Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Disrupsi Jilid Kedua. Bakal Lebih Menghentak?

Mengusung corporate storytelling di saat krisis diperlukan kepiawaian seni dan strategi komunikasi. Bukan sekadar bicara 'kita sudah berada di jalan yang benar', 'kita sudah adaptif', atau 'kita sudah melakukan efisiensi'.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 30 Mei 2020  |  19:14 WIB
Sejumlah buruh pabrik pulang kerja di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (17/4/2020). - ANTARA FOTO/Fauzan
Sejumlah buruh pabrik pulang kerja di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (17/4/2020). - ANTARA FOTO/Fauzan

Bisnis.com, JAKARTA – Rasanya baru kemarin dunia diguncang oleh disrupsi yang membuat kita terkaget-kaget untuk beradaptasi. Malah belum semua orang sempat mengenakan ‘sabuk pengaman’ untuk melewati turbulensi.

Masih berada di lorong turbulensi itu, yang entah kapan atau dimana akan berujung, kini ada goncangan baru yang tak kalah hebat. New normal. Kenormalan baru. Begitu banyak orang menyebutnya.

Apa dan bagaimananya new normal  ini, belum terlalu jelas. Yang pasti fenomena yang bakal muncul ini merupakan hasil atau dampak dari ‘revolusi Covid-19’ di seluruh dunia.

Kebiasaan baru yang kita hadapi sejak Maret lalu ketika Covid-19 dinyatakan ada di Indonesia bisa jadi akan berlanjut dan ‘dibakukan’ melalui protokol untuk menyongsong apa yang disebut new normal tadi.

Detailnya seperti apa, lebih baik kita tunggu saja. Saat ini pihak-pihak yang mempunyai otoritas kabarnya sedang mengevaluasinya secara cermat.

Apakah new normal ini bisa dikatakan sebagai ‘disrupsi jilid kedua’? Ada kesamaannya meski di beberapa tataran juga berbeda. Faktor pendorong utamanya pun berbeda. Disrupsi pertama bisa jadi lebih banyak didorong oleh perkembangan dan aplikasi teknologi digital dan internet yang begitu masif.

Disrupsi kedua dihentak oleh pandemi global dengan segala dampak ikutannya yang begitu dalam terhadap sendi-sendi ekonomi dan kehidupan. Adapun kesamaannya: Efisiensi besar-besaran!

Lalu bagaimana korporasi harus menyikapinya? Selama masa transisi besar sebagai dampak hantaman langsung dan tidak langsung disrupsi ini–bisa berupa merger, akuisisi, perubahan model bisnis yang sangat mendasar, pergantian manajemen, pemutusan hubungan kerja atau penjualan yang terjun bebas–peran seorang pemimpin puncak, sang nakhoda, sang CEO akan sangat menentukan.

"Pesan-pesan harian dari sang CEO menjadi kritis untuk mengendalikan rasa aman para pegawai," ujar Evelyn Clark (2004).

Dalam menghadapi pergolakan cuaca bisnis ini, akan terlihat apakah sang CEO akan berada di jalur menuju kematangan atau malah tersungkur dilumat sang badai perubahan.

Namun satu hal perlu diingat oleh mereka bahwa di saat ada kabar buruk pun, pengisahan cerita yang efektif menjadikan kabar ini lebih mudah diterima orang.

Anda mungkin pernah mendengar juga bahwa ketika para eksekutif berbagi situasi terakhir perusahaan secara mendetail dan menjelaskan alasan-alasan dibalik keputusan mereka, para pegawai umumnya akan dapat menempatkan diri mereka dalam sudut pandang sang eksekutif dan dapat memahami tindakannya.

Permasalahannya, apakah tindakan para eksekutif itu sudah benar untuk merespons ancaman atau krisis yang terjadi. Hal ini sebenarnya bisa didalami lebih jauh mengenai efektivitas keputusan yang diambil manajemen.

Bila memang sudah ada komitmen kuat dari top manajemen untuk menghadapi krisis dan dengan piawai pula 'menceritakannya', bisa jadi kebanyakan orang akan tetap mendukung organisasi dan berupaya untuk tetap produktif, atau bahkan tetap loyal terhadap perusahaan.

Gambaran di atas bukan isapan jempol. Ini pengalaman langsung Clark yang kemudian terlihat berkembang menjadi prinsip yang luar biasa ketika dirinya bersama seorang rekan melakukan bimbingan kehumasan di sebuah korporasi yang sedang berada dalam reorganisasi besar-besaran.

Struktur organisasi yang baru akan mengubah secara drastis budaya dan kebiasaan lama. Kemampuan menjual akan menjadi panglima. Tentu saja tak cuma menjual tapi berapa besar nilai jualannya!

Dulu, nama besar sudah bisa membuat lawan ciut nyali. Sekarang, nama besar puluhan tahun atau bahkan satu generasi, perusahaan besar dan yang serba besar lainnya banyak yang kalah lincah dibandingkan para unicorn yang baru muncul kemarin sore.

"Percaya apa tidak?" Begitu pertanyaan yang sering diucapkan kawan saya.

Inti pesan yang disampaikan Clark adalah corporate storytelling. Ada seninya, ada strateginya. Bukan sekadar bicara 'kita sudah berada di jalan yang benar', 'kita sudah adaptif', 'kita sudah melakukan efisiensi' atau semacamnya.

Bukan pula sekadar berani membuat terobosan yang malah justru membuatnya terperosok. Dalam hal korporasi di negeri ini, apapun langkah yang diambil seirama dengan era disrupsi, jawabannya tak akan jauh-jauh dari untung atau laba.

Tak ada salahnya mengadopsi jurus yang ditawarkan Clark atau Anda punya solusi lain yang lebih ampuh?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

disrupsi
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top