Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Potensi Bisnis Pengelolaan Sampah dengan Konsep Ekonomi Sirkular

Jika melihat dari data kementerian LHK, pada tahun 2020 Indonesia menghasilkan sebesar 67,8 juta ton sampah. Dengan ini maka satu penduduk menghasilkan 0,68 kg sampah per hatinya.
Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 22 Februari 2022  |  14:26 WIB
Pemulung mengangkat sampah yang bisa didaur ulang di TPA Antang Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5 Januari 2016).  -  Antara Yusran Uccang
Pemulung mengangkat sampah yang bisa didaur ulang di TPA Antang Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5 Januari 2016). - Antara Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia, sampah masih menjadi kendala terbesar.

Jika melihat dari data kementerian LHK, pada tahun 2020 Indonesia menghasilkan sebesar 67,8 juta ton sampah. Dengan ini maka satu penduduk menghasilkan 0,68 kg sampah per hatinya.

Diketahui juga bahwa penyumbang sampah terbesar berasal dari rumah tangga yakni sebesar 37,3 persen.

Penyumbang terbesar berikutnya yakni dari pasar tradisional dengan 16,4 persen, dari kawasan sebesar 15,9 persen, dan 14,6 persen dari sumber lainnya.

Namun, walaupun melihat permasalahan ini, Dini Trisyanti selaku Direktur Sustainable Waste Indonesia (WNI) optimis dapat memecahkan permasalahan ini.

“Permasalahan sampah di Indonesia terutama sampah plastik bisa diatasi dengan kolaborasi seluruh stakeholder yang terlibat dalam rantai nilai sampah mulai dari upstream midstream, dan downstream” Ucapnya dalam webinar Pengelolaan Sampah di Indonesia Berbasis Ekonomi Sirkular.

Dirinya kemudian melanjutkan bahwa permasalahan ini perlu didukung dari sisi teknologi dan inovasi. Ekosistem pengumpulan sampah oleh masyarakat dan bank sampah yang terintegrasi dengan pendaur ulang juga menjadi penting.

“Beberapa jenis kemasan plastik juga masih memiliki nilai rendah karena keterbatasan teknologi, market dan kolektibilitas. Oleh sebab itu selain penting untuk pemilahan di sumber, Pemerintah dan Industri perlu mengembangkan teknologi dan model bisnis untuk mengatasinya.”

Dr.Eng Astryd Viandila Dahlan selaku Akademisi dari Universitas Indonesia, juga mengatakan bahwa dengan ekonomi sirkular maka akan membantu nilai tambah. Hal ini dapat dilakukan karena sampah diolah kembali ke sumbernya atau menjadi produk lainnya.

“Oleh karena itu, paradigma masyarakat terhadap tata kelola sampah sudah mulai harus berubah. Pemilahan sampah dari sumbernya dapat meningkatkan jumlah sampah yang dapat didaur ulang sehingga potensi daur ulang pun akan semakin tumbuh. “ jelasnya.

Dengan melakukan hal tersebut, dirinya mengatakan akan menumbuhkan orientasi ekonomi sirkuler di sektor pengelolaan sampah.
Untuk merubah perilaku masyarakat, maka perlunya peranan dari pendidikan, pendampingan serta penyediaan infrastruktur dari stakeholder dalam pengelolaan sampah.

Menanggapi hal ini, Edi Rivai selaku Direktur Chandra Asri berperan menjadi mitra untuk menciptakan program keberlanjutan untuk mengatasi permasalahan plastik. Program yang menjadi flagshipnya adalah aspal plastik dan siap menggandeng banyak mitra untuk bersinergi.

Perusahaannya juga membina fasilitas pengelolaan sampah terintegrasi IPST Asari di Cilegon serta mendukung program Pemerintah DKI, Jakarta Recycle Center.

“Harapannya, akan semakin banyak pihak yang turut berpartisipasi dalam inisiatif ini untuk bersama-sama mendukung Pemerintah Indonesia mencapai tujuan pengelolaan sampah.” Ucapnya dalam acara yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sampah tips bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top