LATERAL CYCLING sebagai Dukungan Sustainability

Lateral cycling merupakan aktivitas yang memberikan barang kepada orang lain untuk digunakan kembali.
News Writer | 16 Juni 2013 09:25 WIB

Lateral cycling merupakan aktivitas yang memberikan barang kepada orang lain untuk digunakan kembali.

Rantai pembuatan keputusan konsumen terdiri atas akuisisi, konsumsi, dan disposisi.

Aspek akuisisi merupakan kegiatan untuk mencari informasi mengenai produkatau jasa yang akan dibeli; aspek konsumsi merupakan kegiatan untuk menggunakan produk atau jasa yang sudah dibeli; sedangkan disposisi adalah kegiatan untuk menyudahi kepemilikan produk atau jasa yang sudah habis dikonsumsi.

Tiga rantai ini merupakan kegiatan konsumen yang dilakukan secara rutin untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan setiap harinya. Berkaitan dengan aspek sustainability, tiga aspek tersebut sangat berperan dalam mendukung tercapainya sustainability khususnya dalam bentuk perlindungan terhadap lingkungan.

Sustainability yang digaungkan oleh pemerintah perlu didukung tidak hanya oleh perusahaan, tetapi juga konsumen.

Aktivitas lateral cycling merupakan suatu bentuk yang dikatakan sebagai pendukung sustainability. Konsep ini sudah diajukan oleh John F. Sherry dalam artikelnya yang berjudul A Sociocultural Analysis of a Midwestern American Flea Market, pada Journal of Consumer Research (1990).

Lateral cycling merupakan aktivitas yang memberikan barang kepada orang lain untuk digunakan kembali. Individu yang memberikan barang kepada orang lain mendapat imbalan dari pembelian oleh konsumen lain.

Dengan demikian, barang yang sudah dipakai bisa dimanfaatkan kembali oleh orang lain tanpa harus membuangnya secara sia-sia. Lateral cycling merupakan bentuk kepedulian konsumen terhadap lingkungan, karena apabila hanya terjadi penumpukan barang di rumah atau dibuang maka akan memberi dampak yang negatif.

Penumpukan barang di rumah tentu tidak ekonomis, karena akan memakan ruang rumah, terlebih bila ukuran rumah kecil. Barang yang sudah tidak dipakai, meskipun masih memiliki kualitas bagus, apabila terbuang, akan menjadi barang yang rusak.

Apabila dibuang, akan menjadi barang rongsokan dan tidak bisa dipakai. Terlebih, apabila barang tersebut tidak bisa didaur ulang, maka barang tersebut akan menimbulkan pencemaran pada lingkungan.

Bentuk-bentuk lateral cycling sudah ditampung melalui bisnis tradisional maupun modern. Flea market atau pasar loak merupakan bentuk dari lateral cycling. Pasar Klithikan di Yogyakarta merupakan contoh pasar yang menerapkan lateral cycling.

Rantai pembuatan keputusan konsumen menunjukkan bahwa kegiatan akuisisi yang diupayakan untuk mencari produk ditujukan untuk mencari barang yang masih memiliki nilai ekonomi bagus meskipun umur produk sudah lama.

Meskipun sudah usang, produk tetap
diminati selama masih memberikan
manfaat utama dalam pemenuhan
kebutuhan konsumen.

Konsumen dapat bertransaksi dengan melakukan negosisasi atas produk yang dibeli. Akuisisi produk ini juga diwarnai dengan aktivitas sosial, karena antarkonsumen bisa bertemu untuk berkomunikasi mengenai manfaat barang.

Berkaitan dengan disposisi, konsumen yang tidak lagi menggunakan produk, bisa menjualnya di pasar tersebut, dengan demikian, konsumen tidak membuang produk, tetapi bisa dioptimalkan untuk diberikan kepada orang lain agar dimanfaatkan kembali sesuai dengan kebutuhannya.

Pasar loak tersebut merupakan tempat untuk transaksi khususnya untuk masyarakat kelas bawah dan sebagai bentuk kegiatan ekonomi yang sifatnya underground.

Transaksi ini bisa menunjang kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pihak lain dengan baik.

Namun, banyak juga, masyarakat dari kelas menengah atas untuk membeli produk-produk di pasar loak karena adanya dorongan psikologis, misalnya keinginan untuk mendapatkan barang lama karena aspek nostalgia atau mencari koleksi produk lama untuk dijadikan kenang-kenangan atau hobi.

PENAWARAN SECARA ONLINE

Bentuk lateral cycling yang lebih modern adalah penawaran produk bekas secara online atau used product. Penawaran ini berkaitan dengan produk-produk yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya, tetapi ditawarkan melalui online business.

Harga produk yang dijual cenderung lebih murah, tetapi masih memiliki kualitas yang baik. Amazon atau online community lainnya termasuk Kaskus juga menjadi media penawaran produk-produk yang sudah dipakai dan ditujukan kepada orang lain yang membutuhkan.

Perkembangan media sosial juga dijadikan tempat individu untuk menawarkan produk-produk yang dimiliki dan tidak digunakan kembali. Biasanya hal ini akan diawali oleh ritual dari pemilik produk dengan membersihkan produk yang dijual dengan baik, kemudian mengambil gambar produk, dan diunggah melalui media sosial.

Dengan demikian, produk lama bisa tambil baru dan bisa digunakan oleh orang lain. Konsumen yang membelinya cenderung memfokuskan pada aspek biaya yang murah dan mudah untuk mendapatkannya.

Secara tidak langsung, aktivitas konsumen dengan memanfaatkan produk lama untuk digunakan oleh orang lain, merupakan tindakan nyata untuk mendukung sustainability.

Ini juga bisa dikatakan sebagai bentuk kepedulian untuk berbagi dengan orang lain, di samping secara by-product, konsumen akan mendapatkan uang dalamukuran tertentu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kepedulian kita semua untuk memanfaatkan produk yang masih memiliki nilai ekonomis secara relatif agar menghindari konsumsi produk baru secara berlebihan.

Lateral cycling merupakan rantai yang tidak putus untuk dapat memenuhi kebutuhan sembari memberikan perhatian pada lingkungan. Jadi, pemanfaatan sebuah produk akan cenderung bergulir terus-menerus selama masih memenuhi kebutuhan konsumen.

Lateral cycling bisa dimulai dari diri kita dengan melakukan observasi barang yang kita miliki, apakah perlu dibuang sia-sia atau diberikan kepada orang lain untuk dimanfaatkan kembali.

*) Iin Martasari, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina

Tag : iin martasari, universitas paramadina
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top