MEMILIH WARALABA: Faktor Penting Ini Harus Diperhatikan

Apa saja faktor yang memengaruhi bisnis waralaba dan bagaimana potensinya pada masa mendatang? Eva Diah Puspitawati, Associate Consultant International Franchise Business Management (IFBM), mengatakan perkembangan bisnis itu juga tergantung pada daya
Bunga Citra Arum Nursyifani | 16 Juni 2013 08:00 WIB

Apa saja faktor yang memengaruhi bisnis waralaba dan bagaimana potensinya pada masa mendatang? Eva Diah Puspitawati, Associate Consultant International Franchise Business Management (IFBM), mengatakan perkembangan bisnis itu juga tergantung pada daya beli dan perubahan gaya hidup masyarakat.

”Di Indonesia saat ini, apa sih yang tidak bisa dijual? Di daerah-daerah, animo masyarakat untuk terjun ke bisnis waralaba, baik sebagai franchisor maupun franchisee, masih cukup besar,” katanya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengamatan sederhana, Evi menuturkan terdapat enam jenis waralaba yang paling banyak diminati akhir-akhir ini.

Enam jenis bisnis itu adalah makanan dan minuman, pendidikan macam kursus, dan klinik kecantikan. Adapun tiga sektor lainnya adalah minimarket, pelayanan cuci hingga otomotif , yakni bengkel dan pencucian mobil.

Menurut Evi, bisnis tersebut akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan konsumen, sehingga selalu ada peluang untuk inovasi-inovasi baru.

Para calon franchisor bahkan bisa jadi menciptakan pasarnya tersendiri lewat ide semacam jasa pengiriman makanan, yang bekerja sama dengan banyak restoran, atau membuka tempat penitipan anak di area perkantoran.

Sementara itu, Utomo Njoto, konsultan senior waralaba dari FT Consulting, mengatakan keuntungan kotor yang bisa diraih bisa mencapai 60% pada sektor makanan dan minuman, asalkan dapat menekan harga pokok produksi menjadi sekitar 40%.

”Hal ini beda kasusnya pada ritel manufaktur, yang memproduksi barang sendiri. Ini gross margin-nya bisa lebih dari 30%,” papar Utomo.

TERBUKTI SUKSES

Bisnis waralaba dinilai sebagai bisnis yang setengah jadi kepada para franchisee. Ibarat dalam rentang angka 1 sampai 10, para franchisee dapat memulai bisnisnya di angka 6.

Hal ini disebabkan para franchisee tidak perlu memikirkan konsep, mencari pemasok bahan baku, maupun mereknya. Namun, Evi berpendapat, para calon franchisee harus jeli dalam memilih bisnis mana yang akan diterjuni.

”Kalau menurut kaidah waralaba, suatu jenis usaha harus sudah terbukti sukses sebelumnya. Franchisor jangan buru-buru mewaralabakan dan franchisee jangan buru-buru beli,” katanya.

Idealnya, papar Evi, waktu yang dibutuhkan calon franchisee hingga membuka waralaba adalah sekitar 2-3 bulan. Adapun untuk investasi yang lebih besar, urainya, membutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan.

Selain itu, urai Evi, kedua belah pihak perlu saling menemukan kecocokan sebelum bekerja sama. Menurutnya, sebaiknya calon franchisee memiliki perbandingan bisnis serupa.

”Hak franchisee adalah mendapatkan sebuah brand yang sudah terkenal, dengan sistem yang berjalan baik, hingga bimbingan dalam bentuk dukungan dan pelatihan,” tegas Evi.

Tag : waralaba, ifbm
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top