Alim Markus: Jangan jadi generasi sampah

Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif. Tulisan kali ini menampilkan Alim Markus, penggemar tenis meja dan generasi kedua pemilik kelompok usaha Maspion, yang berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.
News Editor | 17 Desember 2010 12:02 WIB

Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif. Tulisan kali ini menampilkan Alim Markus, penggemar tenis meja dan generasi kedua pemilik kelompok usaha Maspion, yang berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.

 

Tidak hanya dikenal identik dengan industri manufaktur bidang peralatan rumah tangga, Alim Markus telah membawa kelompok usaha Maspion dengan 53 anak perusahaan ini merambah sektor properti, kawasan industri, perbankan, ritel, pendidikan, bahkan hotel dan tempat hiburan. Dua perusahaan di antaranya telah menjadi perusahaan publik yakni PT Indal Aluminium Industry dan PT Alumindo Light Metal Industry.

 

Untuk mengetahui suka duka anak tertua alm. Alim Husin, sekaligus tokoh sentral grup tersebut itu, Bisnis mewawancarai Alim, di ruang kerjanya di gedung berlantai sembilan kantor pusat grup itu. Berikut petikannya:

 

Kapan tepatnya Anda mulai dilibatkan dalam usaha keluarga ini?

 

Saya masih berusia 15 tahun [sekitar tahun 1963], saat diminta ayah saya, Alim Husin, membantu menangani UD Logam Jawa yang didirikan pada 1957. Industri rumah tangga kami memproduksi alat-alat rumah tangga seperti ayakan, panci, penggorengan, lampu minyak tanah, perabot plastik, perangkap tikus dan sejenisnya. Jumlah pekerja saat itu delapan orang. Lokasi pabrik adalah di Jl. Pecindilan, Surabaya, sementara kami semua tinggal di Jl Kapasan II/2, Surabaya.

 

Bagaimana Anda menjalani amanat itu selanjutnya?

 

Saya menyadari status saya sebagai pelaku usaha skala kecil menengah (UKM), tapi saya tidak cengeng, justru giat banting tulang serta melakukan penghematan untuk akumulasi modal.

 

Pengalaman saya selama ini menunjukkan dalam menangani usaha, yang penting telah menguasai basic knowledge, kemudian memahami faktor-faktor lain, seperti menghadapi para pesaing dan memperlancar distribusi serta meningkatkan layanan kepada konsumen.

 

Ternyata usaha keluarga kami terus bertumbuh. Logam Jawa lantas berpindah lokasi ke Waru, Kab. Sidoarjo, yang kini dinamakan kawasan Maspion I, dengan dukungan 200 orang tenaga kerja.

 

Kepindahan itu berlangsung pada 1972 dan sekaligus nama perusahaan berganti menjadi PT Maspion, yang mengandung arti master champion, juaranya juara.

 

Beberapa waktu terakhir, kami sosialisasikan Maspion sebagai singkatan dari slogan 'Mengajak Anda Supaya Pakai Industri Olahan Nasional'.

 

Apakah ada hubungannya dengan menampilkan penyanyi Titiek Puspa pada iklan produk Anda?

 

Titiek Puspa adalah penyanyi nasional dan bertahan tiga zaman. Kami harapkan citra produk kami pun identik dengan daya tahan tiga zaman tersebut, karena memang kami membuat semua produk kami dengan kualitas tinggi. Saya sangat suka iklan itu, makanya kami tampilkan terus di dua stasiun TV.

 

Rahasia di balik kesuksesan Grup Maspion?

 

Ya betul. Saya punya tips 5 M, yang senantiasa saya ingatkan pada seluruh armada pemasaran saya, yaitu Mencari informasi pasar, Menonjolkan/mempromosikan slogan, Memproduksi, Meyakinkan distribustor, dan terakhir Menutup deal.

 

Seluruh manajemen, dari staf paling rendah hingga menengah, harus bergerak ke arah yang sama, peran budaya perusahaan pada tahap ini sangat besar. Hal ini agar pada akhirnya semua maju bersama, termasuk pemegang saham, distributor, pemasok, dan pemerintah daerah.

 

Bagaimana Anda melihat industri manufaktur nasional yang belakangan ini cenderung stagnan?

 

Industri butuh bahan baku, karena itu sudah selayaknya pemerintah serius membuat kebijakan terkait pemenuhan bahan baku itu. Menteri harus rajin berkunjung ke para pelaku industri di sektor manufaktur. Jangan hanya jualan CPO, batu bara. Seharusnya kekayaan alam itu lebih banyak dimanfaatkan di dalam negeri agar memiliki nilai tambah tinggi sekaligus menghidupkan industri lokal. Selain disediakan bahan baku, selayaknya industri lokal pun diberikan insentif berupa bunga agar mampu bersaing menghadapi persaingan global, termasuk berlangsungnya Asean-China Free Trade Agreement.

 

Ada pola insentif yang menurut Anda tepat?

 

Sebenarnya untuk memacu pertumbuhan sektor usaha khususnya manufaktur, tidak sulit, tinggal keberanian dan kemauan dari pemerintah saja. Masalah yang sering terjadi adalah penyerapan kredit di sektor riil yang lamban. Di pihak lain bank kelebihan likuiditas dan lebih banyak menyimpan dananya ke dalam bentuk SBI dengan bunga 6,5%, tetapi sayangnya pengusaha mengeluhkan suku bunga kredit yang tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya seperti negara-negara Asean dan China.

 

Berkaca dari China sajalah yang selalu mencari berbagai terobosan untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Kalau saya jadi pemerintah dana yang menumpuk di SBI itulah yang disalurkan ke dunia usaha, baik untuk infrastruktur maupun industri, katakanlah dengan menaikkan lagi suku bunga sebesar 2% -3,5%, atau lebih. Saya optimistis pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia akan sangat banter.

 

Anda melihat pemikiran tersebut realistis?

 

Ya. Pemerintah nantinya tidak perlu repot mencari dana untuk membayar beban bunga SBI, pemeritah juga diuntungkan karena ada tambahan bunga. Sementara itu bagi dunia usaha sudah jelas merupakan tawaran yang sangat menggiurkan untuk bisa mengembangkan bisnisnya karena suku bunga kreditnya menjadi sangat murah. Tentu kunci utamanya harus pandai di dalam menyeleksi sektor usaha mana dan perusahaan apa termasuk siapa pengusahanya yang layak memperoleh fasilitas kredit bersangkutan. Saya kira dalam kondisi tertentu tidak ada salahnya pemerintah men-drive- sendiri pergerakan suku bunga pinjaman. Langkah strategis itu juga dilakukan di China, karena relatif simple.

 

Bisa saja diterapkan menurut jumlah tenaga kerja yang direkrut. Semisal perusahaan yang menyerap 1.000 pekerja dikenakan suku bunga kredit 8%/tahun, lantas perusahaan yang menyerap 10.000 orang hanya 6%/tahun begitu seterusnya.

 

Bisa dibayangkan efek besarnya jika kebijakan itu diterapkan pada 100 pabrik atau industri saja, dapat dipastikan ekspansi sektor manufaktur akan tumbuh kencang, dan ujung-ujungnya menciptakan lapangan kerja baru.

 

Bagaimana Anda melihat semangat wirausaha bangsa ini?

 

Setiap kali berhadapan atau diundang sebagai pembicara di tengah-tengah mahasiswa, saya akan selalu menyoroti masalah yang tren saat itu seperti kenaikan harga BBM dan sikap mahasiswa, yang terpancing melakukan demo di jalan.

 

Selain menjelaskan bahwa pemerintah memang harus menjalankan kebijakan itu, saya juga mengingatkan mahasiswa tidak perlu turun ke jalan. Seharusnya mereka bersyukur bisa mengenyam pendidikan tinggi, tidak seperti saya yang hanya tamatan SMP, harusnya bahkan lebih sukses dari saya.

 

Kekayaan bumi Indonesia sangat banyak yang bisa dikelola [oleh mahasiswa yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, dan memiliki pengetahuan mengenai kewirausahaan yang lebih baik].

 

Generasi muda justru mesti bisa berpikir bagaimana mengelola hasil bumi termasuk sumber minyak, agar harga BBM tidak lagi tergantung pada spekulan seperti sekarang ini.

 

Bagaimana Anda menyiapkan regenerasi dalam perusahaan keluarga ini?

 

Yang pasti, seluruh karyawan Maspion Group mulai tingkat direktur utama hingga pekerja tingkat bawah harus mengenal hukum sekaligus taat hukum, lingkungan bersih dan menerapkan kedisiplinan seperti militer.

 

Itu dasar untuk menguatkan profesionalisme semua karyawan. Estafet perusahaan tidak menjadi sulit lagi. Saya sendiri lebih suka anak-anak saya menjadi diri mereka sendiri. Artinya lebih baik bagi mereka, bila menjadi raja kecil di perusahaan yang mereka bangun dan pimpin sendiri, meski masih dalam naungan Grup Maspion.

 

Saya katakan kepada mereka jangan menjadi generasi sampah. Jika hari ini mampu mengumpulkan keuntungan Rp1 juta, hari esok minimal harus bisa menjadi Rp1,01 juta. Begitu seterusnya perusahaan harus terus tumbuh dan berkembang.

 

 

Biografi
Nama LengkapAlim Markus
Usia62 tahun
IstriSriyani
PendidikanSMP
Anak-anak7 orang (5 wanita dan 2 laki-laki)
OrangtuaAlim Husin (Ayah)Angkasa Rachmawati (Ibu)
SaudaraAlim MuliasastraAlim SatriaAlim PrakasaAlim Puspita

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top