Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mencium Aroma Untung Sabun Herbal

Beragam produk perawatan tubuh dengan mudah ditemui di pasaran. Pada umumnya, produk perawatan tubuh itu sarat dengan kandungan bahan kimia. Di sisi lain, masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya gaya hidup natural dengan meminimalisasi serapan kandungan kimia ke dalam tubuh.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 06 Februari 2014  |  05:10 WIB
Produk kecantikan wanita sangat prospektif.  - bisnis.com
Produk kecantikan wanita sangat prospektif. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Beragam produk perawatan tubuh dengan mudah ditemui di pasaran. Pada umumnya, produk perawatan tubuh itu sarat dengan kandungan bahan kimia. Di sisi lain, masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya gaya hidup natural dengan meminimalisasi serapan kandungan kimia ke dalam tubuh.

Para pelaku bisnis pun berlomba-lomba menawarkan produk natural yang aman bagi kesehatan tubuh. Salah satunya adalah sabun herbal.

Berbeda dengan sabun yang umum dijual di pasar, sabun herbal terbuat dari bahan-bahan alami.

Tak hanya berkhasiat menghaluskan kulit, konsumen percaya sabun herbal berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit a.l jerawat, gatal-gatal, alergi, bahkan menghilangkan jamur.

Salah satu pelaku usaha yang mencoba peruntungan di bisnis ini adalah Zubaedah, 36. Ketertarikan Zubaedah untuk memproduksi sabun herbal karena ingin menjalani bisnis perawatan tubuh.

“Sabun itu produk penting yang akan dikonsumsi orang setiap hari. Karena pemain besar sangat banyak, saya harus berpikir untuk membuat produk yang berbeda. Makanya, saya pilih jenis herbal untuk produk saya,” ujar pemilik Sabun Herbal Aneila yang memulai bisnisnya pada 2007 ini.

Sebelum terjun ke bisnis ini, diakui Zubaidah, dia mencari informasi yang terkait dengan pembuatan sabun herbal. Riset serius pun dijalani untuk menghasilkan sabun herbal yang berkualitas.

Bahan baku yang digunakan di antaranya ekstrak buah-buahan, sayuran, minyak kelapa, minyak zaitun, minyak bunga, serta madu.

Kendati menggunakan bahan-bahan alami, Zubaedah mengaku masih tetap menggunakan bahan kimia yaitu sodium hydroxide (NaOH). “Bahan itu digunakan untuk mengeraskan sabun. Namun, kandungannya tidak berbahaya,” katanya.

Zubaedah sadar betul bahwa sebelum memasarkan produknya, dia harus memastikan terlebih dahulu produk tersebut aman dikonsumsi oleh kulit. Untuk mendapat label itu, dia mendaftarkan produknya untuk diuji coba di laboratorium.

Hasilnya, sabun herbal Aneila aman untuk digunakan dan telah terdaftar di Dinas Kesehatan dengan nomor DINKES SPP-IRT 304/33.72/2007.

Pada awalnya, sabun herbal milik Zubaedah itu kemudian dipasarkan di toko milik sendiri. Sayangnya, setelah 6 bulan berjalan, tidak banyak konsumen yang membeli. Melihat hal itu, Zubaedah pun mencoba jalan lain yaitu lewat dunia maya. Dia memanfaatkan media sosial dan toko online www.sabunherbalku.com.

Tak lama bergerilya di dunia maya, dia kebanjiran pesanan. “Penjualan secara online lebih menguntungkan ketimbang toko biasa. Penjualan di dunia maya mencapai 90%.” Melihat tingginya permintaan konsumen, Zubaedah terus berusaha menambah kapasitas produksinya.

Jika awal berproduksi dia hanya sanggup membuat 50—100 sabun herbal per hari, kini dia bisa menghasilkan 2.000 batang sabun dalam 1 hari. Zubaedah kini dibantu 20 orang pekerja. Seiring dengan bertambahnya kapasitas, dia juga menambah variasi sabun herbal Aneila.

Saat ini tersedia 24 jenis sabun herbal yang memiliki khasiat berbeda-beda. Namun demikian, jenis sabun yang paling disukai konsumen a.l. anggur, susu, bengkoang, apel, limau, dan madu.

Zubaedah menjual sabunnya dalam bentuk batangan dengan berat 100 gram. Dia membedakan harga jual yaitu Rp7.500 untuk reseller dan Rp12.000 bagi konsumen ritel. Margin keuntungan yang diambil mencapai 15%—20%. “Saya sengaja tak ambil keuntungan besar untuk menjaring banyak reseller. Biarpun keuntungan tak seberapa yang penting sabun laku cukup banyak,” tambahnya.

Soal peluang bisnis, Zubaedah mengaku pasar sabun herbal sangat potensial. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah konsumen dan agen yang memesan sabun herbal setiap harinya. Oleh karenanya, dia pun tertarik membuat varian produk baru.

“Bisnis kecantikan cukup prospektif. Makanya saya sedang mempersiapkan jenis produk baru yaitu lulur, masker, dan body scrub herbal. Semoga produk ini disukai konsumen seperti sabun herbal.”

BANJIR ORDER

Pelaku usaha lain yang merasakan harumnya bisnis sabun herbal adalah Muhammad Shandy, 20. Shandy merintis bisnis ini dengan lima orang sahabatnya. Setelah bertukar pikiran dan melakukan riset, mereka pun setuju untuk mempro duksi sabun herbal yang diberi nama Hazelia pada 2012.

“Sebelum memutuskan untuk berbisnis, kami mencari lahan yang potensinya besar. Kami melihat ada prospek di bidang produk kecantikan wanita. Agar terlihat berbeda dengan produk di pasaran, kami coba tawarkan sabun herbal,” ungkap pria yang masih berstatus mahasiswa ini.

Gayung bersambut. Tak lama setelah berdiskusi, Shandy dan teman-temannya bertemu seseorang yang paham mengenai pembuatan sabun herbal. Anak-anak muda yang tinggal di Pontianak, Kali man tan ini, lantas nekat menyambangi orang itu di Solo, Jawa Tengah. Se lain belajar, mereka juga mencari perajin untuk mendukung mereka dalam proses produksi.

Untuk proses produksi, menurut Shandy, bahan-bahan yang digunakan adalah material alami. Mereka menggunakan buah-buahan, rempah-rempah, minyak kelapa, minyak zaitun, dan susu sebagai bahan dasar sabun herbal.

“Kami tidak mengunakan bahan pengawet. Itu sebabnya, sabun herbal ini daya tahannya tidak lama. Hanya sekitar 3—4 bulan,” tambahnya. Guna menarik perhatian konsumen, mereka langsung mengeluarkan 21 varian sabun di antara nya anggur, coklat, kopi, limau, sereh, pegagan, apel, bengkoang, strawberry, dan masih banyak lagi.

Hal ini dilakukan karena setiap jenis memiliki manfaat yang berbeda-beda. “Konsumen tinggal pilih jenis sabun mana yang mereka inginkan.”

Meskipun terbilang baru, sambutan konsumen akan produk sabun herbal Hazelia sangat mencengangkan. Pada periode awal, jumlah pesanan konsumen mencapai 15.000 batang sabun per bulan.

Jumlah yang besar ini jelas membuat Shandy dan kawan-kawannya kewalahan. Tak jarang, banyak konsumen yang kecewa karena kualitasnya belum sesuai dan pengiriman barang yang memakan waktu lama.

Namun, hal ini tidak mematahkan semangat mereka. Menurut Shandy, hal ini justru membuat mereka terpacu meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada konsumen. Seiring berjalannya waktu, mereka pun mulai menemukan ritme bisnis sabun herbal. Kini, tim sabun herbal Hazelia bisa memproduksi 20.000 batang sabun per bulan. Untuk memenuhi jumlah ter sebut, mereka dibantu oleh 10 orang karyawan.

Bukan hanya menaikkan kapasitas, mereka juga menambah beberapa varian sabun herbal. “Sekarang kami punya 24 jenis sabun herbal. Produk yang paling laku di antaranya bengkoang, limau, dan anggur.”

Untuk pemasaran, mereka menggunakan dua cara yaitu toko offline dan online. Toko offline terletak di Pontianak. Namun demikian, Shandy tak menampik pemasukan terbesar berasal dari dunia maya.

Perbandingannya sekitar 70: 30. Produk Hezalia tak hanya dijual di Pontianak, tetapi merambah Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Jawa Tengah, dan Bali.

Shandy dan teman-temannya membanderol sabun herbal Rp20.000 untuk konsumen ritel dan Rp15.000—Rp18.000 untuk pembeli partai besar atau reseller. Margin keuntungan yang didapat berkisar antara 30%—50% per batang.

Ketika ditanya soal potensi bisnis, dia mengaku produk kecantikan wanita sangat prospektif. “Konsumen perempuan itu lebih loyal ketimbang laki-laki. Kalau mereka merasakan manfaatnya, mereka tak akan ragu untuk beli lagi. Makanya, kami selalu jaga kualitas pro duk sabun herbal ini. Ke depannya, kita juga ingin menjaga pelayanan agar barang bisa sampai ke konsumen dalam waktu singkat.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sabun Herbal
Editor : Fatkhul-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top