Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Daftar Ritel yang Bangkrut Selama Pandemi Covid-19

Sejumlah negara bagian telah mengizinkan pusat perbelanjaan dan pengecer untuk dibuka kembali secara perlahan sejak September, tetapi situasinya tetap genting karena infeksi Covid-19 yang terus meningkat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  12:50 WIB
Ritel
Ritel

Bisnis.com, JAKARTA -- Virus corona tampaknya tidak menyisihkan siapa pun dalam kehancuran ekonomi Amerika Serikat, mempercepat kehancuran department store, pusat kebugaran, dan raksasa hiburan yang ikonik.

Sejumlah negara bagian telah mengizinkan pusat perbelanjaan dan pengecer untuk dibuka kembali secara perlahan sejak September, tetapi situasinya tetap genting karena infeksi Covid-19 yang terus meningkat. Akibatnya, mal dan toko akan ditutup.

“Saya pikir banyak dari perusahaan ini akan mengajukan [bangkrut], dan itu tidak sedikit. Ada beberapa lusin. Dan itu angka yang menakutkan. Angkanya jauh lebih banyak daripada yang pernah kita lihat selama beberapa tahun terakhir," ujar Direktur Pelaksana Stifel, Michael Kollender, seperti dikutip melalui Yahoo Finance, Selasa (27/10).

Dia menambahkan bahwa industri ritel akan melihat beberapa rantai utama menutup pintunya dan tidak akan kembali. Sebagian adalah perusahaan yang berjuang sebelum situasi pandemi. Covid-19 hanya membuat mereka menjadi semakin tertekan.

Pandemi telah menggulingkan beberapa nama besar. Stein Mart, penjual diskon berusia 112 tahun, mengajukan kebangkrutan pada awal Agustus dan akan menutup sebagian besar dari hampir 300 tokonya.

Perusahaan mengutip tekanan keuangan yang signifikan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 untuk keputusannya.

Berikut daftar perusahaan ritel yang mengajukan kebangkrutan sepanjang 2020:

23 Januari: SFP Franchise Corp
Jaringan toko kartu ucapan dan kertas, Papyrus, ditutup setelah gagal menemukan pembeli untuk menyelamatkan perusahaan dan toko saudaranya, American Greetings dan Carlton Cards.

SFP Franchise Corp. sebagai pemilik dari jaringan ini mengajukan pailit dengan rencana untuk menyewa likuidator untuk menjalankan penjualan 254 tokonya, yang termasuk merek Paper Destiny.

Perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 1.100 orang dengan aset senilai US$39,4 juta dan hutang sebesar US$54,9 juta, menurut dokumen pengadilan yang diajukan pada Januari lalu.

17 Februari: Pier 1 Imports
Pengecer barang-barang rumah tangga Pier 1 Imports, mengajukan kebangkrutan pada Februari, mengumumkan pada 19 Mei bahwa mereka sedang mencari persetujuan pengadilan kebangkrutan dan berencana untuk memulai pengurangan bisnis sesegera mungkin. Perusahaan tidak dapat menemukan pembeli karena dampak virus corona. Pier 1 mengoperasikan lebih dari 900 toko di seluruh AS.

9 Maret: Art Van Furniture, Bluestem Brands

11 Maret: Modell's

13 April: True Religion
True Religion, merek pakaian yang terkenal dengan produk jins, mengajukan kebangkrutan pada 13 April. Perusahaan, yang denim trendi-nya menjadi populer di tahun 2000-an, sebelumnya telah mengajukan kebangkrutan pada tahun 2017.
 
29 April: Roots USA

4 Mei: J.Crew, Neiman Marcus, Gold's Gym
J.Crew - pengecer preppy fashion yang dikenakan oleh selebriti dan pembeli mengajukan kebangkrutan pada tanggal 4 Mei. Perusahaan tersebut juga pemilik dari brand Madewell, merek pakaian dan aksesori wanita.

Sementara itu, department store mewah Neiman Marcus mengajukan pailit pada 7 Mei. Pengecer berusia seabad ini adalah salah satu dari beberapa department store tradisional yang diprediksi akan bermasalah.

Adapun, Gold's Gym, yang memiliki dan mengoperasikan lebih dari 700 gym di AS dan global mengajukan kebangkrutan pailit di hari yang sama.

11 Mei: Stage Stores
Stage Stores dengan operasi bisnis di 800 lokasi yang fokus pada komunitas pedesaan, mengajukan kebangkrutan pada 10 Mei. Merek tersebut menjual berbagai barang, termasuk pakaian jadi, kosmetik, dan barang-barang rumah tangga.

15 Mei: JCPenney
Berbasis di Plano, Texas, pengecer ini didirikan lebih dari satu abad yang lalu sebagai salah satu department store pertama di AS. Namun trennya menurun karena orang beralih ke pengecer online dan mode cepat untuk berbelanja. JCPenney telah menghadapi masalah keuangan selama beberapa tahun, dan mengajukan pailit pada 15 Mei.

18 Mei: Centric Brands

27 Mei: Tuesday Morning
Pengecer peralatan rumah tangga dengan harga diskon, Tuesday Morning, mengajukan kebangkrutan pada 27 Mei. Perusahaan yang berbasis di Texas ini mengoperasikan hampir 700 toko di 39 negara bagian.

24 Juni: GNC
Rantai pengecer vitamin dan suplemen GNC mengajukan kebangkrutan pada tanggal 23 Juni. GNC mengoperasikan hampir 3.000 toko di AS; perusahaan menyatakan dalam siaran pers bahwa pengajuan ini akan "mempercepat" penutupan 800-1.200 toko yang direncanakan.

29 Juni: Cirque du Soleil
Cirque du Soleil, grup akrobat dan hiburan yang berbasis di Kanada, mengajukan pailit dan mengatakan melalui siaran pers bahwa restrukturisasi keuangan mereka disebabkan oleh pembatalan acara dan penutupan venue terkait pandemi. Perusahaan juga mengumumkan PHK terhadap hampir 3.500 karyawannya yang sudah dirumahkan.

3 Juli: Lucky Brand
Pengecer denim dan pakaian jadi Lucky Brand mengajukan kebangkrutan pada 3 Juli. Perusahaan, yang didirikan pada 1993, telah diakuisisi oleh SPARC Group, yang memiliki pengecer seperti Aeropostale dan Nautica. Dalam siaran pers, CEO sementara Matthew A. Kaness mengutip dampak Covid-19 pada bisnis sebagai faktor yang berkontribusi pada pengajuan tersebut.

8 Juli: Brooks Brothers
Brand untuk setelan klasik, Brooks Brothers, mengajukan bangkrut setelah ritel yang usianya sudah berabad-abad ini mempertimbangkan potensi penjualan selama setahun terakhir, tetapi, menurut juru bicara perusahaan, pandemi menjadi faktor yang sangat mengganggu.
 
13 Juli: RTW Retailwinds Inc.

14 Juli: The Paper Store

23 Juli: Ascena Retail Group
Ascena Retail Group, yang memiliki beberapa merek pakaian wanita dan anak perempuan, mengajukan pailit pada 23 Juli. Ascena, yang mengoperasikan Ann Taylor, LOFT, Lane Bryant, Lou & Grey, dan Justice, mengatakan melalui siaran pers bahwa mereka akan menutup sebagian dari 12 toko Justice dan sejumlah toko pakaian orang dewasa.

2 Agustus: Lord & Taylor
Lord & Taylor, department store tertua di AS, mengajukan kebangkrutan pada 2 Agustus. Perusahaan itu terjual ke pengecer Prancis Le Tote dan menjual toko 11 lantai di Kota New York tahun lalu. Perusahaan ini tersebut mengoperasikan lusinan lokasi di seluruh negeri.

12 Agustus: Stein Mart
Toserba diskonan, Stein Mart, mengajukan pailit pada 12 Agustus. Rantai toserba, yang didirikan pada 1908, berencana untuk menutup sebagian besar, jika tidak semua, dari 281 toko fisik mereka. Dalam siaran pers, CEO & CFO Hunt Hawkins, mengutip efek gabungan dari lingkungan ritel yang menantang ditambah dengan dampak pandemi virus corona sebagai alasan kebangkrutan.

10 September: Century 21 Department Store
Pengecer diskonan, Century 21, mengajukan pailit pada 10 September. Jaringan department store, yang mengoperasikan 13 lokasi di empat negara bagian di AS ini, telah menawarkan harga rendah kepada pembeli untuk barang-barang bermerek sejak 1961. Co-CEO Raymond Gindi mengutip kurangnya asuransi pendanaan sebagai alasan penutupan bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel bangkrut pandemi corona

Sumber : pengajuan publik, Yahoo Finance, CNBC News

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top