Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

3 Cara Inovatif Merek Pakaian Berkembang

Menurut Riset Pasar Technavio, pasar athleisure siap tumbuh sebesar US$80,74 miliar antara 2020 hingga 2024.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  14:06 WIB
menampilkan koleksi terbarunya di MQ Vienna Fashion Week yang digelar di Museums Quartier, Wina, Austria, Rabu (12/09/2018) malam., Rabu (12/09/2018) malam./JIBI/BISNIS - Andhina Wulandari
menampilkan koleksi terbarunya di MQ Vienna Fashion Week yang digelar di Museums Quartier, Wina, Austria, Rabu (12/09/2018) malam., Rabu (12/09/2018) malam./JIBI/BISNIS - Andhina Wulandari

Bisnis, com, JAKARTA -- Industri pakaian olahraga sedang menyaksikan ledakan di tengah pandemi karena semakin banyak orang menyadari pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan yang baik.

Menurut Riset Pasar Technavio, pasar athleisure siap tumbuh sebesar US$80,74 miliar antara 2020 hingga 2024.

Dalam sebuah laporan baru-baru ini, SimilarWeb berbagi bahwa telah terjadi pertumbuhan pasar pakaian olahraga yang luar biasa di Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir.

Merek pakaian populer telah kembali ke konsep dasar dan berfokus pada pakaian yang lebih sederhana, lebih tahan lama, dan nyaman agar tetap relevan.

Dalam percakapan baru-baru ini dengan Gurmer dan Robby Chopra bersaudara, pendiri merek pakaian olahraga YoungLA, Gurmer mengatakan dengan begitu banyak orang yang bekerja dari rumah, dan dengan sisi sosial kehidupan yang dibekukan untuk sementara waktu, semakin banyak orang memilih untuk berpakaian lebih sederhana.

"Namun sederhana tidak berarti berpakaian kurang gaya. Itu hanya berarti berpakaian karena kenyamanan dan pilihan alih-alih berpakaian untuk acara dan keperluan tertentu," ujarnya seperti dilansir melalui Entrepreneur, Selasa (20/10).

Chopra bersaudara berbagi tiga cara merek pakaian olahraga secaea inovatif telah mengembangkan strategi mereka untuk bertahan dan tumbuh di tengah era working from home.

1. Pergeseran Digital

“Dengan dunia dalam karantina, orang mengalihkan perhatian mereka ke pasar online," kata Robby.

Belanja online menjadi kebutuhan, bukan kemewahan. Orang-orang yang dulu hanya membeli pakaian di toko fisik tiba-tiba bergeser ke online dan berbelanja pakaian baru lebih sering.

Bagi banyak merek pakaian, mengembangkan keberadaan online mereka dan memastikan pengiriman mereka dapat diandalkan dan mampu mengatasi lonjakan permintaan terbukti mengubah permainan di tengah persaingan ketat.

2. Keterjangkauan

Terbukti bahwa sebagian besar konsumen mengkhawatirkan dampak ekonomi dan kesehatan mereka akibat Covid-19. Dalam skenario seperti itu, pelanggan perlu mengetahui bahwa mereka mendapatkan barang senilai harga yang dibayar ketika membeli produk dari berbagai merek.

Keterjangkauan adalah langkah yang sangat dibutuhkan di pasar pakaian olahraga, dan karena sejumlah brand telah membuka jalan bagi keterjangkauan, lonjakan volume terlihat jelas.

3. Penawaran Eksklusif

Loyalitas brand adalah segalanya. Selama pandemi, banyak perusahaan menemukan bahwa pengalaman belanja yang dipersonalisasi secara virtual membuat perbedaan besar.

Dari mengirim teks dan email yang dipersonalisasi ke basis klien mereka, hingga akses awal ke penjualan dan diskon khusus, pendekatan yang bernuansa dan personal telah membuat semua perbedaan dalam meningkatkan pendapatan.

Tidak ada alasan untuk menutupinya: Pandemi telah berdampak negatif pada industri pakaian secara keseluruhan, tetapi setiap masalah datang dengan solusi.

Kita semua dipaksa untuk mengevaluasi kembali cara kita melakukan sesuatu dan berpikir out of the box. Konsumen telah mengurangi pengeluaran mereka secara keseluruhan, jadi brand harus kreatif dan orisinal sambil menambahkan proposisi nilai yang kuat untuk mempertahankan pelanggan.

Toko mungkin tutup, tetapi kita memiliki alat paling berharga dalam sejarah: internet.

Belanja langsung lewat video, asisten toko online, dan ruang ganti virtual hanyalah beberapa cara yang telah berhasil dilakukan industri pakaian agar tetap terdepan.

Masa depan adalah digital, dan merek-merek unggul sudah mulai merangkul perubahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang bisnis pakaian
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top