Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

7 Kesalahan Pengusaha Penyebab Bisnis Startup Gagal

Saat ini banyak bisnis startup tutup karena banyak faktor. Menurut ahli, ada beberapa penyebab kesalahan pebisnis yang membuat bisnis startup tutup.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 24 November 2022  |  16:03 WIB
7 Kesalahan Pengusaha Penyebab Bisnis Startup Gagal
Ilustrasi Startup. Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tren bisnis startup tutup dan mem PHK massal karyawannya sepertinya terus berlanjut.

Di Indonesia sendiri sudah ada 21 startup yang mengumumkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Sepanjang tahun 2022, sudah terjadi 1.229 kasus PHK yang dilakukan oleh startup di seluruh dunia. Bahkan, dilansir dari laman resmi Trueup, Kamis (24/11/2022), tech winter tersebut memakan korban hingga 202.522 karyawan yang terdampak PHK.

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi mengatakan startup yang mengalami kegagalan, biasanya karena faktor manajerial dan kurangnya kurangnya fokus pada menjalankan bisnis sesuai dengan kebutuhan pasar. 

Selain itu, ada juga beberapa kesalahan dari pengusaha saat memulai bisnis yang membuat bisnis startupnya kandas di tengah jalan berikut ini.

7 Kesalahpahaman Pengusaha saat Memulai Bisnis 

Melansir dari Entrepreneur pada Kamis (24/11/2022), meski memulai bisnis bisa menjadi salah satu hal paling menarik, sebab prosesnya memiliki tantangan tersendiri, tetapi penting untuk tidak membiarkan kesalahpahaman membuat bisnis Anda berhenti. Simak ulasannya. 

1. Tidak menggunakan rencana bisnis

Ada banyak kesalahpahaman tentang memulai bisnis. Salah satu yang paling umum adalah Anda tidak menulis rencana bisnis formal, karena dianggap tidak terlalu penting.

Padahal pada kenyataannya, sebuah rencana bisnis, yang memerinci tujuan menyeluruh perusahaan hingga budgeting akan memberikan proyeksi untuk pendapatan dan biaya, sehingga Anda akan terbantu dalam memvisualisasikan kemana arah perusahaan dalam jangka panjang maupun pendek.

Contohnya adalah periklanan: banyak perusahaan baru menghabiskan ratusan juta untuk iklan tanpa memikirkan audiens, anggaran atau strategi pemasaran mereka. Menulis rencana pemasaran sebelum berinvestasi dalam pembelian iklan apa pun akan membantu mencegah timbulnya masalah ini dan menghemat uang Anda selama prosesnya.

2. Mengandalkan investor

Terlalu mengandalkan pendanaan dan tidak memiliki cukup uang pribadi yang diinvestasikan dalam bisnis adalah beberapa penyebab bisnis startup tutup. Hal ini menyebabkan ketergantungan yang berlebihan pada pinjaman, yang bisa menjadi sulit jika perusahaan bangkrut atau mengalami masalah. 

Kesalahan kedua adalah menghabiskan terlalu banyak uang untuk hal-hal yang tidak membantu kesuksesan bisnis Anda, seperti ruang kantor yang mewah, furnitur yang mahal atau menggaji karyawan secara berlebih.

3. Harus memilih antara bekerja dan kehidupan pribadi

Anda tidak akan punya waktu untuk menangani setiap detail. Sehingga, Anda perlu untuk mendelegasikan tugas yang tidak harus memiliki keahlian khusus, seperti menjawab panggilan telepon atau membuang sampah di resepsi. 

Namun, ada beberapa hal yang hanya dapat Anda lakukan, misalnya, menyiapkan kampanye pemasaran memerlukan pemahaman bagaimana saluran yang berbeda bekerja sama untuk efektivitas maksimum; memperbarui konten situs web memerlukan mengetahui kata kunci apa yang dicari orang ketika mencari informasi tentang topik tertentu; ataupun melakukan pemrograman.

4. Tidak menetapkan batasan

Ketika Anda memulai bisnis, maka Anda akan mengetahui bahwa permasalahan yang ada kian kompleks, hingga jarang ada orang yang memberi tahu seseorang kapan waktunya berhenti dan pulang. Dan kemungkinan Anda akan terus bekerja jika Anda belum menetapkan batasan. 

Namun, hal ini perlu Anda perhatikan bahwa orang tidak mau jika harus bekerja hingga lupa waktu. Sehingga, Anda harus atur ekspetasi dari seorang karyawan dan kemudian bertindak sesuai dengan itu. Jika Anda gagal melakukan ini, ekspektasi Anda akan menjadi tidak realistis, dan pada akhirnya, tidak ada yang mau bekerja sama dengan Anda.

5. Membandingkan dengan perusahaan lain

Jangan selalu membandingkan bisnis Anda dengan perusahaan lain. Apalagi, jika Anda merupakan pebisnis baru. 

Pada tahap ini membanding-bandingkan hanya akan menimbulkan kecemburuan atau hal negatif. Alih-alih membandingkan diri Anda dengan perusahaan lain, fokuslah pada tujuan Anda dan bagaimana Anda dapat mencapainya dengan cara yang seefektif mungkin. Anda dapat belajar dari orang lain, tetapi jangan mencoba meniru kesuksesan mereka, karena tiap orang punya spesialisasinya masing-masing.

6. Jangan melakukan kesalahan

Semua orang wajar jika membuat kesalahan, yang penting bagaimana kita dapat belajar dari pengalaman tersebut. Jika Anda tidak melakukan kesalahan, Anda mungkin tidak berusaha lebih keras atau kehilangan kemampuan problem solving untuk berpikir kreatif dan mandiri.

Kesalahan adalah bagian dari proses. Sebab dari kejadian tersebut, situasi tersebut akan mengajarkan apa yang berhasil dan apa yang tidak terkait produk, layanan, pelanggan dan persaingan bisnis kita.

7. Mengambil risiko yang tinggi saat pertama kali memulai

Kesalahan yang terakhir adalah ketika tidak adanya perhitungan dalam mengambil risiko. Padahal, tidak semua hal yang berbahaya akan memberikan peluang yang signifikan. 

Anda harus benar-benar memikirkan risiko yang sesuai dengan nilai dan tujuan Anda sebagai individu atau perusahaan, sehingga ketika Anda bisa bertahan dari risiko ini, Anda tidak hanya sekadar bertahan, tapi juga berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp investasi startup startup perusahaan startup Bisnis Startup
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top