf Eriksen, seorang veteran perusahaan, untuk menggantikan Mansson, dan kembali ke masalah yang lebih mendesak: peluncuran toko H&M pertama di Amerika Serikat.

Pada masa itu, AS dianggap sebagai kuburan untuk perusahaan ritel asal Eropa yang ambisius.

H&M menyewa sebidang real estat utama di Fifth Avenue, tepat di seberang jalan Rockefeller Center, dan menghabiskan banyak uang untuk iklan pra-peluncuran yang diarahkan pada tanggal pembukaan 31 Maret 2000.

Stefan yakin untuk memasuki pasar yang telah jenuh di AS ketika dia berbicara dengan penulis WWD Anne D'Innocenzio pada malam sebelum toko utama New York dibuka untuk umum.

"Kami memberikan keunggulan ekstra dalam hal fashion. Kami memberikan nilai untuk uang itu. Warga AS suka membuat kesepakatan yang bagus,” katanya kepada D'Innocenzio.

Nalurinya terbukti benar: pada hari pertama toko dibuka, pembeli mengepung toko hingga dan petugas keamanan harus menutup pintu untuk sementara waktu  pengunjung melebihi kapasitas.

Bagian dari kesuksesan H&M datang dari tim desain yang didirikan Stefan di kantor pusat perusahaan di Stockholm pada pertengahan 1980-an, dengan staf lulusan sekolah desain terbaru.

Produksi perusahaan kemudian dialihdayakan ke jaringan 1.600 pemasok di negara-negara seperti Bangladesh, Cina, dan Turki, di mana biaya tenaga kerja cenderung rendah.

Stefan juga yakin bahwa menyediakan barang dagangan yang berbeda untuk berbagai negara adalah pemborosan sumber daya perusahaan. "Semua orang mendengarkan jenis musik yang sama, menonton film yang sama," katanya kepada D'Innocenzio.

Ayah Stefan, Erling, meninggal pada usia 85 pada Oktober 2002. Dia dan saudara perempuannya, Lottie, memegang sekitar 70 persen saham H&M, dan 37 persen dari modal.

H&M telah selamat dari kemerosotan ekonomi di sektor ritel dan bahkan berkembang pesat, dengan penjualan pada tahun 2002 mencapai US$ 5,8 miliar, dengan laba US$833 juta dari 550 juta item yang terjual.

Stefan dikenal menjalankan perusahaan dengan sangat efisien, meskipun dikelola oleh 39.000 karyawan di seluruh dunia. Hanya sedikit eksekutif perusahaan yang memiliki hak istimewa telepon seluler, dan mereka yang bepergian atas nama perusahaan terbang dengan pesawat kelas ekonomi serta tidak menyerahkan laporan pengeluaran transportasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top