Memanfaatkan Limbah Kayu Jadi Bingkai Pop-Up

Taufikurrahman memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan limbah kayu dari pabrik furnitur.
Sandi Purnomo
Sandi Purnomo - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  18:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Taufikurrahman memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan limbah kayu dari pabrik furnitur.

Ide cemerlangnya dia padukan dengan hobi menggambar dan melukis sehingga memunculkan bisnis bingkai pop up Yuka Arts pada Januari 2018.

“Kalau kata Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil kan hal paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Kebetulan saya juga melihat peluang dari limbah kayu perusahaan furnitur milik teman saya [untuk bisa diolah],” tutur Taufik kepada Bisnis.

Saat itu, Taufik memutuskan untuk memulai bisnisnya. “Tidak menyangka juga jika banyak orang yang tertarik untuk memesan, walaupun awalnya hanya orang dekat,” katanya. Sebagai langkah awal untuk pemasaran, dia menjual produknya melalui media sosial.

Bingkai pop up buatan Yuka Arts konsisten menggunakan kayu palet dan kayu jati Belanda agar dapat menghasilkan produk yang bisa memuaskan konsumen. Untuk bingkai pop up dan bingkai biasa menggunakan bahan kayu yang sama dari limbah furnitur. Penggunaan kayu tersebut dipilih karena dapat tahan lama dibandingkan kayu jenis lain.

Dalam menjalani bisnis, Taufik terkendala dalam memasarkan produk pada awal bisnisnya dibangun. Pasalnya, kala itu produk Yuka Arts belum banyak dikenal orang. Kendala lain yang ia rasakan yaitu pesaing yang lebih terkenal dan lebih besar.

Namun, Taufik mengungkapkan jika produknya tidak kalah dibandingkan dengan produk sejenis yang lain karena kualitas bahan kayu dan kepuasaan pelanggan adalah komitmennya.

Taufik optimistis produknya dapat memiliki daya saing di pasar bingkai dan kesenian. Semua produk lukisan pada bingkai pop up miliknya dihasilkan secara handmade. Sementara itu, untuk bingkai biasa dia mempercayakan kepada dua orang karyawan.

Bingkai pop up biasanya dipesan sebagai kado ulang tahun, wisuda, dan lain-lain. Usahanya juga sering mendapatkan pesanan untuk souvenir (bingkisan) acara seperti pernikahan, seminar, dan plakat. Tak jarang ia juga mendapat pesanan dari kolektor yang membuthkan bingkai dengan ukuran lukisan memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

Untuk harga, Taufik membanderol produknya dengan kisaran harga dari Rp120.000 hingga Rp1,50 juta. Namun, dia menambahkan untuk konsumen yang ingin pesanan khusus atau custom dengan ukuran yang lebih kecil bisa dibayar dengan harga di bawah Rp100.000.

Ketika limbah yang ia dapat banyak, ia akan memberikan promo agar limbah kayu tersebut dapat berguna untuk orang lain.

Saat disinggung soal omzet yang didapat perbulan ia merahasiakannya. Namun, Taufik menyampaikan jika rata-rata mendapat 8-10 pesanan bingkai setiap harinya. Tidak hanya bingkai, sekarang produknya juga merambah ke properti acara berupa pernak-pernik dekorasi dari kayu dan mulai memproduksi furnitur.

Ke depan, Taufik berharap meja dan kursi yang sudah mulai di produksinya memiliki peminat yang sama banyaknya seperti bingkai. Dia beranggapan selain menghasilkan, usahanya juga dapat mengurangi limbah kayu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
entrepreneur

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top