Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kisah Petani Kota asal Indonesia di Amerika Serikat Bermodal US$200

Merantau sejak 2001 ke Amerika Serikat dan menikah pada 2009, Syarif dan istri pun mulai mengelola lahan seluas 80 meter persegi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  14:03 WIB
Pemilik Haiqal's Garden, Syarif Syaifulloh, seorang warga negara Indonesia di Philadelphia, Amerika Serikat
Pemilik Haiqal's Garden, Syarif Syaifulloh, seorang warga negara Indonesia di Philadelphia, Amerika Serikat

Bisnis.com, JAKARTA – Pemilik Haiqal’s Garden, Syarif Syaifulloh, seorang warga negara Indonesia di Philadelphia, Amerika Serikat sudah 10 tahun menjalani urban farming di negeri Paman Sam.

Merantau sejak 2001 ke Amerika Serikat dan menikah pada 2009, Syarif dan istri pun mulai mengelola lahan seluas 80 meter persegi. Awalnya, lahan tersebut kosong dalam area rumah mereka. Alhasil karena rindu makanan Indonesia dengan ragam sayuran, Syarif dan istri memutuskan memulai pertanian kota atau urban farming khusus tanaman sayuran.

“Saya motivasinya hanya karena ingin hidup sehat, tidak terlalu banyak makan daging. Jadi saya memaksimalkan lahan ini jadi lahan sayuran,” ungkap Syarif kepada Bisnis beberapa waktu yang lalu.

Salah satu diaspora Indonesia di Amerika Serikat ini mengaku sangat serius dalam mengerjakan urban farming. Dengan niat hidup sehat dan rindu makanan Indonesia, Syaiful pun memesan sejumlah bibit sayuran dari Indonesia untuk ditanam di lahan sekitar rumahnya.

Di atas lahan tersebut dia menanam beberapa bibit sayuran yang bisa didapat di Amerika seperti kale, brokoli, dan seledri. Secara total, ada sekitar 40 jenis sayuran yang dia tanam di lahan miliknya.

“Hampir 70% itu bibit dari Indonesia seperti bayam, sawi, kangkung, ketela singkong. Meski buah singkongnya sulit di iklim Amerika, saya memanfaatkan daunnya,” ujar Syaiful.

Syaiful beralasan mendatangkan bibit Indonesia karena harga yang jauh lebih murah. Pasalnya, di Amerika bibit bayam atau sayuran hijau sangat mahal. Apalagi, dia masih harus berhadapan dengan metode perawatan tanaman yang berbeda akibat perbedaan iklim.

“Memang awalnya urban farming sayuran tak mudah, banyak gagalnya. Kami harus beradaptasi juga karena iklim Indonesia tropis, disini Amerika ada 4 musim. Tentu karakter tanahnya sangat berbeda. Di Indonesia lempar bibit bisa langsung tumbuh, disini tidak begitu,” ungkapnya.

Alhasil, umumnya dia memulai per April adalah penanaman bibit. Begitu memasuki Juni, dia akan menuai panen. Pada musim gugur, Syaiful mengubah tanah karena kadar pupuk juga kian berkurang. Musim ini diakui saat yang tepat memperbaharui medium tanam.

Pada tahun awal dia memulai urban farming, Syaiful belum ada niatan untuk memperdagangkannya. Hingga hasil tanaman berbuah subur dan angka permintaan makin tinggi, terutama dari sesama warga Indonesia di Amerika.

“Awal belum saya komersialisasi, saya bagikan saja. Kini kalau ada yang butuh biasanya menggaet saya untuk mengelola lahan. Misalnya Pemerintah setempat [di Philadelphia] melibatkan saya untuk mengembangkan beberapa lahan negara guna menjaga ketahanan pangan. Jadi saya diberikan bibit dan lahan,” tuturnya.

Urban farming yang diawali hanya karena ingin hidup sehat telah memberikan hikmah keuntungan ekonomi bagi Syaiful dan keluarga. Apalagi modal yang dikeluarkan hanya pada tahun pertama yaitu sebesar US$200. Setelah panen kian banyak berbagai insentif dan profit jadi nilai tambah yang memperlancar bisnisnya.

“Setelah modal US$200 itu untuk beli bibit dan pupuk, seterusnya saya banyak dapat bantuan juga dari sesame diaspora Indonesia. Ada pula bantuan dari pemerintah AS memberi tanah dan bibit. Alhasil sekarang saya sudah belajar juga mulai membibitkan sendiri agar lebih efisien,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang bisnis petani
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top