Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kunci Sukses Bisnis Masa Kini ala Para Pemilik Toko Kelontong, Apa Saja?

Rahasia melakukan perubahan adalah kerahkan segala energi untuk mencoba dan membangun yang baru, bukan melawan dengan cara lama
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 16 Agustus 2022  |  19:00 WIB
Kunci Sukses Bisnis Masa Kini ala Para Pemilik Toko Kelontong, Apa Saja?
Foto: Dok. HM Sampoerna
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ada pepatah yang menyebutkan, rahasia melakukan perubahan adalah kerahkan segala energi untuk mencoba dan membangun yang baru, bukan melawan dengan cara lama. Pepatah ini mungkin cocok untuk menggambarkan pengalaman ketiga pemilik toko kelontong yang bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC) ini yang selalu berinovasi dalam menjalankan bisnisnya.

SRC adalah komunitas toko kelontong terbesar di Indonesia dengan sekitar 165.000 anggota di seluruh Indonesia, yang berada di bawah binaan PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna).

Beberapa dari mereka adalah Adi Widodo, pemilik Toko SRC Nikimura; Susmiatiningsih, pemilik Toko SRC Cemara Tujuh; dan Agus Budy Setiawan, pemilik Toko SRC Indra Jaya.

Ketiganya memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan dan membuat bisnisnya lebih maju. Salah satunya dengan menyesuaikan perkembangan zaman yang kini serba digital. Jangan sampai ketinggalan zaman dan harus memahami kebutuhan konsumen.

Yuk, simak kisah perjuangan Adi, Susmiatiningsih, dan Agus merintis bisnis toko kelontong hingga akhirnya sukses.

Sempat jualan es keliling, kini bisnis toko kelontong dan punya dua rumah

Adi telah memulai usaha toko kelontongnya pada 2014, setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai pekerja di sebuah pabrik kayu di Jawa Timur. Saat mulai merintis usaha sendiri, jalan yang dilalui Adi tak mudah. Ia pernah berjualan es keliling yang kala itu harganya Rp1.000 per buah. Meski penuh tantangan, ia tak putus harapan.

Kemudian, Adi memutuskan fokus membangun usaha toko kelontong yang kini dikenal dengan Toko SRC Nikimura yang berlokasi di utara Surabaya, Jawa Timur.

Awalnya, toko masih dikelola secara tradisional. Penataan toko belum rapi, barang-barang dagangan masih digantung di berbagai sisi toko. Akhir tahun 2014, Adi bergabung dengan SRC dan sejak itu ia mulai melakukan pembenahan.

Adi mengatakan, ia telah bertekad untuk belajar banyak hal agar perkembangan usahanya menjadi lebih baik. Penataan dan tampilan toko pun diubah agar memberikan kenyamanan bagi konsumen dalam berbelanja. Hasilnya, omzet semakin meningkat.

Selama dua tahun terakhir, Adi dan istrinya mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman dan beralih ke pelayanan secara digital. Proses yang dijalani perlu kesabaran dan ketekunan.

“Segala sesuatu itu dari diri kita sendiri yang harus mau berubah dan berbenah. Hasilnya nanti pasti akan kita nikmati,” kata Adi.

Adi percaya, hasil tak akan mengkhianati usaha. Itu pula yang terjadi kini. Toko SRC Nikimura semakin berkembang. Bahkan, Adi kini sudah memiliki dua rumah yang didapatkan dari hasil bisnis toko kelontong.

Cerita Toko SRC Cemara Tujuh, berawal dari garasi rumah

Tahun ini merupakan tahun ke-22 bagi Susmiatiningsih, biasa disapa Ningsih, menjalankan usaha toko kelontong. Ya, tahun 2000 ia mengawalinya di sebuah garasi di rumahnya yang berlokasi di Malang, Jawa Timur. Toko seadanya. Saat tak beroperasi, garasi itu diisi oleh sepeda motor. Saat toko harus buka, sepeda motor dikeluarkan.

“Kalau diingat-ingat, saat awal dulu, toko saya masih tradisional sekali. Di garasi, motor harus keluar-masuk saat mau buka toko. Penataan juga masih berantakan sekali,” kata Ningsih.

Ia pun hanya menyediakan stok barang dagangan seadanya di tokonya. Pasang surut juga dirasakan Ningsih, tapi ia tetap optimis. Ia kemudian bergabung dengan SRC pada 2009 untuk belajar banyak hal agar usahanya bisa bertahan. Perlahan, ia mulai menata toko. Tak hanya mengubah tampilan fisik, tetapi juga belajar manajemen toko yang lebih rapi dan tertata.

“Waktu mulai banyak ritel modern di dekat rumah, omzet toko sempat turun drastis. Saya sempat khawatir. Kemudian, saya curhat ke teman-teman di SRC, ke coach, saling berbagi pengalaman, diberi tahu kuncinya, trik-triknya, akhirnya toko saya bisa bersaing juga,” ujar Ningsih.

Mau belajar, itulah yang membuat Ningsih bisa membuat usahanya eksis dan bertahan hingga saat ini.

Toko pernah seperti “hutan”, kini punya 700 pelanggan di aplikasi

Kisah sukses berikutnya datang dari Agus Budy Setiawan, pemilik Toko SRC Indra Jaya, yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Agus memulai usaha toko kelontong pada 2012, dengan penataan seadanya. Bahkan, Agus menyebut tokonya pernah seperti “hutan”.

“Dulu itu toko kayak hutan, banyak rencengan. Penempatan barang tidak diatur. Jadi saya sering bingung sendiri nyari barangnya di mana saat ada konsumen mau beli,” ujar Agus.

Lima tahun berjalan, ia kemudian bergabung dengan SRC pada 2017 dan mendapatkan masukan untuk menata tokonya dengan lebih baik. Salah satunya, tentang pentingnya mengatur pengelompokan barang. Hal ini akan memudahkan penjual dan pembeli saat mencari barang yang dibutuhkan.

Setelah bergabung dengan SRC, Agus pun menerapkan tiga hal utama yang paling ditekankan yaitu rapi, bersih, dan terang. Toko yang rapi, bersih, dan terang, membuat pelanggan nyaman saat berbelanja. Omzet Toko SRC Indra Jaya pun meningkat tajam.

Tiga tahun terakhir, Agus juga mulai menerapkan digitalisasi dalam penerapan tokonya. Ia memanfaatkan aplikasi “AYO Kelontong” yang disediakan SRC. Pelanggan bisa memesan barang yang dibutuhkannya ke toko kelontong terdekat melalui aplikasi ini. Menurut Agus, pelanggan di akun SRC Indra Jaya sudah mencapai 700 orang. Pandemi juga tak membuat toko Agus goyah, karena ia telah lebih dulu beradaptasi dengan penggunaan teknologi.

“Kita tidak bisa terus berada di zona nyaman. Harus bergerak dan beradaptasi dengan zaman, kalau tidak, akan ketinggalan,” kata Agus.

Apa kunci sukses bisnis toko kelontong di era digital?

Pengalaman dan proses yang dikisahkan Adi, Agus Budy, dan Ningsih menunjukkan, para pelaku usaha harus beradaptasi di era digital. Berani berubah. Inilah sekelumit “bocoran” kunci sukses para pemilik toko kelontong yang tergabung dalam SRC.

Digitalisasi seperti apa yang mereka lakukan dalam pengelolaan toko kelontong? Ingin tahu lebih jauh soal apa saja strategi yang diterapkan Adi, Susmiatiningsih, dan Agus Budy hingga usaha kelontongnya berkembang dan maju di era digital saat ini?

Temukan jawabannya dalam gelaran “UMKM Untuk Indonesia” yang bisa Anda ikuti pada 18 Agustus 2022 melalui tautan berikut ini. Turut hadir pada kesempatan tersebut, di antaranya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Uno dan Direktur SRC Rima Tanago.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna umkm
Editor : Media Digital
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top