MONICA KUMALASARI: Bahagia Tanpa Syarat

JAKARTA: Women in Red, julukan itu te­pat bagi seorang Monica Kumalasari, pengusaha yang juga seorang psychotherapist dan life coach. Memasuki Minds and Soul (MS) Clinic miliknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, nuansa merah ada di mana-mana
nurul | 30 Desember 2012 07:02 WIB

JAKARTA: Women in Red, julukan itu te­pat bagi seorang Monica Kumalasari, pengusaha yang juga seorang psychotherapist dan life coach. Memasuki Minds and Soul (MS) Clinic miliknya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, nuansa merah ada di mana-mana menghiasi peralatan kantor hingga interior ruangan.

Uniknya, dominasi warna itu tidak membuat mata merasa jenuh tetapi langsung dapat merasakan aura semangat yang ditimbulkan dari efek merah dan per­pa­duan warna lainnya yang ada sehingga tamu merasa nyaman berada di dalamnya.

“Hallo kenalkan ini bunda Monica. Apa kabar sayang? Sudah makan apa belum?” katanya menyambut dengan pertanyaan layaknya seorang ibu pada anaknya. Tamunya yang datang kali ini memang kategori remaja alias anak baru gede (ABG) yang mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua dan guru-gurunya.

Direktur PT Monica Kumalasari Sejahtera yang menaungi MS Clinic dan MKS Resources (Training & Assesement) ini memberikan jasa therapist dan life coach bagi para klien, selain sebagai fasilitator bagi peserta training-training bisnis, keluarga, spiritual, sosial, kesehatan,  kecantikan hingga pengembangan diri.

Ibu satu anak ini mengaku sangat menikmati profesinya saat ini karena klien yang ditanganinya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kadang bahkan mencakup semua anggota dalam satu keluarga dengan persoalan beragam.

“Harus ada passion yang tinggi untuk terjun di bisnis ini karena bukan hanya jual-beli jasa, tapi menyangkut keikhlasan, komitmen hati dan kasih sayang,” ujarnya membuka pembicaraan.

Menurut Monica, budaya umum yang terjadi di masyarakat kita  selama ini adalah jika seseorang memiliki masalah dalam perilaku menyimpang, mental disease, mental disorder, maka mereka mengunjungi seorang psi­kolog, psikiater, atau mental therapist lainnya.

Bila seseorang memiliki masalah dalam suatu hubungan, maka biasanya mereka akan mencari seorang konselor, misalnya, konselor pernikahan yang akan memediasi kedua belah pihak hingga terciptanya hubungan yang lebih harmonis.

Terapi Diri

Bila membutuhkan saran dari  seseorang yang dianggap ahli dalam bidang tertentu maka mereka akan memilih seorang konsultan. Misalnya, konsultan pendidikan, konsultan human resources. Belakangan merebak istilah baru dalam masyarakat terutama di kota besar, terutama jasa business coaching and life coaching.

“Sayangnya, masyarakat belum paham apa bedanya antara jasa konseling dengan business coaching dan life coaching ini sehingga bisa saja terkecoh dengan ‘kemasan’ dan tarif paket yang tinggi padahal baik pemberi dan pengguna jasa seharusnya punya chemistry, punya keterikatan batin, bukan terikat atau terjebak dengan harga paket,” tutur wanita yang memiliki sertifikasi master NLP, Time Line Therapy and master hypnotherapist ini.

Monica mengatakan idealnya latar belakang pendidikan dan lisensi yang dimiliki akan menuntun coach membantu klien menolong diri sendiri dengan sumber daya yang di­miliki sehingga akhirnya menjadi pebisnis yang sukses.

“Kalau dulu jargonnya  yang  beredar adalah di balik se­orang pria sukses terdapat wanita yang hebat. Maka  kini  bergeser menjadi di balik orang besar dan hebat pasti me­reka memiliki seorang coach,” katanya tersenyum.

Tidak berlebihan memang karena seorang coach akan membantu  untuk menggali potensi yang terpendam pa­da diri seseorang dan membuatnya berdaya. Pada dasar­nya, kata Monica,  semua orang dilahirkan dengan ke­istimewaan masing-masing. Hanya saja, mental block meng­halangi orang tersebut mendapatkan apa yang me­reka inginkan.

“Coach akan membantu menghilangkan dan menemukan mental block tersebut dan kemudian membawanya pada titik tertentu yang mereka inginkan adalah baik itu dalam bidang pekerjaan, karir, perkawinan, pendidikan, kesehatan, dan spiritual,” jelasnya.

Coach memiliki teknik yang membuat seseorang akhirnya menyadari faktor penghambat tersebut dan menghilangkannya. Dia mengaku hanya mengarahkan  kliennya sesuai dengan maksud dan tujuan yang dianggap baik karena yang mengetahui kehebatan pada diri setiap manusia adalah diri mereka sendiri.

Menurut Monica, manusia punya mental block atau emosi negatif  yakni marah, takut, sedih dan rasa bersalah. Setiap hari dalam kehidupan 24 jam, seseorang dalam aktivitasnya sehari-hari minimal akan bersinggungan dengan salah satu emosi negatif itu.

“Anak atau suami belum pulang sekolah atau pulang kantor saja kalau rasa takut mengemuka langsung deh timbul pikiran negatif. Si ibu takut anaknya kumpul-kumpul dulu dengan teman dan terlibat narkoba. Suami belum telepon muncul rasa takut jangan-jangan dia selingkuh,” ujarnya

Disadari atau tidak oleh pelakunya, mental block semacam itu bisa menetap seumur hidup dalam diri bahkan oleh kromosom dalam darah karena emosi negatif itu bisa ditangkap dan diwariskan kepada anak dan cucu melalui DNA. Tidak heran kalau kakeknya kawin-cerai nanti di turunannya juga ada yang mewariskan perilaku seperti itu.

Menangani berbagai kasus di klinik membawanya pada satu slogan “Being normal is common, but becoming upnormal is incredible. Menjadi normal adalah umum, tetapi  upnormal menjadi luar biasa!, kata penulis buku Incredible Me, Change yourself before you change others.

Untuk menjadi luar biasa, Monica mengajak klien mengenali dirinya sendiri dan berdamai dengan kekurangan­nya. Dia melatih mereka agar menjadi lebih bijaksana, tidak terjebak dalam kepalsuan dan ketidakjujuran sehingga mampu mengoptimalkan potensi luar biasa dalam diri.

“Setiap hari saya tidak ‘merasa’ bekerja, tapi  melaku­kan hal-hal yang justru memberikan kebahagian tanpa syarat. Oleh karena itu, saya selalu bersemangat melakukan berbagai aktivitas,” tandasnya. (sut) 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top