Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Guru Besar UGM : Kulit Kambing Potensial Jadi Bahan Gelatin dan Kolagen

Apabila dimanfaatkan dengan baik, tulang dan kulit kambing lokal bisa jadi alternatif bahan baku gelatin. Pasalnya, kebutuhan gelatin dalam negeri terus meningkat, sementara supply hanya bisa dipenuhi oleh gelatin impor dari beberapa negara.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 30 Juni 2021  |  21:05 WIB
Pedagang dan pembeli kambing bertransaksi di pasar hewan Kranggan, Temanggung, Jateng, Senin (28/8). - ANTARA/Anis Efizudin
Pedagang dan pembeli kambing bertransaksi di pasar hewan Kranggan, Temanggung, Jateng, Senin (28/8). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Yunny Erwanto, dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, memaparkan hasil kajiannya tentang prospek tulang dan kulit kambing lokal sebagai bahan baku gelatin dan kolagen. Dalam pidato pengukuhan guru besarnya, Selasa (29/6/2021), disampaikan bahwa tulang dan kulit kambing lokal berpotensi menjadi bahan baku alternatif bagi pemenuhan kebutuhan gelatin.

“Kebutuhan akan gelatin saat ini hampir 100 persen dipenuhi oleh gelatin impor dari berbagai negara, seperti China, Australia, Jepang, Amerika, dan beberapa negara Eropa,” jelas Yunny dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis.

Di dalam negeri, gelatin menjadi bahan baku dalam industri es krim, permen, cake, dan minuman. Tak hanya itu, hasil ikutan pemotongan hewan ternak tersebut juga dimanfaatkan dalam industri pangan kesehatan seperti minuman yang mengandung kolagen dan bersifat antioksidan.

Belakangan, kebutuhan gelatin di dalam negeri terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2019 volume impor gelatin mencapai 4.808 ton. Yunny menilai, tingginya kebutuhan tersebut mestinya bisa dipenuhi dari dalam negeri.

“Pemanfaatan hasil ikutan ternak sebagai sumber gelatin dan kolagen perlu terus dikembangkan dengan teknologi yang ekonomis dan mendasar pada pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia,” jelas Yunny.

Dalam setiap kegiatan pemotongan hewan ternak, misalnya sapi, dihasilkan 35 persen daging dari berat hidup hewan dan 65 persen sisanya berupa hasil ikutan. Yunny menyebutkan bahwa dengan jumlah pemotongan sapi pada tahun 2019 yang mencapai 1.102.256 ekor, apabila berat hidup sapi rata-rata 350 kilogram, maka setidaknya ada 30 kilogram kulit sapi segar yang dihasilkan setiap ekornya.

Jika dikonversikan, secara nasional, potensi produksinya dalam setahun dapat mencapai 33.067 ton kulit sapi. Yunny menghitung bahwa setidaknya, dengan jumlah tersebut, dapat dihasilkan 3.300 ton gelatin. Sementara itu, sekitar 4.580 ton gelatin bisa dihasilkan dengan pemanfaatan tulang sisa pemotongan sapi yang pada tahun 2019 jumlahnya mencapai 57.317 ton. “Potensi tersebut merupakan potensi yang sangat cukup untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri,” simpulnya.

Selain berpotensi memenuhi kebutuhan gelatin dan kolagen dalam negeri, Yunny juga menyampaikan bahwa tulang dan kulit kambing lokal terbukti memiliki manfaat lain. Dari penelitian yang dilakukan Yunny dan timnya, ditemukan bahwa kolagen dari kulit kambing memiliki efek antihipertensi.

“Kolagen yang dihidrolisis lanjut dengan berbagai macam enzim menghasilkan fraksi peptide yang mempunyai potensi sebagai agen hipertensi, khususnya dari kolagen kulit kambing,” jelas Yunny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kambing iduladha
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top