Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tak Bergaji Tetap, Begini Trik Kelola Keuangan

Freelancer misalnya. Atau pengusaha, bahkan selebriti sekalipun kadangkala tidak memiliki gaji tetap. Tapi toh mereka bisa tetap memenuhi kebutuhan hariannya.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 25 Februari 2020  |  07:01 WIB
Tak Bergaji Tetap, Begini Trik Kelola Keuangan
Ilustrasi - Fournier
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendapatan tak harus berasal dari sebuah pekerjaan tetap di perusahaan, tapi mereka yang bukan pegawai pun bisa mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.

Freelancer misalnya. Atau pengusaha, bahkan selebriti sekalipun kadangkala tidak memiliki gaji tetap. Tapi toh mereka bisa tetap memenuhi kebutuhan hariannya.

Nah, sebenarnya bagaimana mengatur keuangan orang-orang dengan upah demikian?

Independent financial planner dari Financialku.com Shierly pun mengimbau agar mereka selalu menghitung rata-rata penghasilan terlebih dahulu. Ini didapat dari penghasilan dalam setahun yang dibagi 12 bulan.

“Angka tengahnya ini bisa menjadi standar gaji Anda,” katanya dikutip dari Tempo.co.

Setelah mengetahui standar gaji, seseorang pun diminta untuk membuat daftar kebutuhan dan keperluan bulanan beserta dengan biayanya. Diharapkan, nominalnya kecil. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi gaji terkecil yang mungkin didapat. “Kalau bisa digunakan sesedikit mungkinlah. Supaya kalau kerjaan sedang kurang bagus, tetap bisa bertahan hidup,” katanya. 

Shierly juga berharap agar pengeluaran yang minim itu tetap dilakukan meski menerima gaji besar. Maksudnya agar uang yang bisa disimpan dan investasikan lebih besar. Berbicara tentang investasi sendiri, ia menyarankan untuk berinvestasi dengan nominal setinggi mungkin. “Kalau tadi pengeluaran kita minim, sekarang untuk investasi yang besar. Karena investasi bisa melipatgandakan uang kita,” katanya.

Adapun investasi yang disarankan tidak sekedar pada satu instrumen, namun banyak. Misalnya reksadana, saham dan deposito. Menurut Shierly, ini sangat baik untuk dilakukan karena keuntungan dari tiap instrumen berbeda. “Ada investasi yang risikonya kecil, sedang dan besar. Begitu pula dengan keuntungan yang kecil, sedang dan besar. Agar bisa mendapatkan cuan secara maksimal, lebih baik dibagi pada ketiganya,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gaji

Sumber : Tempo.co

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top