Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manisnya Bisnis Es Krim, dari Froyo sampai Crypsi

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa yang tidak suka es krim? Hampir semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyukai camilan beku nan lembut yang memiliki berbagai varian rasa dan jenis tersebut.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 15 Juli 2013  |  06:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa yang tidak suka es krim? Hampir semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyukai camilan beku nan lembut yang memiliki berbagai varian rasa dan jenis tersebut.

Namun, tidak sedikit penggemar es krim merasa khawatir dengan lemak yang terkandung pada panganan tersebut.

Dari situ, muncullah alternatif es krim rendah lemak dan menyehatkan, diolah dari bahan baku yogurt yang dibekukan menyerupai es krim atau dikenal dengan istilah frozen yogurt (froyo).

Berbeda dengan es krim biasa yang memiliki rasa manis, froyo justru memiliki rasa asam yang berasal dari hasil fermentasi gula susu (laktosa) pada yogurt. Fermentasi tersebut terjadi karena adanya bakteri probiotik yang mengubah laktosa pada susu menjadi asam laktat.

Namun, bakteri baik itu membantu melancarkan pencernaan dan menurunkan kolesterol serta lemak yang tidak terserap oleh tubuh sehingga baik untuk makanan diet. Berbagai manfaat itulah yang membuat masyarakat, terutama kalangan kelas menengah mulai ramai mengkonsumsi froyo karena selain menyehatkan juga memiliki rasa dan tekstur yang lembut.

Seorang pelaku usaha yang pertama kali memperkenalkan bisnis frozen yogurt di tanah air ialah Donny Pramono, Owner PT Berjaya Bersama Sally pemilik outlet Sour Sally, yang kini menguasai 70% hingga 80% market share frozen yogurt di Indonesia.

Dengan adanya brand Sour Sally yang menyasar kelas premium, froyo tidak hanya sekedar produk yang memiliki berbagai kebaikan tetapi juga menjadi gaya hidup atau tren bagi masyarakat, khususnya diperkotaan.

Donny menceritakan keputusannya terjun mengembangkan usaha es krim yogurt ini berawal dari kebiasaannya mengkonsumsi froyo ketika masih mengenyam pendidikan magister marketing di Amerika Serikat.

Melihat belum adanya penjualan froyo di Indonesia, membuat Donny yang memang ingin memiliki bisnis dengan brandnya sendiri, berpikir untuk memperkenalkan jajanan es krim rendah lemak tersebut di Indonesia.

Mulailah pada 2008, dengan bermodal Rp600 juta yang digelontorkan oleh orang tuanya, anak pertama dari tiga bersaudara ini membuka outlet pertamanya di Senayan City dengan membawa brand Sour Sally untuk produknya.

 “Sour itu artinya kecut karena yogurt rasanya kecut, sedangkan Sally itu biasanya dikonotasikan dengan anak kecil yang manis. Jadi kami memakai nama Sour Sally meskipun rasanya kecut tetapi juga ada manisnya di sana. Maka dari itu, karakter yang diangkat ceria dan berwarna karena sesuai target market kami juga yang lebih membidik para remaja,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Adapun untuk cara pembuatannya, Donny mengaku belajar sendiri dari supplier mesin serta mendalami sendiri proses-proses pembuatannya. Pilihan rasanya pun masih original dan green tea, hanya saja dia lebih banyak bermain pada topping dan kemasan yang menarik. Bahan baku yogurt tersebut menurutnya sebagian besar masih di impor di luar negeri.

Untuk lebih memperkenalkan brand Sour Sally kepada masyarakat, Donny gencar berpromosi melalui sosial media, dan berbagai blog, serta komunitas sambil memberikan informasi tentang manfaat dari yogurt itu sendiri.

Di samping itu, lokasi penjualannya di Senayan City sebagai pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi masyarakat kelas menengah ikut mempengaruhi penjualan Sour Sally ketika

“Di bulan ketiga setelah dibuka, mulai semakin ramai karena banyak juga yang mempromosikan dari mulut ke mulut. Apalagi ini produk baru dengan packaging yang juga menarik sehingga pada penasaran, semakin ramai dan mulai booming,” terangnya.

Semakin lama perkambangan bisnisnya pun terus melesat. Hingga kini, Donny telah memiliki 40 outlet premium Sour Sally di Indonesia dan menembus pasar luar negeri dengan membuka 1 outlet di Singapura.

Pengunjungnya pun terus berdatangan, setidaknya dalam sehari masing-masing outlet berhasil menjual ratusan cup atau secara total sejak 2008 hingga kini, Sour Sally berhasil menjual lebih dari 8 juta cup, serta menguasai 70% sampai 80% market share frozen yogurt di Indonesia.

Boomingnya es krim berbahan dasar yogurt tersebut, ikut mendongkrak pasar yogurt di Indonesia yang meningkat 15% dari Rp265,4 miliar pada 2011 menjadi Rp305,3 miliar pada 2012.

“Dari survey yang kami lakukan setelah lima tahun berdiri, konsumen telah teredukasi tentang unsur kebaikan yogurt bagi kesehatan tentang froyo dan merek Sour Sally,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pertumbuhan bisnis es krim yang sangat signifikan berdasarkan riset dari AC Nielsen meningkat 58,7% dari Rp1,33 triliun pada 2011 menjadi Rp2,11 triliun pada 2012 juga menjadi peluang tersendiri.

“Peluang bisnis es krim ini terus meningkat, pasar yogurt pun semakin menarik dan potensial sehingga ikut mendorongkak prospek froyo tapi pemainnya masih sedikit. Apalagi dengan semakin mengertinya masyarakat tentang manfaat yogurt,” tuturnya.

Sementara itu, Tary Hidayat, Pemilik Hi-Win Restomesin yang awalnya hanya menyediakan berbagai kebutuhan froyo dan es krim mulai dari mesin hingga bahan baku akhirnya terjun menjadi pemain yang menjual produk es krim dan froyo.

Hanya saja bedanya, ibu dari tiga anak ini tidak menjual es krim dan froyo tersebut begitu saja tetapi dimodifikasi dengan membuat es krim goreng kriuk crispy yang terinspirasi dari crispy ayam kremes serta berbagai kreasi lainnya.

“Kalau cuma es krim atau froyo biasa sudah banyak pesainnya sehingga mencari cara agar menjadi berbeda. Akhirnya kami bikin es krim goreng kriuk crispy, yang memiliki dua varian es krim atau froyo.”

Rupanya kreasi tersebut cukup menarik minat masyarakat, melalui pemasaran secar online produknya telah terjual hingga ke berbagai kota. Dari penjualan kuliner tersebut dia bisa meraih omzet sekitar Rp7,5 juta hingga Rp9 juta perbulan.

Namun, omzet terbesar tetap berasal dari penjualan mesin dan bahan baku es krim dan froyo yang dia jual. Banyaknya pelaku yang mulai terjun ke bisnis es krim dan froyo membuat penjualannya pun ikut terdongkrak, setidaknya dalam sebulan wanita berusia 43 tahun ini bisa mengantongi omzet hingga Rp100 juta.

“Kami tidak hanya menjual tetapi juga mengajarkan mereka cara pembuatan froyo dan es krim,” tuturnya.

Menurut Tary untuk terjun menjadi pelaku usaha froyo, modal yang dibutuhkan sekitar Rp30 juta di luar tempat usaha. Rinciannya antara lain untuk pembelin mesin frozen yogurt Rp28 juta, serta bahan baku, dimana bahan baku powder untuk froyo yang dia jual sekitar Rp55.000 per pack (1 pack bisa menghasilkan 40 sampai 50 cone).

“Kalau semua serba bagus, dan bisa kreatif mengembangkan bisnis, maka BEP bisa sekitar 7 sampai 8 bulan,” jelasnya.

Namun diakui, sebagai bisnis kuliner tentu ada naik turun penjualan. Oleh karena itulah pelaku usaha harus bisa sekreatif mungkin berinovasi, dan banyak bermain dengan kemasan sehingga dapat tetap menarik pelanggan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

es krim yogurt froyo
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top