Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KIAT MANAJEMEN: Kepercayaan sempurna

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 Mei 2012  |  12:36 WIB

 

 

Kabar gembira muncul dari riset Nielsen. Tingkat kepercayaan konsumen global semakin meningkat pada kuartal pertama tahun ini. Perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan pertumbuhan ekonomi di Asia menjadikan indeks kepercayaan konsumen naik 5 poin hingga ke level 94.

 

Boleh dikatakan, angka ini tertinggi sejak krisis global 2008-2009 yang membuat banyak perusahaan pontang-panting mengatur arus keuangan. Riset itu juga menunjukkan bahwa orang Indonesia cukup percaya diri bahwa perekonomian akan membaik. 

 

Dari indeks optimisme, Indonesia berada di posisi atas, hanya kalah dengan India yang berada di puncak piramida. Bangunan dasar piramida itu dikuasai oleh negera-negara Eropa. Hal itu sejalan dengan indeks rata-rata yang diperoleh oleh negara-negara Eropa yang justru menurun.

 

Kepercayaan adalah kunci penting yang menjadi tolok ukur bersama. Para pengatur strategi ekonomi dunia membangun kredibilitas untuk membuat kepercayaan naik.

 

Dalam buku Speed of Trust karya Stephen M.R. Covey dan Rebecca R. Merril, kredibilitas masuk dalam gelombang pertama ketika kita ingin membangun kepercayaan. Sementara itu, kepercayaan tidak bisa muncul tanpa terlebih dulu tumbuh dari dalam diri kita.

 

Covey menuntun kita untuk masuk pada empat inti yang menjadi dasar kredibilitas. Yang pertama adalah Integritas (integrity). Hampir segala keputusan melewati uji integritas, entah disadari atau tidak. Bahkan orang minta tolong ke paranormal pun didasarkan kepada integritasnya. Tentunya dengan standar nilai yang berbeda.

 

Kita akan enggan berteman dengan seorang pembohong. Kejujuran dan transparansi menjadi elemen kunci. Walaupun begitu, kejujuran saja tidak cukup. Di sini mencakup juga bagaimana kita menjalankan prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Anda susah mengajarkan anak untuk hidup teratur apabila kehidupan Anda sendiri acak-acakan. Di sini pula terdapat ujian untuk memercayai orang lain. Anda bisa dipercaya apabila Anda juga percaya pada orang lain.

 

Inti yang kedua adalah Niat (Intent). Apakah kita bisa menelisik niat seseorang?  Bisakah sesuatu yang tertanam di dalam hati itu kasat mata? Memang tidak kasat mata akan tetapi niat itu menjadi landasan yang kian lama kian terasa pengaruhnya. Inti dari niat adalah motif, agenda, dan perilaku.

 

Covey menekankan untuk memberi perhatian kepada kepentingan orang lain. Sikap mementingan diri sendiri hanya akan membuat orang lain enggan. Silakan simak bagaimana Barack Obama berusaha meyakinkan rakyat Amerika Serikat bahwa tugasnya adalah membantu ekonomi kembali ke jalurnya.

 

”Kita dapat menghentikan sirkus politik dan bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu untuk membantu perekonomian,” Obama mengucapkannya di depan Kongres kuartal terakhir tahun lalu.

 

Apa yang diucapkan ini selaras dengan apa yang dilakukan, diantaranya adalah Paket Stimulus yang mulai diluncurkan pada 2009. Pada tahun itu pula pertumbuhan produk domestik (growth domestic product) naik antara 1,4%-3,8%.

 

Anda bisa mempertanyakan, apakah hal ini bisa disebut sebagai niat? Bukankah Obama bisa saja melakukan retorika politik semata?

 

Kalau pertanyaannya seperti itu, jawabannya adalah benar. Akan tetapi, kita juga bisa menilai bahwa retorika itu juga memiliki makna untuk kepentingan orang banyak (dalam hal ini rakyat Amerika Serikat). 

 

Kita bisa membandingkan dengan retorika-retorika politik yang sering terpampang di surat kabar. Banyak politisi yang terjebak pada retorika tanpa mengingat kembali apa yang mereka janjikan ketika Pemilu.

 

Kelemahan itu bisa juga berhubungan dengan inti kredibilitas yang ketiga, yakni Kapabilitas (Capabilities).

 

Kapabilitas mencakup di antaranya adalah bakat, sikap, keahlian, pengetahuan, dan gaya.  Segala elemen itu menjadi unsur yang menyatukan kecakapan. Dari tahun ke tahun, perusahaan-perusahaan Asia mampu menunjukkan performa yang bagus dan stabil.

 

Lebih dari 10 tahun terakhir, bisnis ritel di kawasan  Asia-Pasifik mengalami perkembangan dramatis. Pertumbuhan ekonomi tinggi dengan populasi yang banyak. Tren gaya hidup berkembang pesat. Orang-orang Asia juga mendapat tempat di berbagai pusat bisnis.

 

Perusahaan-perusahaan dari Jepang, Korea, Taiwan, dan Cina menjadi raksasa di bisnis global. Mereka tidak hanya mampu menunjukkan bahwa mereka bisa melakukan itu. Perusahaan-perusahaan Asia itu juga menunjukkan bahwa mereka memiliki skema bisnis sendiri.

 

Siapa bisa mengelak kenyataan bahwa Toyota lebih laris dari Ford? Telepon genggam Samsung lebih banyak terjual dibandingkan iPhone? Ah, akan tetapi, Apple pun membuat produknya tidak di Amerika Serikat. Apple lebih memilih Cina untuk membuat iPad.

 

Melihat kenyataan-kenyataan itu, maka hasil memang banyak berbicara. Hal itu selaras dengan inti kredibilitas yang keempat, yakni Hasil (Result). Dalam membangun kredibilitas seorang pemimpin, para anak buahnya pasti akan mengamati bagaimana hasil yang telah diperolehnya.

 

Seseorang pasti tidak cukup rela menjadi anggota tim dengan pemimpin yang belum menghasilkan apa-apa. Katakanlah pemimpin itu memiliki integritas bagus, ketulusan, dan kemampuan. Namun, ia belum terbukti telah menghasilkan sesuatu. Apakah bawahannya akan memiliki kepercayaan?

 

Bisa jadi, ia percaya namun tidak sempurna. Menurut Jack Welch, mempunyai hasil-hasil itu seperti mempunyai “bukti performa" di atas kerja. Dalam kalimat Covey, “Intinya tanpa hasil, Anda tidak akan mempunyai pengaruh yang sama."

 

Empat Inti Kredibilitas ini sebenarnya bisa dibagi menjadi dua, yakni karakter dan kompetensi. Integritas dan Niat termasuk dalam karakter. Kapabilitas dan Hasil masuk dalam kompetensi.

 

Dalam visualisasi pohon, Covey mengandaikan integritas sebagai akar. Sesuatu yang tidak terlihat karena termasuk karakter awal. Niat adalah batang pohon yang tepat di atas akar. Kapabilitas adalah dahan-dahan. Dari dahan-dahan itulah nanti akan menghasilkan buah.

 

Anda tentu bisa menebak, buah itu adalah Hasil. Keberadaan buah itu tidak lepas dari tiga elemen lain yang membuat kita bisa mengatakan inilah pohon yang sempurna. Inilah kepercayaan yang benar-benar percaya. Kepercayaan sempurna.(msb)

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Satyo Fatwan

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top