Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kiat Carousell Menggerakkan Bisnis Barang Bekas di Tengah Pandemi

Itu adalah tabu budaya mereka, bahwa barang bekas membawa roh jahat atau energi dari pemilik sebelumnya. Dan ada stigma sosial yang melekat bahwa barang bekas adalah untuk yang miskin.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  18:56 WIB
Carousell
Carousell

Bisnis.com, JAKARTA -- Boomer tradisional Asia yang makmur biasanya tidak pernah melirik barang bekas.

Itu adalah tabu budaya mereka, bahwa barang bekas membawa roh jahat atau energi dari pemilik sebelumnya. Dan ada stigma sosial yang melekat bahwa barang bekas adalah untuk yang miskin.

Sekarang, barang bekas justru dianggap sebagai barang vintage yang berselera tinggi ketika kaum milenial menemukan kegembiraan dari berbelanja secara virtual di mobile marketplacel.

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar barang bekas (preloved) mewah meledak.

Industri barang bekas mewah diperkirakan bernilai US$36 miliar pada tahun 2021 dengan para investor berjuang untuk mendapatkan bagian yang ditandai dengan keberhasilan baru-baru ini dari platform penjualan barang preloved, seperti Vestiaire Collective, meningkatkan modal US$64 juta untuk melebarkan sayap ke Asia.

Dilansir melalui Forbes, Carousell yang berbasis di Singapura adalah salah satu pasar terbesar dan paling cepat berkembang di dunia di Asia Tenggara dan didukung oleh Telenor Group, Rakuten Ventures, Sequoia India, dan Naspers.

Beroperasi di delapan pasar, pasar mobile-first telah mencatat lebih dari 250 juta listing barang bekas dan puluhan juta pengguna sejak diluncurkan pada 2012.

"Pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara telah berkembang bahkan sejak sebelum pandemi. Dengan meningkatnya konsumerisme, lonjakan yang serupa juga terlihat di pasar penjualan barang bekas," seperti dikutip melalui Forbes, Rabu (29/7).

Dengan kebijakan pembatasan jarak sosial dan tinggal di rumah diberlakukan di banyak kota, konsumen menghabiskan lebih banyak waktu online dan gatal untuk menghabiskan uang.

Ada juga mereka yang kemudian menjual barang-barang pribadinya di internet ebagai cara menabung atau bahkan untuk meredam pukulan dari pekerjaan yang hilang selama pandemi.

"Di pasar yang lebih sadar akan merek, seperti Hong Kong dan mungkin bahkan Filipina, mereka pada umumnya sudah terbuka untuk membeli barang-barang mewah bekas", kata Lewis Ng, chief commercial officer di Carousell.

Di antara ketakutan dan panic-buying, tindakan kebaikan juga muncul secara organik di mana ada banyak pengguna Carousekk yang menjual barang-barang kerajinan tangan untuk mengumpulkan sumbangan dengan tujuan yang baik.

Carousell juga pada akhirnya menjadi tempat untuk mendapatkan barang-barang kebersihan ketika stoknya habis di toko-toko lain, sayangnya akses ini dimanfaatkan oleh orang-orang oportunistik yang telah menaikkan harga jual untuk mendapatkan keuntungan.

Selain dukungan yang diperluas untuk UKM lokal dengan bekerja sama dengan pemerintah dalam program stimulus, Carrousel juga telah menawarkan pelatihan dan materi untuk mendorong toko-toko lokal untuk beralih online sebagai kesempatan untuk memulai kembali bisnis mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

marketplace marketplace ecommerce ecommerce
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top